MUSCAT, POSNEWS.CO.ID – Perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Muscat berakhir pada Jumat dengan kesepakatan untuk melanjutkan dialog. Pejabat Iran menyebut pertemuan tersebut sebagai “awal yang baik” untuk meredakan krisis regional yang memuncak.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pertemuan berlangsung dalam atmosfer yang positif. Bahkan, ini merupakan dialog pertama kedua pihak sejak serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. “Oleh karena itu, kami akan melakukan konsultasi di Teheran terlebih dahulu sebelum memutuskan waktu putaran berikutnya,” ujar Araghchi.
Trump: “Mereka Sangat Ingin Membuat Kesepakatan”
Presiden Donald Trump menyambut baik hasil pertemuan tersebut. Dari Washington, ia menyatakan bahwa perundingan berjalan sangat baik dan akan berlanjut awal pekan depan. Trump menilai Iran memiliki keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan diplomatik kali ini.
Namun, Trump tetap memberikan peringatan keras kepada Teheran. Ia menegaskan bahwa konsekuensi akan sangat berat jika Iran gagal mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya. Di meja perundingan, delegasi Iran secara terbuka menolak tuntutan “zero enrichment”. Meskipun demikian, kedua pihak mulai fokus mendiskusikan pengenceran (dilution) stok uranium Iran yang ada sebagai titik tengah.
Sinyal Kontradiktif: Sanksi Baru Saat Berunding
Namun, di saat diplomasi menunjukkan kemajuan, Washington justru mengirimkan sinyal yang bertolak belakang. Tak lama setelah pembicaraan berakhir, pemerintah AS mengumumkan sanksi baru yang menargetkan sektor perdagangan minyak Iran.
Departemen Luar Negeri AS menjatuhkan sanksi terhadap 15 entitas, dua individu, dan 14 kapal “armada bayangan” (shadow fleet). Pemerintah AS mengambil langkah ini sebagai bagian dari kampanye tekanan maksimal (maximum pressure) untuk menekan ekspor petrokimia Iran. Sebagai respon, Araghchi menekankan bahwa prasyarat utama dialog yang sukses adalah penghentian ancaman dan tekanan dari pihak AS.
Dukungan Regional dan Harapan PBB
Dunia internasional menyambut hangat dimulainya kembali jalur diplomasi ini. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berharap dialog tersebut mampu mencegah krisis yang lebih luas di Timur Tengah. Selain itu, negara-negara tetangga seperti Arab Saudi, Mesir, Qatar, dan Irak juga menyatakan dukungan penuh mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, menegaskan bahwa solusi diplomatik antara AS dan Iran sangat penting bagi stabilitas kawasan. Senada dengan itu, Mesir menekankan bahwa tidak ada solusi militer untuk masalah ini. Bahkan, para ahli mencatat bahwa meskipun tingkat ketidakpercayaan masih sangat tinggi, ketiadaan pesan permusuhan pasca-negosiasi memberikan jendela peluang bagi perdamaian jangka panjang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















