Dari Mitos Yunani Kuno Hingga Navigasi Para Pelaut

Selasa, 21 Oktober 2025 - 22:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Menatap langit malam adalah membaca buku cerita dan peta kompas tertua di dunia. Kenali kisah di balik bintang yang memandu para pelaut kuno. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Menatap langit malam adalah membaca buku cerita dan peta kompas tertua di dunia. Kenali kisah di balik bintang yang memandu para pelaut kuno. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Jauh sebelum ada GPS atau kompas, manusia memiliki peta yang terbentang luas di atas kepala mereka setiap malam: langit yang penuh bintang. Bagi peradaban kuno, titik-titik cahaya ini bukan hanya hiasan. Mereka adalah karakter dalam sebuah drama kosmik, pahlawan dan monster dari mitologi yang abadi. Sekaligus, mereka adalah penunjuk arah yang andal, kompas surgawi yang memandu para pelaut melintasi lautan luas dan para pengembara melintasi gurun yang sunyi.

Menatap langit malam adalah sebuah perjalanan waktu. Kita melihat cahaya bintang yang telah melakukan perjalanan ribuan tahun untuk mencapai mata kita. Di saat yang sama, kita terhubung dengan nenek moyang kita yang melihat pola yang sama dan menenunnya menjadi cerita-cerita yang kaya akan makna. Mari kita kenali beberapa aktor utama dalam teater langit malam ini.

Orion, Sang Pemburu Perkasa

Salah satu rasi bintang paling mudah dikenali adalah Orion. Tiga bintang terang yang berjajar rapi membentuk “Sabuk Orion”, sebuah penanda yang mustahil untuk dilewatkan. Dalam mitologi Yunani, Orion adalah seorang pemburu raksasa yang sombong. Ia membual bahwa ia bisa memburu semua binatang di Bumi. Dewi Bumi, Gaia, yang marah atas kesombongannya, mengirim seekor kalajengking raksasa, Scorpius, untuk membunuhnya. Zeus menempatkan keduanya di langit sebagai rasi bintang, namun di posisi yang berlawanan. Orion terbenam di barat saat Scorpius terbit di timur, membuat mereka tidak akan pernah bertemu lagi di langit.

Baca Juga :  Pemprov DKI Jakarta Siap Bangun 23 Ribu Rumah dan Tingkatkan Sanitasi

Secara praktis, para pelaut kuno menggunakan sabuk Orion sebagai penunjuk arah. Garis imajiner yang ditarik melalui sabuk ini akan menunjuk ke arah bintang Sirius, bintang paling terang di langit malam, dan ke arah rasi bintang Taurus.

Ursa Major, Kisah Tragis Sang Beruang Besar

Di belahan bumi utara, formasi tujuh bintang terang yang kita kenal sebagai Biduk atau Big Dipper adalah bagian dari rasi bintang yang lebih besar, Ursa Major (Beruang Besar). Mitosnya menceritakan tentang Callisto, seorang pengikut Dewi Artemis yang sangat cantik. Zeus jatuh cinta padanya dan dari hubungan mereka lahirlah seorang putra, Arcas. Hera, istri Zeus yang pencemburu, mengubah Callisto menjadi seekor beruang sebagai hukuman. Bertahun-tahun kemudian, Arcas yang telah dewasa bertemu dengan beruang itu saat berburu. Tepat sebelum Arcas membunuh ibunya sendiri tanpa sadar, Zeus turun tangan dan menempatkan keduanya di langit sebagai Ursa Major dan Ursa Minor (Beruang Kecil).

Baca Juga :  Tanpa Afrika, Dunia Tak Bisa Modern: Wang Yi Tutup Tur

Bagi para navigator, Ursa Major sangat vital. Dua bintang di ujung “mangkuk” Biduk akan menunjuk lurus ke arah Polaris, Bintang Utara. Polaris hampir tidak bergerak dari posisinya, menjadikannya patokan sempurna untuk menentukan arah utara.

Crux, Salib Penunjuk Arah Selatan

Bagi mereka yang berada di belahan bumi selatan, Crux atau Salib Selatan adalah penunjuk arah yang paling penting. Tidak seperti utara yang memiliki Polaris, tidak ada bintang terang yang menandai kutub selatan langit. Rasi bintang kecil namun sangat terang ini terdiri dari empat bintang utama yang membentuk pola salib. Para pelaut, termasuk para penjelajah Eropa pertama yang berlayar ke selatan, mengandalkan Crux untuk navigasi. Dengan menarik garis imajiner melalui sumbu panjang salib, mereka dapat memperkirakan lokasi kutub selatan langit dan dengan demikian menentukan arah selatan dengan akurat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Malam ini, cobalah untuk meluangkan waktu sejenak dan menatap ke atas. Langit bukan hanya ruang hampa yang gelap. Ia adalah museum, buku cerita, dan buku panduan navigasi yang telah melayani umat manusia selama ribuan tahun. Setiap bintang memiliki cerita, dan setiap cerita adalah bagian dari perjalanan kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BNN Ungkap 4,1 Juta Penduduk Terpapar, Sekolah Jadi Benteng Anti Narkoba
Bus Transjakarta Lindas Pejalan Kaki di Cilandak, Korban Tewas di TKP
Emak-Emak Bakar Toko Emas di Makassar Pakai Bom Molotov, Sempat Pura-Pura Belanja
Pentagon Siapkan Kapal Induk Kedua Menuju Timur Tengah
Kampung Bahari Digerebek, Polres Jakut Sita 8 Motor Curian dan Sabu 162,89 Gram
Kapolri Hadiri Retret KOKAM Muhammadiyah, Tegaskan Sinergi Jaga Kamtibmas
Wang Yi dan Viktor Orban Pertegas Kemitraan Jangka Panjang
Pesawat Smart Air Ditembaki KKB di Boven Digoel, 2 Pilot Gugur dan 39 Warga Mengungsi

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 19:17 WIB

BNN Ungkap 4,1 Juta Penduduk Terpapar, Sekolah Jadi Benteng Anti Narkoba

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:55 WIB

Bus Transjakarta Lindas Pejalan Kaki di Cilandak, Korban Tewas di TKP

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:10 WIB

Emak-Emak Bakar Toko Emas di Makassar Pakai Bom Molotov, Sempat Pura-Pura Belanja

Kamis, 12 Februari 2026 - 17:04 WIB

Pentagon Siapkan Kapal Induk Kedua Menuju Timur Tengah

Kamis, 12 Februari 2026 - 16:44 WIB

Kampung Bahari Digerebek, Polres Jakut Sita 8 Motor Curian dan Sabu 162,89 Gram

Berita Terbaru

Ilustrasi, Tekanan militer maksimal. Pentagon menyiapkan kapal induk USS George H.W. Bush untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln di Timur Tengah guna menghadapi ancaman Iran jika jalur diplomasi gagal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pentagon Siapkan Kapal Induk Kedua Menuju Timur Tengah

Kamis, 12 Feb 2026 - 17:04 WIB