SEOUL, POSNEWS.CO.ID – Militer Korea Selatan berpacu dengan waktu guna mentransformasi kekuatan tempurnya menjadi militer berbasis teknologi tinggi. Kementerian Pertahanan mengonfirmasi pencarian pengadaan sekitar 11.000 drone komersial untuk kebutuhan pelatihan pada akhir tahun ini.
Dalam konteks ini, pengadaan massal tersebut merupakan respon pemerintah guna memaksimalkan sistem senjata yang hemat biaya namun memiliki efektivitas tinggi di medan tempur modern. Oleh karena itu, otoritas pertahanan akan membuka tender resmi bagi para produsen mulai pekan ini.
Jadwal Pengadaan dan Prosedur Verifikasi
Pemerintah menetapkan jadwal yang sangat ketat guna memastikan kesiapan operasional pasukan di tahun 2026. Kementerian akan menerima pengajuan proposal dari perusahaan manufaktur pada akhir Mei mendatang.
Selanjutnya, tim ahli akan melakukan serangkaian prosedur verifikasi teknis guna memastikan setiap unit memenuhi standar militer. Sebagai hasilnya, Pemerintah menjadwalkan penandatanganan kontrak final pada bulan Juli. Pemerintah mengharapkan langkah ini mampu mempercepat distribusi alat utama sistem persenjataan (alutsista) taktis ke berbagai pangkalan pelatihan di seluruh negeri.
Visi 500.000 Drone Warrior
Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back menggagas proyek ambisius ini sejak September lalu sebagai bagian dari cetak biru “500.000 Drone Warrior”. Tujuannya adalah melatih seluruh personel wajib militer agar menguasai operasional drone sebagai pendamping infanteri.
Bahkan, Menteri Ahn menekankan bahwa proyek ini memiliki dimensi ganda. “Inisiatif ini tidak hanya memperkuat kemampuan operasi drone militer, tetapi juga mempersiapkan para prajurit untuk bekerja di industri terkait setelah mereka menyelesaikan masa dinas,” tegasnya. Oleh sebab itu, pendidikan drone di barak militer kini menjadi kurikulum wajib yang setara dengan latihan menembak konvensional.
Kemandirian Teknologi dan Dampak Ekonomi
Pilar penting dari kebijakan ini adalah kewajiban penggunaan teknologi lokal. Kementerian Pertahanan mensyaratkan produsen melengkapi drone dengan suku cadang kunci hasil pengembangan teknologi asli Korea Selatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam hal ini, pemerintah mengantisipasi adanya efek domino positif terhadap sektor swasta. Akibatnya, otoritas memprediksi proyek ini akan menjadi inkubator bagi pertumbuhan industri manufaktur drone domestik. “Kami ingin memastikan bahwa anggaran pertahanan juga berfungsi sebagai stimulus bagi inovasi teknologi nasional,” tulis pernyataan resmi kementerian. Secara simultan, langkah ini memperkuat posisi Seoul dalam rantai pasok teknologi keamanan global.
Menuju Dominasi Udara Tingkat Rendah
Keberhasilan proyek “Drone Warrior” akan menentukan seberapa siap Korea Selatan menghadapi ancaman keamanan yang kian dinamis di Semenanjung Korea. Pada akhirnya, integrasi drone dalam skala besar akan mengubah doktrin pertempuran darat secara fundamental.
Dengan demikian, dunia internasional memantau bagaimana Seoul menyeimbangkan antara efisiensi anggaran dengan peningkatan daya tangkal militer melalui alutsista otonom. Di tahun 2026, kedaulatan sebuah bangsa tidak lagi menyandar hanya pada jumlah tentara, melainkan pada kecanggihan teknologi yang mereka operasikan di garis depan pertempuran.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















