TEHERAN, POSNEWS.CO.ID โ Proses diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru yang krusial. Kedua negara sepakat untuk melangsungkan putaran kedua perundingan nuklir tidak langsung di Jenewa pada Selasa mendatang.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik, Majid Takht Ravanchi, mengonfirmasi jadwal tersebut dalam wawancara dengan BBC pada hari Minggu. Ia menegaskan bahwa bola kini berada di tangan Amerika Serikat untuk membuktikan keinginan nyata dalam mencapai kesepakatan.
Tawaran Pengenceran Uranium 60 Persen
Sebagai bentuk keseriusan diplomatik, Iran menawarkan untuk mengencerkan cadangan uranium mereka yang telah diperkaya hingga tingkat 60 persen. Langkah ini bertujuan untuk meredakan kekhawatiran internasional mengenai potensi eskalasi menuju senjata nuklir.
Namun demikian, Takht Ravanchi menekankan bahwa tawaran tersebut memiliki syarat mutlak. “Kami siap mendiskusikan masalah nuklir ini jika mereka (AS) siap berbicara mengenai pencabutan sanksi ekonomi,” tegasnya. Menurutnya, pemulihan ekonomi Iran tetap menjadi prioritas utama dalam setiap meja perundingan.
Garis Merah: Isu Rudal dan Kedaulatan Energi
Meskipun menunjukkan fleksibilitas pada aspek nuklir, Teheran tetap memegang teguh “garis merah” mereka pada sektor pertahanan lainnya. Takht Ravanchi secara eksplisit menyatakan bahwa program rudal balistik Iran tidak dapat dinegosiasikan.
Selain itu, ia menutup pintu bagi tuntutan Amerika Serikat mengenai penghentian total pengayaan uranium (zero enrichment) di tanah Iran. “Sejauh menyangkut Teheran, isu ‘zero enrichment’ sudah tidak ada lagi di atas meja,” ujarnya. Iran meyakini bahwa Washington telah menyadari bahwa fokus perundingan harus tetap pada masalah nuklir guna mencapai kesepakatan yang bermartabat bagi kedua pihak.
Peringatan Terhadap Penumpukan Militer AS
Dinamika diplomatik ini berlangsung di tengah ketegangan militer yang meningkat di Asia Barat. Takht Ravanchi melontarkan kritik keras terhadap penguatan pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Ia memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi militer akan memicu perang regional yang traumatis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Semua orang akan menderita, terutama pihak yang memulai agresi tersebut,” kata Takht Ravanchi. Ia memastikan bahwa Iran akan merespons setiap ancaman eksistensial secara proporsional. Walaupun situasi sedang memanas, Iran tetap bertolak ke Jenewa dengan harapan besar. Teheran menilai hasil perundingan di Muscat, Oman, pada 6 Februari lalu telah bergerak ke arah yang positif. Kini, dunia menanti apakah pertemuan di Jenewa mampu melahirkan terobosan nyata bagi stabilitas global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















