Fair Trade: Janji Kesejahteraan Petani atau Sekadar Strategi Pemasaran Raksasa?

Sabtu, 17 Januari 2026 - 09:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kita rela membayar lebih demi label etis pada kopi dan cokelat kita. Namun, investigasi menunjukkan bahwa uang ekstra itu sering kali nyangkut di kantong peritel, bukan di tangan petani miskin. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kita rela membayar lebih demi label etis pada kopi dan cokelat kita. Namun, investigasi menunjukkan bahwa uang ekstra itu sering kali nyangkut di kantong peritel, bukan di tangan petani miskin. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Di rak supermarket atau kedai kopi kekinian, kita sering melihat label itu: Fair Trade. Bagi konsumen modern, logo ini adalah jaminan moral. Kita rela membayar lebih mahal dengan keyakinan bahwa uang ekstra tersebut akan menyejahterakan petani di Afrika, Asia, atau Amerika Selatan.

Gerakan yang bermula di Eropa pasca-perang ini membawa slogan “Trade Not Aid” (Perdagangan, Bukan Bantuan). Tujuannya mulia: melawan ketimpangan global dengan memberikan harga minimum yang adil bagi produsen kopi, kakao, kapas, hingga emas.

Saat ini, sekitar dua juta petani terlibat dalam sistem ini. Mereka setuju untuk tidak mempekerjakan anak-anak, menjaga lingkungan, dan menyediakan tempat kerja yang aman. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan harga jual yang lebih stabil dan “premi” tambahan untuk pengembangan komunitas.

Namun, di balik citra idealis tersebut, tersimpan realitas ekonomi yang rumit dan terkadang pahit.

Paradoks Kemiskinan dan Biaya Sertifikasi

Ironi terbesar dari sistem ini justru terletak pada “tiket masuk”-nya. Menjadi produsen bersertifikat Fair Trade membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Akibatnya, petani yang benar-benar miskin dan paling membutuhkan bantuan justru tersingkir karena tak mampu membayar biaya sertifikasi. Sistem ini, tanpa sengaja, mengeksklusi mereka yang seharusnya menjadi target utama penyelamatan.

Baca Juga :  Polri Ajukan Red Notice Jurist Tan ke Interpol Lyon, Kasus Chromebook Rp3,7 Triliun

Masalah kedua adalah pasokan yang berlimpah namun permintaan yang terbatas. Diperkirakan hanya 18-37% hasil panen bersertifikat Fair Trade yang benar-benar terjual dengan label tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sisanya? Petani terpaksa menjualnya ke pasar terbuka dengan harga biasa yang lebih rendah. Padahal, mereka telah mengeluarkan biaya ekstra untuk mematuhi standar etika yang ketat. Riset empiris bahkan menunjukkan banyak petani Fair Trade yang tidak pernah merealisasikan keuntungan nyata setelah terpotong biaya operasional.

Uang Ekstra Lari ke Mana?

Kritik paling tajam menyasar mata rantai di negara maju. Konsumen sering kali naif. Mereka membayangkan bahwa harga mahal yang mereka bayar mengalir deras ke desa-desa di Amerika Selatan atau Afrika Barat.

Realitasnya sering kali berbeda. Sebuah studi kasus pada satu jaringan kafe di Inggris mengungkap fakta mengejutkan. Dari kenaikan harga sebesar 18% yang mereka bebankan ke konsumen atas nama “Fair Trade”, hanya 1,6% yang benar-benar sampai ke tangan produsen.

Baca Juga :  Perang Dagang Batal Meletus: China dan Uni Eropa Sepakati Soft Landing

Sisanya? Masuk ke kantong pengepak, peritel, dan biaya pemasaran yang masif di negara maju. Tenaga sukarelawan yang bekerja untuk kampanye Fair Trade sering kali, tanpa sadar, justru memperkaya para perantara ini alih-alih membantu komunitas petani.

Label Palsu dan Skema Pemasaran

Sistem pengawasan yang belum sempurna juga membuka celah penipuan. Karena mematuhi standar itu mahal, beberapa produsen memilih jalan pintas. Estimasi menunjukkan sekitar 12% produk berlabel Fair Trade di pasaran adalah palsu atau salah label.

Kritikus garis keras bahkan menyebut seluruh sistem ini sebagai “skema pemasaran kolosal”. Mereka berpendapat bahwa jika dua juta petani tersebut kembali ke sistem perdagangan arus utama, mereka mungkin bisa mendapatkan harga yang lebih kompetitif tanpa beban biaya sertifikasi.

Meski demikian, gerakan ini telah bertahan selama puluhan tahun dan mendapat pujian di banyak negara berkembang. Fair Trade mungkin bukan sistem yang sempurna, namun ia tetap menjadi salah satu dari sedikit mekanisme yang mencoba menyeimbangkan timbangan perdagangan global yang sering kali berat sebelah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional
Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026
Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban
Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?
Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka
Truk Tabrak 6 Mobil di Underpass Ciawi, Tol Jagorawi Sempat Ditutup
TransJabodetabek B51 Cawang–Cikarang: Solusi Kemacetan Jakarta Timur dan Cikarang
Richard Lee Dicekal Polda Metro Jaya, Penyidikan Kasus Produk Kecantikan Berlanjut

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:02 WIB

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:55 WIB

Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:36 WIB

Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:34 WIB

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:14 WIB

Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka

Berita Terbaru

Semua orang menyukai nasi goreng. (Posnews/Ist)

KESEHATAN

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Feb 2026 - 21:02 WIB

Ilustrasi, Meretas batasan biologis. Di tahun 2026, biohacking bukan lagi milik ilmuwan laboratorium, melainkan gaya hidup berbasis data yang diadopsi masyarakat urban untuk mengejar performa puncak dan umur panjang. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:34 WIB