RAMALLAH, POSNEWS.CO.ID – Gelombang kekerasan baru melanda wilayah Tepi Barat yang diduduki pada Sabtu malam hingga Minggu. Kelompok pemukim Israel membakar sejumlah bangunan dan kendaraan milik warga Palestina di beberapa desa strategis.
Dalam konteks ini, serangan tersebut merupakan bagian dari rentetan kekerasan yang meningkat sejak perang antara AS-Israel melawan Iran pecah empat pekan lalu. Akibatnya, situasi keamanan di wilayah pendudukan kini berada dalam kondisi yang sangat volatil.
Pembakaran Massal di Fandaqumiya dan Jalud
Saksi mata di desa Fandaqumiya, barat daya Jenin, melaporkan kehadiran sekitar 200 penyerang. Mereka diduga berasal dari pemukiman ilegal Homesh di dekat lokasi kejadian. Hassan Al-Zoubi menceritakan bagaimana rumahnya hancur akibat serangan tersebut. “Mereka membakar rumah di depan mata kami menggunakan bom molotov,” ujar Zoubi kepada AFP.
Selain itu, kerusakan parah juga terjadi di desa Jalud. Para penyerang membakar sebuah pusat kesehatan dan mencoretkan graffiti bahasa Ibrani pada dinding masjid setempat. Kantor berita Palestina, WAFA, mengonfirmasi bahwa serangan-serangan ini mengakibatkan banyak warga menderita luka-luka dan trauma berat.
Bentrokan di Deir al-Hatab dan Korban Jiwa
Lembaga Bulan Sabit Merah melaporkan serangan terpisah di desa Deir al-Hatab, dekat Nablus, pada hari Minggu. Kelompok pemukim melukai sepuluh warga Palestina dalam insiden tersebut. Dalam hal ini, satu orang terkena tembakan peluru tajam di bagian kaki, sementara enam lainnya mengalami luka akibat penganiayaan fisik.
Militer Israel menyatakan telah mengirim pasukan ke beberapa lokasi setelah menerima laporan pembakaran properti oleh warga sipil Israel. Meskipun militer mengecam segala bentuk kekerasan, pihak kepolisian Israel masih menyelidiki apakah insiden tabrakan kendaraan yang menewaskan seorang warga Israel sebelumnya berkaitan dengan tindakan teror atau murni kecelakaan.
Kecaman Internasional dan Tanggung Jawab Pemerintah
Kepresidenan Palestina mengutuk keras aksi yang mereka sebut sebagai “serangan teroris oleh geng kolonialis”. Oleh karena itu, pemerintah Palestina menuntut tanggung jawab penuh dari pemerintah pendudukan Israel atas eskalasi serius ini. Sejak perang regional bermula, enam warga Palestina telah tewas akibat tembakan dalam serangan pemukim di Tepi Barat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Diplomat dari 13 negara Eropa dan Kanada mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Sabtu. Mereka mendesak penghentian segera upaya kekerasan untuk menyita tanah Palestina. Terlebih lagi, data menunjukkan bahwa lebih dari 1.050 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023.
Sejarah Konflik dan Realitas Wilayah Pendudukan
Wilayah Tepi Barat saat ini menjadi rumah bagi tiga juta warga Palestina dan lebih dari 500.000 pemukim Israel. Meskipun hukum internasional menganggap pemukiman tersebut ilegal, jumlah penghuni pemukiman terus bertambah. Konflik ini telah merenggut nyawa sedikitnya 45 warga Israel dalam berbagai serangan dan operasi militer.
Pada akhirnya, meningkatnya kekerasan di Tepi Barat mengancam upaya de-eskalasi di Timur Tengah secara keseluruhan. Dunia internasional kini mewaspadai potensi pecahnya front pertempuran baru jika pemerintah Israel gagal menertibkan aksi main hakim sendiri di wilayah pendudukan tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















