FLORIDA, POSNEWS.CO.ID – Buka lemari dapur siapa pun, dari Andorra hingga Zimbabwe, dan kemungkinan besar Anda akan menemukan benda itu: wadah plastik warna-warni yang ikonik. Tupperware bukan sekadar tempat makan; ia adalah fenomena global.
Bagi banyak orang di negara maju, nama ini membawa nostalgia tahun 1950-an. Era di mana nenek-nenek berkumpul di ruang tamu, menggelar “Pesta Tupperware” sambil bergosip dan bertukar resep.
Namun, zaman berubah. Sementara model “pesta” tradisional mulai ditinggalkan di Barat, Tupperware menemukan nyawa baru di Timur. Sejak tahun 2000, waralaba Tupperware justru tumbuh lebih subur di China daripada di tempat lain mana pun di dunia.
“Hundred Benefits”: Wajah Baru di China
Di Hangzhou, salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di China, toko bernama “Hundred Benefits” (Seratus Manfaat) menjadi simbol revolusi ini.
Terletak di kawasan elit, toko ini tidak dipenuhi ibu rumah tangga, melainkan anak muda usia 20-an. Mereka adalah generasi baru yang optimis, memiliki pendapatan lebih, dan sedang membangun “sarang” impian mereka.
Mengapa Tupperware laku keras di sana? Jawabannya adalah adaptasi budaya. Selain fungsional—tahan microwave, bisa masuk freezer, dan antiberantakan—Tupperware di China tampil beda.
Mereka memproduksi rantang makan siang tradisional empat susun, namun dengan sentuhan modern warna-warni yang “seksi”. Ini adalah simbol status baru bagi kelas menengah urban yang ruang hidupnya kini dua kali lebih luas dibanding generasi sebelumnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejarah: Earl Tupper dan Segel Ajaib
Kisah ini bermula pada 1938, ketika orang Amerika bernama Earl Tupper menemukan formula plastik khusus. Inovasi utamanya—tutup kedap udara yang menjaga kesegaran—datang kemudian.
Perusahaan ini berdiri pada 1946 dan menikmati kejayaan selama lebih dari 40 tahun. Namun, nasibnya belakangan tidak menentu. Tupperware Brands Corporation telah dijual beberapa kali, dan prospek yang menurun di pasar Amerika sempat memicu isu penjualan kembali oleh induk perusahaannya.
Dilema “Pesta” Piramida
Salah satu kunci sukses—sekaligus kontroversi—Tupperware adalah model penjualannya. Hingga 1990-an, mereka bergantung total pada model piramida (pyramid sales).
Sistemnya sederhana: Anda membeli dari teman, teman Anda mendapat komisi. Jika Anda merekrut penjual baru, Anda mendapat potongan dari penjualan mereka. Ini memungkinkan wanita mendapatkan penghasilan mandiri tanpa harus bekerja kantoran.
Namun, model ini punya sisi gelap sosial. “Apakah saya diundang makan malam ke rumah Alison karena dia ingin berteman, atau karena dia ingin menjual gelas takar?” Pertanyaan etis semacam ini membuat model pesta kehilangan pamor di Inggris, Jerman, dan Australia.
Di China, model piramida ini bahkan dilarang keras, memaksa Tupperware beralih ke sistem toko ritel dan waralaba yang ternyata justru sukses besar.
Feminis atau Domestikasi?
Peran Tupperware bagi wanita pasca-Perang Dunia II juga memicu perdebatan sengit.
Saat para pria pulang perang, wanita yang sebelumnya bekerja di pabrik kembali ke rumah. Sebagian feminis mengkritik Tupperware karena melanggengkan citra wanita yang “terkurung di dapur”.
Namun, pandangan lain membela. Model penjualan langsung ini justru memberi otonomi finansial bagi ibu rumah tangga atau wanita hamil yang tidak bisa bekerja penuh waktu di luar rumah. Itu adalah bentuk pemberdayaan awal yang nyata.
Kini, Tupperware berusaha menjembatani kedua dunia. Di AS, program “Chain of Confidence” memperkuat solidaritas wanita dan menyumbang jutaan dolar untuk amal.
Masa depan wadah plastik cantik ini masih belum pasti. Apakah ia akan berakhir sebagai relik masa lalu seperti peti kayu teh, ataukah konsumen China yang antusias dan strategi digital baru akan menyelamatkannya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















