Jepang Kembangkan Sistem SHIELD dan Reorganisasi Industri

Sabtu, 25 Juli 2026 - 06:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Langkah taktis pertahanan Pasifik. Jepang mengembangkan sistem pertahanan SHIELD dan mempercepat produksi massal drone militer guna merespons dinamika kawasan. Dok: Istimewa.

Langkah taktis pertahanan Pasifik. Jepang mengembangkan sistem pertahanan SHIELD dan mempercepat produksi massal drone militer guna merespons dinamika kawasan. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perang Rusia dan Ukraina mengubah peta persenjataan modern dunia secara drastis.

Pengadopsian Sistem SHIELD dan Anggaran Pertahanan

Jepang merespons perubahan taktik perang tersebut dengan cepat. Pemerintah merancang jaringan pertahanan pantai canggih bernama SHIELD.

Sistem ini memadukan ribuan teknologi nirawak terintegrasi. Drone akan mencegat kapal perang dan pasukan amfibi musuh.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kementerian Pertahanan mengalokasikan anggaran sebesar 100,1 miliar yen. Dana ini menyokong pembangunan sistem jaringan SHIELD tersebut.

Total anggaran pertahanan Jepang mencapai rekor 9,04 triliun yen. Nilai ini setara dengan 55 miliar dolar AS.

Baca Juga :  Ilusi Kebebasan Gig Economy: Kerja Keras Tanpa Jaring Pengaman

Pelajaran Perang Drone dan Respon Strategis

Para analis militer menganggap perang Ukraina sebagai perang drone utama. Pesawat nirawak murah sukses menghancurkan tank bernilai jutaan dolar.

Konflik tersebut membuktikan arti penting manufaktur dalam negeri. Selain itu, penggunaan kecerdasan buatan semakin mengubah pola pertempuran.

Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi mengunjungi pabrik Prodrone di Nagoya. Koizumi mendesak percepatan pengembangan kapasitas nirawak nasional secara mandiri.

“Jepang wajib memperkuat pertahanan nirawak demi menekan korban jiwa,” tegas Koizumi. Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan teknologi ganda sipil-militer.

Skala Industri dan Tantangan Kapasitas Domestik

Skala kebutuhan perang masa depan menuntut kapasitas produksi raksasa. Amerika Serikat berencana menguasai satu juta drone dalam beberapa tahun.

Baca Juga :  PBB Sebut Suhu Global Berpeluang Lewati Ambang Batas

Sementara itu, Rusia dan Ukraina mengamankan lima hingga tujuh juta drone. Kondisi ini memicu minat Jepang memperluas industri drone lokal.

Pengurus Asosiasi Pengembangan Industri UAS Jepang Manabu Shimamoto memberikan analisis. Shimamoto menilai drone mampu memberi efek gentar kepada lawan.

Presiden Prodrone Shunsuke Toya menyoroti keunggulan produsen skala kecil. Produsen kecil mampu melakukan uji coba desain secara cepat.

China saat ini masih mendominasi pasar drone komersial global. Sebab, pengembang China mengantongi data penerbangan dalam jumlah raksasa.

Namun, Jepang melihat peluang ekspansi pada sektor non-militer. Drone Jepang dapat mendukung misi pembersihan ranjau di Ukraina.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 September 2026 - 06:00 WIB

Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terbaru