Jepang di Persimpangan: Takaichi Dorong Ekspor Senjata

Selasa, 23 Desember 2025 - 20:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

PM Sanae Takaichi membantah revisi UU Rumah Kekaisaran menghalangi suksesi perempuan, menegaskan tujuannya menjaga jumlah anggota. Dok: Istimewa.

PM Sanae Takaichi membantah revisi UU Rumah Kekaisaran menghalangi suksesi perempuan, menegaskan tujuannya menjaga jumlah anggota. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Jepang sedang mengalami pergeseran tektonik dalam kebijakan keamanannya. Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi, Negeri Sakura mengambil langkah-langkah berani yang menabrak tabu pasca-perang.

Namun, langkah tersebut memicu badai kritik. Sorotan tajam tertuju pada komentar seorang pejabat senior di Kantor Perdana Menteri yang menyarankan agar Jepang “memiliki senjata nuklir”.

Pernyataan ini menantang langsung “Tiga Prinsip Non-Nuklir” yang telah lama Jepang junjung. Seketika, kemarahan meledak di seluruh negeri. Oposisi politik, media, hingga penyintas bom atom mengecam keras gagasan tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tuntutan Pemecatan dan Resolusi Hiroshima

Yoshihiko Noda, pemimpin Partai Demokrat Konstitusional Jepang, mendesak Takaichi untuk memecat pejabat terkait. “Menunjuk seseorang yang menganjurkan persenjataan nuklir ke pos keamanan utama adalah tindakan yang tidak pantas secara fundamental,” tegas Noda.

Kekhawatiran semakin dalam setelah muncul laporan bahwa Takaichi sedang menjajaki revisi Strategi Keamanan Nasional. Kabarnya, revisi ini berpotensi mengubah prinsip larangan senjata nuklir.

Baca Juga :  Polisi Bongkar Tambang Emas Ilegal Tapsel-Madina, Perputaran Uang Rp1,5 M per Hari

Taku Yamazoe dari Partai Komunis Jepang menyebut retorika ini “benar-benar tidak dapat diterima”. Senada dengan itu, Majelis Prefektur Hiroshima dengan suara bulat mengesahkan resolusi yang mendesak pemerintah pusat untuk tetap memegang teguh prinsip non-nuklir demi menghormati korban tragedi 1945.

“Pedagang Kematian”

Di sisi lain, Jepang juga mempercepat pelonggaran pembatasan ekspor senjata. Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi baru saja menghadiri peluncuran fregat kelas Mogami terbaru di Nagasaki.

Koizumi secara terbuka menyatakan niat Jepang untuk “memasarkan kapal-kapal tersebut secara global”. Faktanya, koalisi pemerintah telah sepakat untuk merevisi pedoman transfer peralatan pertahanan, yang secara efektif mencabut larangan ekspor senjata mematikan.

Langkah ini memicu tuduhan pedas. Yamazoe menuduh pemerintahan Takaichi mengubah Jepang menjadi “pedagang kematian” (merchant of death). Menurutnya, negara tidak seharusnya mencari untung dari penjualan senjata dan harus kembali ke identitasnya sebagai negara damai.

Baca Juga :  Trump Perintahkan Pengepungan Minyak Venezuela, Maduro Siap Melawan

Puluhan ribu warga bahkan telah menandatangani petisi menolak deregulasi ekspor senjata mematikan tersebut.

Militerisasi Pulau Barat Daya

Ketegangan juga meningkat di wilayah barat daya. Jepang mengintensifkan penyebaran militer di pulau-pulau yang dekat dengan Taiwan. Koizumi menyebut penguatan pertahanan di sana sebagai hal yang “mendesak” karena lingkungan keamanan yang memburuk.

Rencana penyebaran unit rudal permukaan-ke-udara di Yonaguni dan rudal anti-kapal jarak jauh di Kumamoto terus berjalan cepat. Bahkan, Kementerian Pertahanan baru saja menandatangani sewa tanah untuk unit radar di Pulau Kita-Daito.

Pengamat memperingatkan bahaya tren ini. Bagi mereka, kebangkitan kekuatan sayap kanan dan ekspansi militer mencerminkan pola sejarah lama yang dibenarkan atas nama “krisis kelangsungan hidup nasional”.

Akibatnya, langkah agresif ini mengirimkan sinyal permusuhan ke negara tetangga. Jepang berisiko mengubah pulau-pulau tersebut menjadi landasan peluncuran serangan militer, yang nantinya akan mengundang tindakan balasan yang kuat dan semakin mengguncang perdamaian regional.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Otoritas Bangkok Tetapkan Status Bencana di 50 Distrik
Polisi Afrika Selatan Temukan Jenazah Wanita Ke-10 di Ekurhuleni
Warga Madrid Gelar Demonstrasi Tuntut Reformasi Perumahan
Ledakan Gas Ambrukkan Bangunan di Athena, Tewaskan 6 Orang
Kolombia Ekstradisi Gembong Narkoba Geovany Andres Rojas
Donald Trump Tolak Iran Terkait Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Paus Leo XIV Pimpin Misa Terbuka di Champs-Élysées Paris
Penembakan Massal di Afrika Selatan Menewaskan 27 Orang

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 23:00 WIB

Otoritas Bangkok Tetapkan Status Bencana di 50 Distrik

Minggu, 27 September 2026 - 22:00 WIB

Polisi Afrika Selatan Temukan Jenazah Wanita Ke-10 di Ekurhuleni

Minggu, 27 September 2026 - 21:30 WIB

Warga Madrid Gelar Demonstrasi Tuntut Reformasi Perumahan

Minggu, 27 September 2026 - 21:00 WIB

Ledakan Gas Ambrukkan Bangunan di Athena, Tewaskan 6 Orang

Minggu, 27 September 2026 - 20:30 WIB

Kolombia Ekstradisi Gembong Narkoba Geovany Andres Rojas

Berita Terbaru