Syarat Akhir Perang: Iran Tuntut Solusi Permanen dan Bantah Boikot Dialog Islamabad

Minggu, 5 April 2026 - 11:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pertaruhan di meja perundingan. Menlu Iran Abbas Araqchi tiba di Pakistan guna membawa proposal damai baru, sementara Gedung Putih mengerahkan tim khusus ke Islamabad di tengah lumpuhnya navigasi Selat Hormuz tahun 2026. Dok: Istimewa.

Pertaruhan di meja perundingan. Menlu Iran Abbas Araqchi tiba di Pakistan guna membawa proposal damai baru, sementara Gedung Putih mengerahkan tim khusus ke Islamabad di tengah lumpuhnya navigasi Selat Hormuz tahun 2026. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran menegaskan keinginan mereka untuk mengakhiri konflik militer dengan Amerika Serikat dan Israel secara total. Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran hanya akan menyepakati penghentian perang yang bersifat “tuntas dan langgeng”.

Dalam konteks ini, pernyataan Araghchi muncul melalui unggahan di platform media sosial X pada hari Sabtu. Langkah ini bertujuan untuk meluruskan narasi negatif mengenai sikap diplomasi Iran di tengah eskalasi yang terus memanas.

Bantahan Atas Laporan Boikot Dialog Islamabad

Araghchi secara eksplisit membantah laporan media Barat, termasuk The Wall Street Journal, yang mengeklaim Iran enggan bertemu pejabat AS di Islamabad. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa posisi Iran telah mengalami distorsi oleh media-media Amerika Serikat tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami sangat berterima kasih atas upaya Pakistan. Kami tidak pernah menolak untuk pergi ke Islamabad,” tegas Araghchi. Oleh karena itu, Teheran tetap membuka jalur komunikasi melalui mitra regionalnya sembari menjaga integritas posisi tawar mereka di meja perundingan.

Baca Juga :  Misi Damai Abu Dhabi: Trump Tekan Ukraina Selesaikan Perang dalam Satu Bulan

Penolakan Gencatan Senjata 48 Jam

Meskipun jalur dialog terbuka, Iran tetap menunjukkan sikap keras terhadap proposal jangka pendek. Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bahwa Teheran menolak usulan gencatan senjata selama 48 jam pada hari Jumat. Dalam hal ini, proposal tersebut dikirim oleh “negara sahabat” sebagai upaya de-eskalasi mendadak.

Lebih lanjut, Iran memandang tuntutan Amerika Serikat saat ini sebagai hal yang tidak dapat diterima. Teheran menilai Washington lebih mengutamakan jeda taktis militer daripada penghentian permusuhan yang sejati. Sebagai hasilnya, krisis kepercayaan antara kedua belah pihak kian memperumit tercapainya kesepakatan damai yang komprehensif.

Latar Belakang: Tragedi 28 Februari dan Eskalasi Regional

Konflik destruktif ini berakar pada serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026. Gempuran tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil. Akibatnya, Iran merespons dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan aset militer AS dan Israel di seluruh Timur Tengah.

Baca Juga :  AS Tuding China Langgar Kedaulatan, Beijing Sebut Trump Munafik

Terlebih lagi, perang ini telah menyeret banyak aktor regional ke dalam pusaran kekerasan. Araghchi menekankan bahwa perang ilegal tersebut adalah beban yang dipaksakan kepada rakyat Iran. Oleh sebab itu, Iran merasa memiliki hak moral untuk menuntut syarat-syarat yang menjamin keamanan nasional mereka di masa depan.

Menanti Kepastian Diplomasi di Pakistan

Masa depan stabilitas kawasan kini bergantung pada hasil mediasi di Islamabad. Pada akhirnya, keberhasilan pertemuan tersebut sangat ditentukan oleh kesediaan Washington untuk mengakomodasi tuntutan Iran mengenai pengakhiran perang secara permanen.

Dengan demikian, dunia internasional memantau dengan cermat apakah Pakistan mampu mencairkan ketegangan yang sangat kaku ini. Tanpa adanya konsensus yang tulus, Timur Tengah berisiko terus terjebak dalam siklus serangan balasan yang melumpuhkan ekonomi dan keamanan global di tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang
Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik
Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel
WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita
SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Berita Terbaru

Misi merajut kembali aliansi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi India untuk memulihkan hubungan yang sempat retak akibat sengketa tarif dan perbedaan pandangan strategis terkait kawasan Asia Selatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Sanksi diplomatik Paris. Pemerintah Prancis resmi melarang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki wilayahnya sebagai respons atas sikap kontroversialnya terhadap aktivis bantuan Gaza. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat internasional. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

KESEHATAN

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB