JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Setiap dua tahun, dunia menanti dengan penuh antusias saat seorang pelari memasuki arena untuk menyalakan kuali Olimpiade. Momen ikonik ini menandai berakhirnya perjalanan panjang obor yang membawa pesan perdamaian lintas benua.
Tradisi api ini berakar kuat pada mitologi Yunani kuno. Masyarakat Yunani sangat menghormati kekuatan api karena meyakini bahwa dewa Prometheus mencurinya dari Zeus untuk diberikan kepada manusia. Oleh karena itu, sejak Olimpiade pertama pada tahun 776 SM, api yang menyala terus menjadi fitur tetap guna menghormati para dewa.
Perjalanan Estafet: Dari Yunani ke Seluruh Dunia
Penyelenggara menghidupkan kembali tradisi api pada Olimpiade Amsterdam 1928, namun saat itu belum ada kegiatan estafet obor. Estafet obor pertama baru terlaksana pada Olimpiade Musim Panas Berlin 1936.
Selanjutnya, tradisi ini merambah ke Olimpiade Musim Dingin pada tahun 1952 di Norwegia. Meskipun begitu, sejak Olimpiade Innsbruck 1964, seluruh upacara penyalaan api secara konsisten bermula di Olympia, Yunani. Prosesi ini kemudian berlanjut dengan estafet menuju stadion tuan rumah sebagai simbol persatuan global.
Estetika dan Produksi Massal Obor
Perancangan obor merupakan proses rumit yang membutuhkan waktu satu hingga dua tahun. Tim desainer harus menyerahkan proposal kepada Komite Olimpiade guna menciptakan alat yang indah sekaligus fungsional.
Tampilan obor modern sebenarnya berawal dari tangan John Hench, seorang seniman Disney yang merancang obor Olimpiade Musim Dingin 1960. Selain itu, produksi obor bukan hanya tentang satu unit saja. Tim teknis harus memproduksi antara 10.000 hingga 15.000 obor guna mengakomodasi ribuan pelari dalam setiap leg estafet. Alhasil, setiap pelari mendapatkan kesempatan unik untuk memiliki obor yang mereka bawa setelah tugasnya selesai.
Revolusi Bahan Bakar: Menghindari Bahaya Fisik
Obor pertama pada tahun 1936 menggunakan batang baja tipis dengan prasasti dedikasi bagi para pelari. Namun demikian, tantangan terberat adalah memastikan api tetap menyala di tengah hujan, salju, dan angin kencang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada masa awal, obor menggunakan bahan bakar yang tidak efisien dan cenderung berbahaya, mulai dari minyak zaitun hingga bubuk mesiu. Bahkan, pada tahun 1956, percikan magnesium yang terbakar sempat jatuh dan melukai lengan pelari terakhir. Oleh sebab itu, teknologi gas cair mulai rilis pada Olimpiade Munich 1972. Bahan bakar ini tersimpan dalam tangki aluminium ringan dengan tekanan tinggi, namun keluar dalam bentuk gas yang aman untuk dibakar.
Sistem Pembakaran Ganda: Teknologi Anti-Padam
Inovasi teknis mencapai puncaknya pada Olimpiade Atlanta 1996 dan Sydney 2000. Para insinyur mengadopsi sistem burner ganda guna menjaga stabilitas nyala api.
Sistem ini terdiri dari dua jenis api:
- Api Eksternal: Berwarna oranye terang dan besar agar mudah petugas lihat dari kejauhan. Sayangnya, api ini cenderung tidak stabil saat terkena angin kencang.
- Api Internal: Menghasilkan api biru yang sangat panas namun terlindungi di bagian dalam obor. Api ini berfungsi sebagai pilot light yang secara otomatis menyalakan kembali api eksternal jika padam akibat cuaca buruk.
Dengan demikian, teknologi ini menjamin api Olimpiade tetap berkobar selama 15 menit perjalanan setiap pelari. Pada Olimpiade Salt Lake City 2002, desainer bahkan menggunakan material kaca guna menyimbolkan kemurnian es dan musim dingin. Perpaduan antara seni tembaga dan perak tersebut mencerminkan tema “Fire and Ice” secara sempurna, membuktikan bahwa obor Olimpiade adalah mahakarya teknik yang terus berevolusi seiring zaman.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















