Gencatan Senjata Buntu: Trump Ulur Ultimatum Selat Hormuz

Jumat, 27 Maret 2026 - 07:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran berada dalam titik nadir yang berbahaya pada hari Kamis. Kedua negara menunjukkan sikap kaku terkait syarat gencatan senjata yang memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi militer besar-besaran.

Dalam konteks ini, Presiden Donald Trump mengambil langkah diplomatik dengan memperpanjang masa jeda serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Trump memberikan waktu tambahan selama 10 hari hingga Senin, 6 April 2026, pukul 20.00 waktu setempat.

Uluran Waktu Trump dan “Tol” Selat Hormuz

Trump menyatakan bahwa penundaan ini merupakan tindak lanjut atas permintaan pemerintah Iran. Ia mengeklaim bahwa pembicaraan berjalan sangat baik meskipun media massa menyebut situasi sedang buntu. “Saya memberi mereka periode 10 hari. Mereka meminta tujuh,” ujar Trump dalam program “The Five” di Fox News.

Namun demikian, situasi di lapangan justru menunjukkan pengetatan kontrol oleh pihak Iran. Blok Arab Teluk melaporkan bahwa Iran kini menarik biaya atau “tol” dari setiap kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz secara aman. Oleh karena itu, strategi Iran untuk mencekik ekonomi dunia tetap berjalan meski di bawah ancaman bombardir pembangkit listrik.

Kontradiksi 15 Poin vs 5 Poin Gencatan Senjata

Washington telah menyerahkan daftar 15 poin “rencana aksi” kepada Teheran melalui perantara Pakistan. Utusan khusus Steve Witkoff menyebut dokumen tersebut sebagai kerangka kerja perdamaian yang mungkin. AS menuntut pengakhiran program nuklir dan rudal Iran serta penghentian dukungan terhadap milisi regional.

Sebaliknya, Iran mengajukan proposal tandingan sebanyak 5 poin. Tuntutan Teheran mencakup pembayaran kompensasi perang (reparasi) dan pengakuan kedaulatan mutlak atas Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya sama sekali tidak berencana melakukan negosiasi dengan AS. “Pesan yang dikirim melalui negara lain bukanlah sebuah percakapan apalagi negosiasi,” tegas Araghchi.

Baca Juga :  Mutasi Besar TNI, Jenderal Agus Subiyanto Rotasi 57 Perwira Tinggi dari 3 Matra

Mobilisasi Pasukan: Divisi Airborne ke-82 dan Marinir

Di saat jalur diplomasi dipenuhi hambatan, Pentagon memperkuat kehadiran militer secara masif. Kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa 2.500 personel Marinir kini telah berada sangat dekat dengan Timur Tengah. Selain itu, sedikitnya 1,000 tentara dari Divisi Airborne ke-82 telah mendapatkan perintah untuk segera masuk ke wilayah konflik.

Pasukan lintas udara tersebut memiliki spesialisasi untuk terjun ke wilayah musuh guna mengamankan bandara dan objek vital nasional. Utusan Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahreini, memperingatkan bahwa setiap upaya invasi darat oleh Amerika Serikat dan Israel akan menjadi kesalahan besar. Pada akhirnya, dunia kini menanti apakah jeda 10 hari ini akan membuahkan hasil damai atau justru menjadi tenang sebelum badai pertempuran yang lebih dahsyat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 September 2026 - 06:00 WIB

Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terbaru