Donald Trump Berharap Kesepakatan di Tengah Ancaman Perang

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembersihan di sayap barat. Pencopotan Jaksa Agung Pam Bondi memicu gelombang ketidakpastian bagi pejabat senior lainnya, saat Presiden Donald Trump berupaya melakukan reposisi politik menjelang pemilihan sela di tengah krisis internasional. Dok: Istimewa.

Pembersihan di sayap barat. Pencopotan Jaksa Agung Pam Bondi memicu gelombang ketidakpastian bagi pejabat senior lainnya, saat Presiden Donald Trump berupaya melakukan reposisi politik menjelang pemilihan sela di tengah krisis internasional. Dok: Istimewa.

FLORIDA, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyuarakan harapan agar Washington dan Teheran segera mencapai kesepakatan diplomatik. Pernyataan ini muncul pada Minggu (1/2/2026) dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida.

Trump merespons peringatan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengenai risiko perang regional jika AS melancarkan serangan. “Semoga kita bisa membuat kesepakatan. Jika tidak, kita akan tahu apakah dia (Khamenei) benar atau tidak,” ujar Trump kepada wartawan. Ia juga menyinggung kehadiran armada kapal perang terkuat AS di perairan dekat Iran sebagai bentuk tekanan.

Araghchi: Iran Terbuka untuk Negosiasi Adil

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan nuklir masih mungkin tercapai. Meski mengakui adanya krisis kepercayaan terhadap Washington, Teheran tetap membuka pintu bagi negosiasi yang “adil dan jujur”.

Baca Juga :  Skandal Epstein: Peter Mandelson Hadapi Penyelidikan Kriminal dan Mundur dari House of Lords

Araghchi menyebut pertukaran pesan tidak langsung melalui negara-negara sahabat telah membuahkan hasil positif. Ia menekankan bahwa substansi perundingan jauh lebih penting daripada format pertemuan. “Kami siap menjamin program nuklir tetap damai. Sebagai imbalannya, kami mengharapkan penghapusan sanksi dan penghormatan terhadap hak pengayaan uranium kami,” jelas Araghchi kepada CNN.

Namun, ia juga memberikan peringatan keras. Araghchi menyatakan Iran siap untuk skenario militer apa pun. Ia memperingatkan bahwa serangan AS akan memicu respons yang jauh lebih dahsyat daripada konflik tahun lalu, yang bisa menjadi bencana bagi pangkalan-pangkalan AS di seluruh kawasan.

Mediasi Regional dan Persiapan Militer

Upaya mediasi regional kini mulai menunjukkan momentum. Turki, Mesir, dan Qatar sedang bekerja keras mengatur pertemuan di Ankara antara utusan khusus presiden AS, Steve Witkoff, dengan pejabat senior Iran. Ketiga negara ini sebelumnya sukses membantu gencatan senjata di Jalur Gaza.

Baca Juga :  Penipuan Rekrutmen Akpol Rp1 Miliar, Abah Jempol Dibekuk di Tol Rangkasbitung

Di sisi lain, koordinasi militer antara sekutu juga meningkat. Kepala militer Israel, Eyal Zamir, melakukan pembicaraan intensif dengan pejabat senior AS di Washington akhir pekan lalu. Fokus pembicaraan tersebut adalah koordinasi taktis dan kemungkinan serangan udara terhadap target di Iran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bob McNally, pendiri Rapidan Energy Group, memprediksi peluang serangan AS terhadap Iran mencapai 75% dalam beberapa minggu ke depan. Situasi ini berakar dari runtuhnya kesepakatan nuklir 2015 dan kegagalan putaran negosiasi sebelumnya pada pertengahan 2025.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polda Riau Bongkar Mafia Solar Subsidi, Lebih 10.000 Liter Disita dari Darat dan Laut
JK Bantah Tuduhan Danai Isu Ijazah Jokowi Rp5 Miliar, Siap Laporkan ke Bareskrim
Polisi Bongkar Kedok Konter HP di Kabupaten Bogor, Jual Tramadol Ilegal
Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi
Pemotor Tewas Terlindas Truk Dinas TNI AD di Kalideres, Sopir Diperiksa
Petani di Bone Tewas Ditikam, Pelaku Ngaku Sakit Hati soal Perselingkuhan
UNESCO Tunjuk Profesor Tiongkok Chen Qun sebagai Asisten Direktur Jenderal
Iran Serang Tanker Minyak Prima Menggunakan Drone di Selat Hormuz

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 20:59 WIB

Polda Riau Bongkar Mafia Solar Subsidi, Lebih 10.000 Liter Disita dari Darat dan Laut

Minggu, 5 April 2026 - 20:40 WIB

JK Bantah Tuduhan Danai Isu Ijazah Jokowi Rp5 Miliar, Siap Laporkan ke Bareskrim

Minggu, 5 April 2026 - 18:44 WIB

Polisi Bongkar Kedok Konter HP di Kabupaten Bogor, Jual Tramadol Ilegal

Minggu, 5 April 2026 - 18:39 WIB

Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi

Minggu, 5 April 2026 - 18:28 WIB

Pemotor Tewas Terlindas Truk Dinas TNI AD di Kalideres, Sopir Diperiksa

Berita Terbaru

Imigrasi sebagai alat tawar. Washington menjajaki kerja sama dengan Republik Demokratik Kongo untuk memproses deportasi migran ilegal, menyatukan isu perbatasan dengan kepentingan strategis mineral kritis di Afrika. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi

Minggu, 5 Apr 2026 - 18:39 WIB