NUUK, POSNEWS.CO.ID – Klaim kemenangan diplomasi Donald Trump di Arktik tampaknya terlalu dini. Pada hari Jumat (30/1), Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen memberikan klarifikasi tegas yang mendinginkan narasi Washington.
Dalam wawancara dengan Greenlandic Broadcasting Corporation, Nielsen menyatakan bahwa “belum ada kesepakatan” yang tercapai mengenai status Greenland.
Pernyataan ini membantah langsung unggahan Presiden AS Donald Trump di Truth Social pekan lalu. Saat itu, Trump sesumbar bahwa pembicaraannya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte telah menghasilkan “kerangka kesepakatan masa depan” terkait Greenland dan wilayah Arktik yang lebih luas.
“Pemerintah sedang mencari klarifikasi melalui saluran yang tepat,” ujar Nielsen. Ia mengakui bahwa situasi saat ini masih “menantang” karena Trump terus menunjukkan minat agresif untuk mengambil alih kendali atas wilayah otonom tersebut.
Strategi Bertahan: Merapat ke Eropa
Menghadapi tekanan berat dari Amerika Serikat, Nielsen tidak tinggal diam. Ia memilih strategi penguatan aliansi dengan mitra tradisional di seberang Atlantik.
Nielsen menekankan pentingnya mempererat kerja sama dengan mitra dari NATO dan Uni Eropa.
“Kami akan mengambil langkah demi langkah untuk memperkuat kerja sama di bidang bisnis, budaya, pendidikan, dan bidang lainnya,” jelasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah konkret telah ia ambil melalui kunjungan diplomatik baru-baru ini ke Jerman dan Prancis. Nielsen mengungkapkan bahwa kedua kekuatan besar Eropa tersebut telah menegaskan kembali dukungan mereka untuk Greenland dalam berbagai cara. Dukungan ini menjadi benteng politik penting bagi Nuuk untuk menolak ambisi akuisisi sepihak dari Washington.
Kedaulatan Harga Mati
Greenland, pulau terbesar di dunia, adalah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark. Meskipun Kopenhagen memegang kendali atas pertahanan dan kebijakan luar negeri, rakyat Greenland memiliki hak penentuan nasib sendiri yang luas.
Sejak kembali menjabat pada tahun 2025, Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk “memperoleh” Greenland. Namun, langkah tersebut secara konsisten ditolak oleh Eropa dan pemimpin lokal yang memandang kedaulatan bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















