Rishi Sunak Tegaskan Diri sebagai Warga Inggris Kulit Berwarna

Sabtu, 7 Februari 2026 - 15:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Melawan stigma identitas. Mantan PM Inggris Rishi Sunak menegaskan bahwa menjadi

Melawan stigma identitas. Mantan PM Inggris Rishi Sunak menegaskan bahwa menjadi "English" dan "British Asian" bukanlah hal yang bertentangan, sembari memperingatkan bahaya rasisme di era digital. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Mantan Perdana Menteri Inggris, Rishi Sunak, menegaskan identitas dirinya sebagai sosok yang “British, English, dan British Asian”. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya penggunaan bahasa bermuatan rasial oleh sejumlah tokoh sayap kanan di Inggris.

Sunak, yang mencatatkan sejarah sebagai Perdana Menteri Inggris pertama keturunan Asia, berbicara setelah identitasnya memicu perdebatan luas. Sebelumnya, seorang podcaster mengeklaim bahwa Sunak bukan orang Inggris sejati karena latar belakang agamanya. Namun, Sunak menolak keras pandangan sempit tersebut dalam sebuah diskusi mengenai kohesi komunitas.

Luka Rasisme yang Tidak Terlupakan

Dalam kesaksiannya, pria kelahiran Southampton ini mengenang kembali masa kecilnya yang penuh tantangan. Sunak mengungkapkan bahwa pengalaman rasisme yang ia dan saudara-saudaranya alami tetap membekas kuat dalam ingatannya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Rasisme menyengat dengan cara yang tidak dirasakan oleh hal lain,” ujar Sunak dengan nada emosional. Oleh karena itu, ia memperingatkan masyarakat agar Inggris tidak tergelincir kembali ke masa lalu. Ia tidak ingin mendengar bahasa rasis kembali bergema di jalanan atau melihat televisi memperlakukannya sebagai hal yang lumrah. Meskipun kondisi saat ini sudah jauh lebih baik daripada era 1970-an, ia menegaskan bahwa bangsa tersebut masih harus menuntaskan banyak pekerjaan rumah.

Baca Juga :  Jimly Tegaskan Pengangkatan Kapolri Tetap Lewat Presiden dan Persetujuan DPR

Bahaya “Shock Jockery” di Media Sosial

Sunak juga mengkritik fenomena “shock jockery” atau perilaku mencari perhatian melalui pernyataan yang keterlaluan. Menurutnya, sistem media saat ini cenderung menghargai orang-orang yang menggunakan bahasa provokatif dan bigot demi mendapatkan atensi publik.

“Itu adalah salah satu kekhawatiran saya tentang ekonomi atensi,” jelasnya. Ia menilai pola konsumsi media saat ini justru memperburuk perpecahan di tengah masyarakat. Pernyataan Sunak ini muncul setelah tragedi Southport dan kerusuhan yang terjadi tahun lalu. Kejadian tersebut membuktikan betapa rapuhnya kohesi sosial jika narasi ekstremis dari berbagai kelompok terus memicunya.

Baca Juga :  Mengapa Kita Mudah Percaya Hoaks dan Sulit Memperbaikinya?

Kebanggaan atas Identitas Ganda

Lebih lanjut, Sunak menegaskan bahwa setiap orang bisa memiliki banyak identitas tanpa harus berkonflik satu sama lain. Ia dengan bangga menyebut dirinya sebagai warga Inggris, Hindu Inggris, keturunan Asia, hingga penduduk Yorkshire.

Ia juga menepis anggapan bahwa Inggris adalah negara yang rasis. Sebagai bukti, ia merujuk pada karier politiknya dan kesuksesan Sajid Javid. Bahkan, ia menonjolkan fakta bahwa penerusnya sebagai pemimpin Partai Konservatif adalah seorang wanita kulit hitam yang besar di Nigeria. Sunak mendesak para politisi dan masyarakat untuk tetap fokus pada pesan persatuan dan mengatasi masalah ekonomi daripada terperosok ke dalam politik identitas yang memecah belah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat
Netanyahu Bersumpah Tingkatkan Serangan Saat Gencatan Senjata
AS dan Iran Negosiasikan Akhir Perang di Tengah Krisis
Moskow Ancam Serangan Masif ke Kyiv Jelang Peringatan
Pyongyang Luncurkan Rudal Balistik ke Perairan Barat
Kapal Tanker Jepang Berhasil Tembus Blokade Selat Hormuz
WNA Brunei Tewas di Kebayoran Baru, Polisi Tangkap Sesama Rekannya
Bareskrim Polri Tindak 4 WNA China Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Hutan Papua

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:30 WIB

Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:00 WIB

Netanyahu Bersumpah Tingkatkan Serangan Saat Gencatan Senjata

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:30 WIB

AS dan Iran Negosiasikan Akhir Perang di Tengah Krisis

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:00 WIB

Moskow Ancam Serangan Masif ke Kyiv Jelang Peringatan

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:30 WIB

Pyongyang Luncurkan Rudal Balistik ke Perairan Barat

Berita Terbaru

Ilustrasi, Peringatan dari Takhta Suci. Paus Leo XIV mengeluarkan ensiklik pertamanya,

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:30 WIB

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji untuk meningkatkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon. Langkah ini mengancam perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang tengah berjalan di Doha. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Netanyahu Bersumpah Tingkatkan Serangan Saat Gencatan Senjata

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:00 WIB

Harapan baru di Qatar. Pejabat tinggi Amerika Serikat dan Iran bertemu di Doha untuk membahas proposal perdamaian guna mengakhiri konflik yang melumpuhkan pasokan energi global. Dok: Xinhua.

INTERNASIONAL

AS dan Iran Negosiasikan Akhir Perang di Tengah Krisis

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:30 WIB

Eskalasi di zona pendudukan. Presiden Vladimir Putin memerintahkan militer Rusia menyusun rencana balasan setelah serangan drone Ukraina menghancurkan asrama mahasiswa di Starobilsk, Luhansk, yang menewaskan enam orang. Dok: REUTERS/Pavel Klimov

INTERNASIONAL

Moskow Ancam Serangan Masif ke Kyiv Jelang Peringatan

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:00 WIB

Foto, Kembali unjuk kekuatan. Korea Utara menembakkan sejumlah rudal ke perairan lepas pantai barat pada Selasa, menandai aktivitas militer pertama sejak bulan April dan menegaskan ambisi nuklir Pyongyang di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pyongyang Luncurkan Rudal Balistik ke Perairan Barat

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:30 WIB