NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Di rak supermarket atau kedai kopi kekinian, kita sering melihat label itu: Fair Trade. Bagi konsumen modern, logo ini adalah jaminan moral. Kita rela membayar lebih mahal dengan keyakinan bahwa uang ekstra tersebut akan menyejahterakan petani di Afrika, Asia, atau Amerika Selatan.
Gerakan yang bermula di Eropa pasca-perang ini membawa slogan “Trade Not Aid” (Perdagangan, Bukan Bantuan). Tujuannya mulia: melawan ketimpangan global dengan memberikan harga minimum yang adil bagi produsen kopi, kakao, kapas, hingga emas.
Saat ini, sekitar dua juta petani terlibat dalam sistem ini. Mereka setuju untuk tidak mempekerjakan anak-anak, menjaga lingkungan, dan menyediakan tempat kerja yang aman. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan harga jual yang lebih stabil dan “premi” tambahan untuk pengembangan komunitas.
Namun, di balik citra idealis tersebut, tersimpan realitas ekonomi yang rumit dan terkadang pahit.
Paradoks Kemiskinan dan Biaya Sertifikasi
Ironi terbesar dari sistem ini justru terletak pada “tiket masuk”-nya. Menjadi produsen bersertifikat Fair Trade membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Akibatnya, petani yang benar-benar miskin dan paling membutuhkan bantuan justru tersingkir karena tak mampu membayar biaya sertifikasi. Sistem ini, tanpa sengaja, mengeksklusi mereka yang seharusnya menjadi target utama penyelamatan.
Masalah kedua adalah pasokan yang berlimpah namun permintaan yang terbatas. Diperkirakan hanya 18-37% hasil panen bersertifikat Fair Trade yang benar-benar terjual dengan label tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sisanya? Petani terpaksa menjualnya ke pasar terbuka dengan harga biasa yang lebih rendah. Padahal, mereka telah mengeluarkan biaya ekstra untuk mematuhi standar etika yang ketat. Riset empiris bahkan menunjukkan banyak petani Fair Trade yang tidak pernah merealisasikan keuntungan nyata setelah terpotong biaya operasional.
Uang Ekstra Lari ke Mana?
Kritik paling tajam menyasar mata rantai di negara maju. Konsumen sering kali naif. Mereka membayangkan bahwa harga mahal yang mereka bayar mengalir deras ke desa-desa di Amerika Selatan atau Afrika Barat.
Realitasnya sering kali berbeda. Sebuah studi kasus pada satu jaringan kafe di Inggris mengungkap fakta mengejutkan. Dari kenaikan harga sebesar 18% yang mereka bebankan ke konsumen atas nama “Fair Trade”, hanya 1,6% yang benar-benar sampai ke tangan produsen.
Sisanya? Masuk ke kantong pengepak, peritel, dan biaya pemasaran yang masif di negara maju. Tenaga sukarelawan yang bekerja untuk kampanye Fair Trade sering kali, tanpa sadar, justru memperkaya para perantara ini alih-alih membantu komunitas petani.
Label Palsu dan Skema Pemasaran
Sistem pengawasan yang belum sempurna juga membuka celah penipuan. Karena mematuhi standar itu mahal, beberapa produsen memilih jalan pintas. Estimasi menunjukkan sekitar 12% produk berlabel Fair Trade di pasaran adalah palsu atau salah label.
Kritikus garis keras bahkan menyebut seluruh sistem ini sebagai “skema pemasaran kolosal”. Mereka berpendapat bahwa jika dua juta petani tersebut kembali ke sistem perdagangan arus utama, mereka mungkin bisa mendapatkan harga yang lebih kompetitif tanpa beban biaya sertifikasi.
Meski demikian, gerakan ini telah bertahan selama puluhan tahun dan mendapat pujian di banyak negara berkembang. Fair Trade mungkin bukan sistem yang sempurna, namun ia tetap menjadi salah satu dari sedikit mekanisme yang mencoba menyeimbangkan timbangan perdagangan global yang sering kali berat sebelah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















