Menua Bersama: Tantangan Global Populasi Lansia

Rabu, 31 Desember 2025 - 10:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Menua dengan tangguh. Studi selama 14 tahun menunjukkan bahwa lansia di era modern hidup lebih mandiri dan terhindar dari penyakit kronis hingga usia yang lebih tua. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Menua dengan tangguh. Studi selama 14 tahun menunjukkan bahwa lansia di era modern hidup lebih mandiri dan terhindar dari penyakit kronis hingga usia yang lebih tua. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Manusia kini hidup lebih lama dan, di beberapa tempat, lebih sehat. Faktanya, peningkatan harapan hidup ini adalah salah satu pencapaian terbesar abad lalu. Namun, di balik kesuksesan tersebut, tersimpan tantangan monumental yang harus segera kita hadapi.

Populasi yang menua (societal aging) bukan sekadar angka statistik. Fenomena ini berpotensi mengguncang pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan keluarga, hingga hubungan internasional.

Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), The Global Burden of Disease, memprediksi lonjakan besar penyakit kronis terkait usia di seluruh dunia. Oleh karena itu, layanan kesehatan di semua negara menghadapi ujian berat untuk beradaptasi.

Penurunan Kesuburan yang Mengejutkan

Penyebab utama penuaan populasi adalah penurunan angka kesuburan dan peningkatan kesehatan. Di negara maju, penurunan ini sudah terjadi sejak awal 1900-an.

Akibatnya, tingkat kelahiran saat ini berada di bawah angka penggantian populasi (replacement rate), yakni dua kelahiran hidup per wanita.

Mengejutkannya, tren serupa juga terjadi di negara berkembang. Dalam 20 tahun terakhir, laju penurunan kesuburan di sana sangat cepat. Tercatat, pada 2006, 44 negara kurang berkembang sudah memiliki tingkat kesuburan di bawah angka penggantian.

Krisis Dana Pensiun

Isu sentral bagi pembuat kebijakan adalah dana pensiun. Selama beberapa dekade, negara maju justru menurunkan usia pensiun resmi. Padahal, harapan hidup semakin panjang.

Baca Juga :  Mengapa Merah Berarti Indah bagi Jiwa Rusia

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun tren tenaga kerja lansia meningkat, kesenjangan antara usia pensiun resmi dan aktual masih lebar. Kini, masalah ini juga mulai menghantui negara berkembang yang menua dengan cepat.

Banyak negara mulai mengambil langkah reformasi yang tidak populer namun perlu. Salah satunya adalah menaikkan usia pensiun agar pekerja bisa menerima manfaat penuh.

Selain itu, strategi lain mencakup peningkatan kontribusi pekerja, insentif pajak untuk tabungan pensiun pribadi, dan rencana pensiun kerja tambahan.

Fenomena “Keluarga Kacang Polong”

Peningkatan umur panjang juga mengubah struktur keluarga. Di negara maju, muncul fenomena “keluarga kacang polong” (beanpole family).

Struktur ini memanjang secara vertikal. Artinya, jumlah generasi yang hidup bersamaan bertambah (kakek buyut masih hidup), tetapi jumlah orang dalam setiap generasi (saudara kandung/sepupu) berkurang.

Konsekuensinya, lebih banyak anak yang akan mengenal kakek-nenek bahkan buyut mereka. Ini adalah preseden sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana mayoritas orang paruh baya masih memiliki orang tua yang hidup.

Baca Juga :  Trump Konfirmasi Iran Mulai Bicara, Tapi Rahasiakan Rencana

Beban Penyakit Tidak Menular

WHO memperkirakan pergeseran beban penyakit global. Penyakit tidak menular (non-communicable diseases/NCDs) seperti jantung dan diabetes akan menjadi pembunuh utama, mengalahkan penyakit menular.

Di negara berpendapatan tinggi, NCDs menyumbang 85 persen beban penyakit. Yang mengejutkan, di negara berpendapatan rendah dan menengah, angkanya sudah mencapai 44 persen.

Proyeksi tahun 2030 menunjukkan beban NCDs di negara berkembang akan mencapai 54 persen. Masalahnya, negara-negara ini masih harus berjuang melawan penyakit menular yang belum tuntas. Ini adalah beban ganda yang berat.

Aliran Modal Lintas Batas

Penuaan populasi juga memicu pergerakan modal global. Studi memprediksi surplus modal akan mengalir dari Eropa dan Amerika Utara ke pasar negara berkembang di Asia dan Amerika Latin.

Alasannya, wilayah tersebut memiliki populasi yang lebih muda dan tenaga kerja yang lebih murah. Namun, dalam 20 tahun ke depan, arah aliran modal mungkin akan berbalik saat generasi baby boom di Barat pensiun.

Pada akhirnya, dunia perlu meningkatkan kesadaran akan isu ini. Persiapan finansial untuk hidup yang lebih lama dan pengurangan disabilitas lansia harus menjadi prioritas nasional dan global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pesawat Smart Air Ditembaki KKB di Boven Digoel, 2 Pilot Gugur dan 39 Warga Mengungsi
Guru SD di Jember Diduga Telanjangi 22 Murid karena Uang Rp75 Ribu Hilang
Ojol Dipukuli di Citayam Depok Gara-Gara Klakson, Wajah Korban Bonyok
Rem Diduga Blong, Bus Hantam Gate Tol Waru Utama, 16 Luka
Pramono Anung Larang Gadai KJP Jelang Ramadan, Disdik DKI Perketat Pengawasan
Satpol PP Sisir 6 Kecamatan, 65 PKL Diimbau – Parkir Liar Disikat
Menghadapi Antibiotic Resistance: Pandemi Senyap yang Mengancam Peradaban Medis
Trump dan Netanyahu Gagal Capai Kesepakatan Definitif

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 15:53 WIB

Pesawat Smart Air Ditembaki KKB di Boven Digoel, 2 Pilot Gugur dan 39 Warga Mengungsi

Kamis, 12 Februari 2026 - 14:12 WIB

Guru SD di Jember Diduga Telanjangi 22 Murid karena Uang Rp75 Ribu Hilang

Kamis, 12 Februari 2026 - 13:57 WIB

Ojol Dipukuli di Citayam Depok Gara-Gara Klakson, Wajah Korban Bonyok

Kamis, 12 Februari 2026 - 13:22 WIB

Rem Diduga Blong, Bus Hantam Gate Tol Waru Utama, 16 Luka

Kamis, 12 Februari 2026 - 13:07 WIB

Pramono Anung Larang Gadai KJP Jelang Ramadan, Disdik DKI Perketat Pengawasan

Berita Terbaru