Mandat Kekuatan Militer: Bahrain Ajukan Resolusi PBB untuk Amankan Selat Hormuz

Selasa, 24 Maret 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Diplomasi di Markas Besar PBB memasuki fase yang sangat tegang pada hari Senin. Bahrain mengajukan rancangan resolusi Dewan Keamanan yang mencakup bahasa diplomatik “segala cara yang diperlukan” guna menjamin keamanan navigasi di sekitar Selat Hormuz.

Dalam konteks ini, klausul tersebut merupakan sinyal jelas bagi izin penggunaan kekuatan militer terhadap pihak yang menghambat pelayaran. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran yang kian memuncak di kawasan Teluk mengenai ancaman Iran terhadap urat nadi ekonomi dunia.

Upaya Pembukaan Jalur Energi Global

Selat Hormuz merupakan titik sumbat strategis yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun, aktivitas pengiriman saat ini hampir terhenti sepenuhnya setelah Iran menyerang sejumlah kapal dalam konfliknya melawan Amerika Serikat dan Israel. Oleh karena itu, resolusi ini menyebut tindakan Iran sebagai ancaman nyata bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Lebih lanjut, draf teks tersebut memberikan wewenang kepada negara-negara, baik secara mandiri maupun melalui koalisi angkatan laut sukarela, untuk bertindak tegas. Bahkan, mandat ini mencakup izin operasional hingga ke dalam wilayah perairan teritorial negara-negara pesisir guna mencegah gangguan navigasi internasional.

Bayang-Bayang Veto Rusia dan China

Meskipun Amerika Serikat mendukung penuh inisiatif Bahrain, para diplomat skeptis terhadap peluang keberhasilannya. Sebab, Rusia dan China kemungkinan besar akan menggunakan hak veto mereka untuk melindungi kepentingan strategis Iran. Sebagai hasilnya, para pengamat memprediksi Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara tersebut akan kembali menghadapi kebuntuan suara.

Meskipun demikian, berbagai laporan menyebutkan bahwa Prancis sedang mengerjakan draf alternatif yang lebih lunak. Perancis mencari mandat PBB yang fokus pada pengawasan navigasi setelah situasi lapangan mulai mereda. Perbedaan pendekatan di antara anggota tetap Dewan Keamanan ini mempertegas retaknya kesatuan komunitas internasional dalam menangani krisis energi global tahun 2026.

Baca Juga :  Konflik Iran-Israel Lumpuhkan Penerbangan Global di Timur Tengah

Mobilisasi Militer AS: 2.500 Marinir Siap Tempur

Di saat perdebatan hukum berlangsung di New York, kekuatan fisik di lapangan terus bertambah. Tiga pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi pengerahan 2.500 personel Marinir bersama kapal serbu amfibi USS Boxer menuju kawasan Teluk. Selain itu, armada kapal perang pendamping juga mulai memasuki posisi strategis di Laut Arab.

Secara simultan, militer AS sedang mengkaji target potensial yang mencakup garis pantai Iran hingga pusat ekspor minyak di Pulau Kharg. Bahrain menempatkan resolusi ini di bawah Bab Tujuh Piagam PBB guna memberikan legalitas bagi Washington untuk meluncurkan serangan fisik jika diplomat gagal mencapai titik temu. Pada akhirnya, dunia kini menanti apakah hukum internasional mampu memberikan solusi atau justru menjadi jembatan menuju konfrontasi militer skala penuh di Timur Tengah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu
Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus
Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle
Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang
Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:00 WIB

Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:30 WIB

Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:51 WIB

Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang

Berita Terbaru

Langkah baru pasar monitor OLED. Philips merilis Evnia 32M2N6901A yang memadukan panel 4K QD-OLED 165Hz dengan harga kompetitif. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Philips Resmi Meluncurkan Monitor Evnia 32M2N6901A

Minggu, 26 Jul 2026 - 22:30 WIB