WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump bertemu PM Israel Benjamin Netanyahu untuk membahas masalah Iran. Pertemuan tertutup selama dua setengah jam tersebut belum menghasilkan kesepakatan definitif. Hasil diskusi justru menunjukkan adanya perbedaan visi strategis yang tajam antara Washington dan Yerusalem.
Trump lebih memilih untuk tetap menempuh jalur negosiasi dengan Teheran. Ia ingin melihat apakah kedua pihak mampu mencapai kesepakatan diplomatik yang menguntungkan. “Jika memungkinkan, hal itu akan menjadi prioritas kami,” ujar Trump melalui akun media sosialnya. Namun demikian, Trump juga memberikan peringatan keras. Jika diplomasi gagal, AS siap melancarkan aksi militer seperti serangan fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
Tuntutan Rudal dan “Garis Merah” Teheran
Netanyahu mendesak AS agar tidak hanya membatasi program nuklir Iran. Ia menuntut penghancuran total seluruh arsenal rudal balistik milik Teheran. Israel khawatir Washington akan mengejar “kesepakatan sempit” yang mengabaikan ancaman milisi proksi. Oleh karena itu, Netanyahu menegaskan bahwa setiap draf perjanjian wajib menyertakan kebutuhan keamanan Israel.
Di sisi lain, Teheran merespons tekanan tersebut dengan nada menantang. Ali Shamkhani selaku penasihat pemimpin tertinggi menegaskan bahwa kapasitas rudal Iran bersifat non-negosiasial. Bahkan, Iran menyatakan kesiapan untuk bertempur jika AS mengerahkan kapal induk tambahan ke Timur Tengah. Trump sendiri berpendapat bahwa kesepakatan yang baik berarti “tanpa senjata nuklir dan tanpa rudal”. Meski demikian, ia belum merinci mekanisme pemaksaan kebijakan tersebut.
Duka Domestik dan Pesan Persatuan Pezeshkian
Ketegangan internasional ini bertepatan dengan peringatan ke-47 Revolusi 1979 di Iran. Presiden Masoud Pezeshkian mengakui adanya “penyesalan besar” atas tindakan keras aparat terhadap pengunjuk rasa. Walaupun ia menyerukan persatuan nasional, teriakan anti-pemerintah masih bergema dari atap rumah warga di Teheran pada malam hari.
Pezeshkian mengeklaim bahwa pemerintahannya siap mendengarkan aspirasi rakyat. Namun, ia justru mengabaikan desakan kelompok reformis untuk membebaskan para pemimpin yang mendekam di sel isolasi. Ketidakkonsistenan ini memperburuk krisis kepercayaan publik. Selain itu, administrasi Trump berencana memperketat sanksi ekonomi jika negosiasi mendatang menemui jalan buntu.
Gesekan Gaza dan Kontroversi Tepi Barat
Selain masalah Iran, Trump dan Netanyahu turut membahas rencana damai untuk Gaza. Meskipun Trump mengeklaim adanya kemajuan, proses tersebut sebenarnya sedang terhenti. Kebuntuan isu pelucutan senjata Hamas serta jadwal penarikan pasukan Israel menghambat proses tersebut. Pasalnya, terdapat kesenjangan teknis yang besar dalam implementasi di lapangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perselisihan paling tajam muncul terkait kebijakan tanah di Tepi Barat. Kabinet keamanan Netanyahu baru-baru ini mempermudah pemukim Israel untuk membeli tanah di wilayah pendudukan. Langkah ini memicu kecaman internasional dan penolakan keras dari Trump. Trump menganggap aneksasi Tepi Barat dapat merusak prospek pembentukan negara Palestina merdeka. Keretakan ini menunjukkan bahwa keselarasan politik antara Trump dan Netanyahu kini berada pada tingkat yang sangat kritis.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















