JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Manusia kini hidup lebih lama dan, di beberapa tempat, lebih sehat. Faktanya, peningkatan harapan hidup ini adalah salah satu pencapaian terbesar abad lalu. Namun, di balik kesuksesan tersebut, tersimpan tantangan monumental yang harus segera kita hadapi.
Populasi yang menua (societal aging) bukan sekadar angka statistik. Fenomena ini berpotensi mengguncang pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan keluarga, hingga hubungan internasional.
Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), The Global Burden of Disease, memprediksi lonjakan besar penyakit kronis terkait usia di seluruh dunia. Oleh karena itu, layanan kesehatan di semua negara menghadapi ujian berat untuk beradaptasi.
Penurunan Kesuburan yang Mengejutkan
Penyebab utama penuaan populasi adalah penurunan angka kesuburan dan peningkatan kesehatan. Di negara maju, penurunan ini sudah terjadi sejak awal 1900-an.
Akibatnya, tingkat kelahiran saat ini berada di bawah angka penggantian populasi (replacement rate), yakni dua kelahiran hidup per wanita.
Mengejutkannya, tren serupa juga terjadi di negara berkembang. Dalam 20 tahun terakhir, laju penurunan kesuburan di sana sangat cepat. Tercatat, pada 2006, 44 negara kurang berkembang sudah memiliki tingkat kesuburan di bawah angka penggantian.
Krisis Dana Pensiun
Isu sentral bagi pembuat kebijakan adalah dana pensiun. Selama beberapa dekade, negara maju justru menurunkan usia pensiun resmi. Padahal, harapan hidup semakin panjang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun tren tenaga kerja lansia meningkat, kesenjangan antara usia pensiun resmi dan aktual masih lebar. Kini, masalah ini juga mulai menghantui negara berkembang yang menua dengan cepat.
Banyak negara mulai mengambil langkah reformasi yang tidak populer namun perlu. Salah satunya adalah menaikkan usia pensiun agar pekerja bisa menerima manfaat penuh.
Selain itu, strategi lain mencakup peningkatan kontribusi pekerja, insentif pajak untuk tabungan pensiun pribadi, dan rencana pensiun kerja tambahan.
Fenomena “Keluarga Kacang Polong”
Peningkatan umur panjang juga mengubah struktur keluarga. Di negara maju, muncul fenomena “keluarga kacang polong” (beanpole family).
Struktur ini memanjang secara vertikal. Artinya, jumlah generasi yang hidup bersamaan bertambah (kakek buyut masih hidup), tetapi jumlah orang dalam setiap generasi (saudara kandung/sepupu) berkurang.
Konsekuensinya, lebih banyak anak yang akan mengenal kakek-nenek bahkan buyut mereka. Ini adalah preseden sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana mayoritas orang paruh baya masih memiliki orang tua yang hidup.
Beban Penyakit Tidak Menular
WHO memperkirakan pergeseran beban penyakit global. Penyakit tidak menular (non-communicable diseases/NCDs) seperti jantung dan diabetes akan menjadi pembunuh utama, mengalahkan penyakit menular.
Di negara berpendapatan tinggi, NCDs menyumbang 85 persen beban penyakit. Yang mengejutkan, di negara berpendapatan rendah dan menengah, angkanya sudah mencapai 44 persen.
Proyeksi tahun 2030 menunjukkan beban NCDs di negara berkembang akan mencapai 54 persen. Masalahnya, negara-negara ini masih harus berjuang melawan penyakit menular yang belum tuntas. Ini adalah beban ganda yang berat.
Aliran Modal Lintas Batas
Penuaan populasi juga memicu pergerakan modal global. Studi memprediksi surplus modal akan mengalir dari Eropa dan Amerika Utara ke pasar negara berkembang di Asia dan Amerika Latin.
Alasannya, wilayah tersebut memiliki populasi yang lebih muda dan tenaga kerja yang lebih murah. Namun, dalam 20 tahun ke depan, arah aliran modal mungkin akan berbalik saat generasi baby boom di Barat pensiun.
Pada akhirnya, dunia perlu meningkatkan kesadaran akan isu ini. Persiapan finansial untuk hidup yang lebih lama dan pengurangan disabilitas lansia harus menjadi prioritas nasional dan global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















