Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Meretas batasan biologis. Di tahun 2026, biohacking bukan lagi milik ilmuwan laboratorium, melainkan gaya hidup berbasis data yang diadopsi masyarakat urban untuk mengejar performa puncak dan umur panjang. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Meretas batasan biologis. Di tahun 2026, biohacking bukan lagi milik ilmuwan laboratorium, melainkan gaya hidup berbasis data yang diadopsi masyarakat urban untuk mengejar performa puncak dan umur panjang. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda membayangkan bisa memantau kadar glukosa, kualitas tidur, hingga tingkat stres Anda setiap menit melalui jam tangan? Di tahun 2026, hal ini bukan lagi fiksi ilmiah. Selamat datang di era biohacking, sebuah gerakan di mana individu menggunakan sains, teknologi, dan modifikasi gaya hidup untuk “meretas” sistem biologis mereka sendiri.

Peningkatan minat terhadap longevity atau panjang umur telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap penuaan. Penuaan kini tidak lagi dipandang sebagai takdir yang tak terelakkan, melainkan sebuah proses biologis yang bisa diperlambat, atau bahkan “dioptimalkan”.

Apa Itu Biohacking? Modifikasi Berbasis Data

Pada intinya, biohacking adalah praktik mengubah lingkungan internal dan eksternal Anda untuk mendapatkan kendali penuh atas biologi tubuh. Tujuannya beragam, mulai dari meningkatkan fokus mental hingga memperpanjang masa hidup sehat (healthspan).

Praktik ini mencakup spektrum yang luas, antara lain:

  • Nutrigenomik: Menyesuaikan diet berdasarkan respon genetik unik tubuh.
  • Diet Intermiten: Mengatur jendela makan untuk memicu autofagi (proses pembersihan sel rusak).
  • Nootropics: Penggunaan “suplemen pintar” untuk meningkatkan fungsi kognitif dan daya ingat.
  • Paparan Suhu Ekstrem: Seperti mandi air es (cold plunge) atau sauna untuk meningkatkan ketahanan seluler.
Baca Juga :  Kehidupan Sehari-hari Romawi Kuno: Kemewahan Kota vs Derita Desa di Puncak Kejayaan

Peran Krusial Teknologi Wearable 2026

Kesuksesan biohacking modern sangat bergantung pada teknologi pendukung. Di tahun 2026, perangkat wearable telah berevolusi dari sekadar penghitung langkah menjadi laboratorium mini di pergelangan tangan. Sensor biometrik kini mampu melacak variabilitas detak jantung (HRV), saturasi oksigen, hingga level hidrasi secara presisi.

Sistem AI yang terintegrasi dalam perangkat ini akan menganalisis data biologis secara real-time. Jika data menunjukkan tubuh Anda sedang dalam kondisi peradangan tinggi, aplikasi akan menyarankan perubahan menu makan atau durasi istirahat yang spesifik untuk hari itu. Pendekatan berbasis data inilah yang membedakan biohacking dengan gaya hidup sehat tradisional yang bersifat umum.

Baca Juga :  Kadal hingga Tokek, Masa Depan Teknologi Ada di Hutan

Risiko dan Dilema Etika: Di Mana Batasannya?

Meski menawarkan potensi luar biasa, tren ini tidak luput dari kritik medis. Para ahli memperingatkan bahwa “lebih banyak data tidak selalu berarti lebih sehat”. Terdapat risiko obsesi berlebihan terhadap angka biologis yang justru memicu kecemasan baru.

Dr. Sarah Janssen, seorang pakar integratif medis, menekankan pentingnya batasan. “Kita harus membedakan antara optimasi tubuh dengan tindakan yang membahayakan. Mengonsumsi suplemen dosis tinggi tanpa pengawasan atau melakukan prosedur eksperimental sendiri tanpa uji klinis yang jelas adalah tindakan berisiko tinggi,” ujarnya. Selain itu, muncul perdebatan etika mengenai kesenjangan akses; apakah umur panjang hanya akan menjadi komoditas bagi mereka yang mampu membeli teknologi mahal?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional
Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026
Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban
Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka
Truk Tabrak 6 Mobil di Underpass Ciawi, Tol Jagorawi Sempat Ditutup
TransJabodetabek B51 Cawang–Cikarang: Solusi Kemacetan Jakarta Timur dan Cikarang
Richard Lee Dicekal Polda Metro Jaya, Penyidikan Kasus Produk Kecantikan Berlanjut
Polisi Gagalkan Peredaran 3.000 Butir Ekstasi di Jakarta Barat, 2 Kurir Diciduk

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:02 WIB

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:55 WIB

Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:36 WIB

Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:34 WIB

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:14 WIB

Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka

Berita Terbaru

Semua orang menyukai nasi goreng. (Posnews/Ist)

KESEHATAN

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Feb 2026 - 21:02 WIB

Ilustrasi, Meretas batasan biologis. Di tahun 2026, biohacking bukan lagi milik ilmuwan laboratorium, melainkan gaya hidup berbasis data yang diadopsi masyarakat urban untuk mengejar performa puncak dan umur panjang. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:34 WIB