WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirimkan pesan yang sangat berani sekaligus kontroversial terkait ekonomi domestik. Ia secara resmi mengesampingkan kekhawatiran mengenai melonjaknya harga bahan bakar demi memuluskan kampanye militer terhadap Iran.
Dalam wawancara eksklusif dengan Reuters pada Kamis (5/3/2026), Trump menyatakan ketidaktertarikannya pada keluhan masyarakat mengenai biaya pengisian BBM di pompa bensin. “Saya tidak punya kekhawatiran soal itu,” tegas Trump. Menurutnya, prioritas keamanan nasional jauh lebih penting daripada kenaikan harga bensin yang ia sebut “hanya sedikit”.
Pergeseran Nada dan Realitas Pasar
Pernyataan terbaru ini menandai pergeseran nada bicara yang sangat tajam bagi sang presiden. Padahal, hanya sebulan yang lalu dalam pidato kenegaraan, Trump bangga memamerkan penurunan harga energi sebagai prestasinya.
Saat ini, data dari AAA menunjukkan realitas yang berbeda. Harga rata-rata bensin nasional di Amerika Serikat telah melonjak 27 sen sejak pekan lalu menjadi $3,25 per galon. Angka ini merupakan respon langsung dari kenaikan harga minyak global sebesar 16 persen sejak perang udara pecah pada hari Sabtu lalu. Trump tetap bersikeras bahwa biaya tersebut akan turun drastis begitu konflik selesai, yang ia prediksi berlangsung dalam waktu empat hingga lima minggu.
Kepanikan Internal di Gedung Putih
Meskipun Trump tampil tenang, suasana di balik layar Gedung Putih justru penuh ketegangan. Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa Kepala Staf Susie Wiles dan Sekretaris Energi Chris Wright terus berkomunikasi intensif dengan para pimpinan perusahaan minyak raksasa.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengungkapkan bahwa tim keamanan nasional dan energi sedang berupaya keras menyusun langkah-langkah darurat untuk menekan harga. Pasalnya, Susie Wiles secara internal telah memberikan peringatan keras. Ia melabeli kegagalan dalam menangani lonjakan harga BBM ini sebagai potensi “bencana” bagi kemenangan Partai Republik di pemilihan Kongres mendatang. Para pemilih saat ini sudah sangat tidak puas dengan tingginya biaya hidup dan pengawasan ekonomi Trump.
Penolakan Cadangan Minyak dan Strategi “Hormuz”
Trump secara tegas menolak opsi untuk menggunakan Cadangan Minyak Strategis (SPR), stok minyak darurat terbesar di dunia. Ia merasa sangat percaya diri bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka bagi pengiriman minyak internasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Alasannya, Trump mengeklaim angkatan laut Iran sudah hancur dan berada di “dasar laut” akibat gempuran AS-Israel. Sebagai gantinya, administrasi Trump sedang mempertimbangkan beberapa opsi kebijakan lain, antara lain:
- Penangguhan Pajak Bensin Federal: Memberikan libur pajak sementara bagi konsumen.
- Pelonggaran Aturan Lingkungan: Mengizinkan campuran etanol yang lebih tinggi pada bensin musim panas guna meningkatkan ketersediaan stok.
- Pengawalan Militer Tanker: Menjamin keamanan pelayaran melalui asuransi risiko yang didukung pemerintah dan pengawalan kapal perang.
Taruhan pada Perang Singkat
Gedung Putih tampaknya sedang bertaruh besar bahwa penderitaan rakyat Amerika di pompa bensin hanya akan berlangsung singkat. Para penasihat energi telah meyakinkan Trump bahwa guncangan harga awal ini tidak seburuk yang banyak pihak takutkan.
Namun demikian, para pimpinan industri energi merasa skeptis. Tiga eksekutif minyak menyebutkan bahwa menu pilihan kebijakan yang tersedia bagi Gedung Putih saat ini tidak akan banyak mengubah keadaan secara signifikan. Fokus utama dunia internasional kini tertuju pada apakah militer AS benar-benar mampu memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz secepat janji Trump, atau justru membiarkan krisis energi ini melumpuhkan ekonomi global di sisa tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















