Perang Emu 1932: Saat Militer Australia Kalah Telak Melawan Pasukan Burung

Selasa, 2 Desember 2025 - 06:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pernah dengar tentara kalah lawan burung? Ini bukan fiksi. Simak sejarah konyol

Pernah dengar tentara kalah lawan burung? Ini bukan fiksi. Simak sejarah konyol "The Great Emu War" di Australia tahun 1932. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sejarah militer dunia penuh dengan kisah pertempuran epik antara negara adidaya. Namun, ada satu “perang” aneh yang sering terlupakan dari buku sejarah. Perang ini terjadi di Australia Barat pada akhir tahun 1932.

Lawan yang dihadapi militer Australia bukanlah pasukan invasi asing. Melainkan, musuh mereka adalah kawanan burung Emu yang tak bisa terbang.

Peristiwa ini bermula dari krisis pertanian pasca-Perang Dunia I. Pemerintah memberikan lahan gandum kepada para veteran perang. Sayangnya, 20.000 ekor Emu memutuskan untuk bermigrasi ke wilayah tersebut demi mencari air dan makanan. Seketika, ladang gandum hancur berantakan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Operasi Militer Melawan Unggas

Para petani veteran merasa kewalahan. Mereka meminta bantuan pemerintah dengan cara yang tidak biasa. Mereka tidak meminta subsidi, tetapi meminta senapan mesin.

Menteri Pertahanan saat itu, Sir George Pearce, menyetujui permintaan aneh ini. Lantas, ia mengirim Mayor G.P.W. Meredith dari Artileri Kerajaan Australia.

Baca Juga :  Pemprov DKI Gratiskan Tiket Wisata untuk Lansia, Difabel, dan Pemegang KJP

Mayor Meredith datang dengan persiapan tempur penuh. Ia membawa dua tentara, dua senapan mesin Lewis, dan 10.000 butir amunisi. Tentu saja, media massa meliputnya dengan antusias. Mereka yakin militer akan menang mudah melawan “musuh berbulu” itu.

Strategi Gerilya Burung Emu

Ternyata, prediksi tersebut salah besar. Burung-burung Emu menunjukkan kecerdasan taktis yang mengejutkan. Saat tentara mulai menembak, kawanan burung itu segera memecah diri menjadi kelompok-kelompok kecil.

Mereka berlari ke segala arah dengan kecepatan mencapai 50 kilometer per jam. Akibatnya, tentara kesulitan membidik sasaran yang bergerak acak tersebut. Peluru senapan mesin hanya membuang-buang angin.

Bahkan, Mayor Meredith mengakui ketangguhan lawannya. “Jika kami memiliki divisi militer dengan kemampuan menahan peluru seperti burung-burung ini, kami bisa menghadapi tentara mana pun di dunia,” ujarnya frustrasi.

Kulit dan bulu Emu yang tebal seolah menjadi rompi anti-peluru alami. Sering kali, burung itu tetap berlari kencang meski telah terkena beberapa tembakan.

Baca Juga :  Masa Depan Orde Liberal: Tantangan Populisme dan Kembalinya Politik Identitas

Kekalahan Memalukan

Pertempuran berlangsung selama beberapa minggu. Hasil akhirnya sangat memalukan bagi pihak militer. Tercatat, mereka telah menghabiskan ribuan butir peluru.

Namun, jumlah korban di pihak Emu sangat minim, mungkin hanya beberapa ratus ekor saja. Sebaliknya, moral pasukan manusia hancur lebur. Senapan mesin mereka sering macet di tengah gurun yang panas.

Media lokal dan parlemen mulai mengolok-olok operasi ini. Akhirnya, pemerintah menarik mundur pasukan. Burung Emu memenangkan pertempuran tersebut secara mutlak.

Arogansi Manusia vs Alam

Pada akhirnya, “Perang Emu” menjadi catatan kaki sejarah yang menggelikan. Kisah ini mengajarkan kita tentang arogansi manusia.

Kita sering merasa bisa menaklukkan alam dengan teknologi dan senjata. Padahal, alam memiliki caranya sendiri untuk bertahan hidup. Emu membuktikan bahwa strategi bertahan hidup yang sederhana kadang bisa mengalahkan mesin pembunuh paling canggih sekalipun.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Organisasi Lingkungan Menggugat Pemerintahan Trump Atas
Rusia Menghantam Jembatan Utama di Kyiv Dua Hari
Arab Saudi Merancang Serangan Militer Besar-Besaran
Korea Utara Meluncurkan Rudal Balistik Usai Menolak Permintaan
Identitas Ko-Pilot FlyDubai Terungkap Usai Serang Kapten
Sebuah Mobil Menabrak Kerumunan Warga di Newcastle Australia
Ko-Pilot Mencoba Menjatuhkan Pesawat Rute Dubai Tel Aviv
Amerika Serikat Mengirimkan 9.000 Prajurit dan Kapal Induk Ketiga

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:56 WIB

Organisasi Lingkungan Menggugat Pemerintahan Trump Atas

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Rusia Menghantam Jembatan Utama di Kyiv Dua Hari

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:45 WIB

Arab Saudi Merancang Serangan Militer Besar-Besaran

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Korea Utara Meluncurkan Rudal Balistik Usai Menolak Permintaan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:37 WIB

Identitas Ko-Pilot FlyDubai Terungkap Usai Serang Kapten

Berita Terbaru

Razer meluncurkan keyboard gaming Huntsman V3 Pro Mini 8KHz dengan desain 60%, latensi 0,48 ms, dan switch optik analog Gen-2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Razer Merilis Keyboard Gaming Huntsman V3 Pro Mini

Minggu, 4 Okt 2026 - 15:15 WIB