Kembalinya Vinyl: Nostalgia Analog yang Mengalahkan Kecanggihan Digital

Jumat, 12 Desember 2025 - 05:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi,
Vinyl menyalip CD! Siapa sangka teknologi jadul ini kembali merajai pasar musik. Simak alasan Gen Z rela beli piringan hitam walau tak punya pemutarnya. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Vinyl menyalip CD! Siapa sangka teknologi jadul ini kembali merajai pasar musik. Simak alasan Gen Z rela beli piringan hitam walau tak punya pemutarnya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Industri musik dunia sedang menyaksikan anomali yang mengejutkan. Di tengah kemudahan layanan streaming seperti Spotify dan Apple Music, sebuah teknologi kuno justru bangkit dari kubur.

Piringan hitam atau vinyl kembali menjadi primadona. Tercatat, data penjualan vinyl di Amerika Serikat dan Inggris berhasil menyalip penjualan CD untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir.

Banyak orang mengira format fisik sudah mati. Namun, grafik penjualan membuktikan sebaliknya. Orang-orang kembali berbondong-bondong ke toko musik, memburu piringan plastik lebar yang ribet itu.

Ritual Sakral Menikmati Karya

Mengapa orang mau repot-repot? Jawabannya terletak pada pengalaman atau experience. Mendengarkan musik digital terasa sangat instan dan cepat berlalu. Kita hanya menekan tombol play lalu melupakannya.

Sebaliknya, memutar vinyl adalah sebuah ritual sakral. Kita harus mengeluarkan piringan dari sampulnya dengan hati-hati. Lantas, kita meletakkannya di atas pemutar (turntable) dan menurunkan jarum secara perlahan.

Proses ini memaksa pendengar untuk duduk diam dan benar-benar menikmati musik. Selain itu, memegang sampul album berukuran besar memberikan kepuasan visual yang tidak bisa kita dapatkan dari layar ponsel kecil. Kita bisa mengagumi karya seni (artwork) dan membaca lirik dengan jelas.

Baca Juga :  Gebrakan Fiskal Takaichi: Penundaan Pajak Pangan

Kehangatan Analog vs Kejernihan Digital

Perdebatan kualitas suara juga menjadi bumbu utama fenomena ini. Kaum puritan audio atau audiophile sering mendewakan suara analog.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka mengklaim vinyl memiliki “kehangatan” (warmth) yang hilang dalam format digital. Pasalnya, rekaman digital sering kali mengalami kompresi data yang memangkas detail suara demi ukuran file yang kecil.

Meskipun suara digital terdengar lebih jernih dan bebas noise, suara analog terasa lebih “hidup” dan “tebal”. Bunyi kertak-kertuk khas piringan hitam justru menjadi sensasi nostalgia yang mahal harganya.

Gen Z: Beli Dulu, Putar Nanti

Menariknya, tren ini tidak didominasi oleh orang tua yang bernostalgia. Generasi Z justru menjadi motor penggerak utama pasar vinyl saat ini. Artis pop seperti Taylor Swift dan Harry Styles merilis album vinyl warna-warni yang laris manis.

Baca Juga :  KPK Periksa Mantan Gubernur Jabar Ridwan Kamil Hari Ini, Kasus Dugaan Korupsi Iklan BJB

Faktanya, survei menunjukkan fenomena unik. Sekitar 50 persen pembeli vinyl ternyata tidak memiliki alat pemutarnya di rumah.

Akibatnya, piringan hitam berubah fungsi. Gen Z membelinya sebagai merchandise atau barang koleksi untuk dipajang di dinding kamar. Bagi mereka, vinyl adalah simbol identitas dan bentuk dukungan nyata kepada musisi idola, lebih dari sekadar alat dengar.

Kerinduan akan Sentuhan Fisik

Pada akhirnya, kebangkitan vinyl menandakan satu hal psikologis. Manusia modern merindukan pengalaman fisik yang nyata.

Dunia kita semakin abstrak dan tersimpan di cloud. Kita membayar langganan musik, tetapi kita tidak benar-benar memilikinya. Oleh karena itu, memiliki benda fisik di tangan memberikan rasa kepemilikan (ownership) yang menenangkan di tengah arus digital yang serba cepat dan tak tersentuh.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diplomasi Beijing-Brussel: China Ajak Belgia Redam Ketegangan Dagang
May Day 2026 di Monas, Buruh Bawa 11 Tuntutan – Prabowo Janjikan Kejutan
Amerika Serikat Kini Jadi Pemasok Utama Naphtha Korea Selatan
Banjir Bogor Hari Ini, Kali Cibeber Meluap – 168 Warga Citeureup Terdampak
Tabrakan KA Bekasi Timur, Polisi Periksa Manajemen Green SM – Kasus Naik Penyidikan
Sayap Tradisi di Langit Delhi: Menjaga Kabootarbaazi
Prakiraan Cuaca Hari Ini, Jabodetabek Diguyur Hujan – Waspada Petir dan Angin Kencang
Sedikitnya 358 Orang Dieksekusi di Bawah Rezim Kim Jong Un

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:11 WIB

Diplomasi Beijing-Brussel: China Ajak Belgia Redam Ketegangan Dagang

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:32 WIB

May Day 2026 di Monas, Buruh Bawa 11 Tuntutan – Prabowo Janjikan Kejutan

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:30 WIB

Amerika Serikat Kini Jadi Pemasok Utama Naphtha Korea Selatan

Jumat, 1 Mei 2026 - 07:55 WIB

Banjir Bogor Hari Ini, Kali Cibeber Meluap – 168 Warga Citeureup Terdampak

Jumat, 1 Mei 2026 - 07:39 WIB

Tabrakan KA Bekasi Timur, Polisi Periksa Manajemen Green SM – Kasus Naik Penyidikan

Berita Terbaru

Adaptasi energi di tengah perang. Korea Selatan mengalihkan ketergantungan impor naphtha dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna mengamankan bahan baku industri petrokimia saat konflik Iran melumpuhkan jalur pasokan tradisional. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

INTERNASIONAL

Amerika Serikat Kini Jadi Pemasok Utama Naphtha Korea Selatan

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:30 WIB