Terbelenggu dan Berbaju Oranye, Maduro Mengaku Tak Bersalah

Selasa, 6 Januari 2026 - 11:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Saya tawanan perang," teriak Maduro di depan hakim federal AS, sementara DK PBB mengecam aksi Washington sebagai pelanggaran hukum internasional. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Suasana surreal menyelimuti pengadilan federal di Manhattan pada hari Senin. Presiden Venezuela yang baru saja jatuh, Nicolás Maduro, berdiri di hadapan hakim dengan kaki terbelenggu rantai. Dua hari setelah pasukan khusus AS menangkapnya dalam operasi yang mengguncang dunia, Maduro dengan lantang menyatakan dirinya tidak bersalah atas tuduhan perdagangan narkoba, senjata, dan terorisme-narkoba.

Sidang dakwaan tersebut berlangsung singkat, hampir tak sampai 30 menit. Namun, formalitas birokrasi itu kontras dengan dampak geopolitik luar biasa yang timbul di luar ruang sidang. Sementara Maduro dan istrinya, Cilia Flores, menjawab pertanyaan hakim Alvin Hellerstein, Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat hanya beberapa mil di utara sana.

“Saya Masih Presiden”

Maduro, 63 tahun, bersikeras bahwa ia adalah kepala negara yang sah. “Saya masih presiden negara saya,” tegasnya kepada hakim. Ia menyebut penangkapannya di rumahnya di Caracas sebagai penculikan ilegal dan melabeli dirinya sebagai “tawanan perang”.

“Saya tidak bersalah. Saya orang baik,” seru Maduro dalam bahasa Spanyol, berulang kali mencoba berbicara memotong hakim.

Baca Juga :  Kejahatan Perang di Sudan: Drone RSF Bantai Keluarga

Sebelumnya, saat memasuki ruang sidang dengan sandal oranye dan kemeja biru di atas seragam tahanan neon, ia sempat menoleh ke arah galeri publik. Dengan nada yang terdengar ironis di tengah situasi genting itu, ia mengucapkan, “Happy new year!” dalam bahasa Inggris.

Tuduhan Berat: Terorisme Narkoba

Maduro menghadapi empat dakwaan pidana federal AS, termasuk konspirasi “narco-terrorism”, impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan perangkat destruktif. Setiap tuduhan membawa ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.

Jaksa Agung AS Pam Bondi membuka dakwaan kriminal pada Sabtu lalu. Dakwaan ini menggemakan klaim Presiden Donald Trump. Washington menuduh Maduro dan komplotannya telah bermitra selama puluhan tahun dengan pengedar narkoba dan pejabat korup. Tujuannya adalah membanjiri AS dengan berton-ton kokain.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ibu Negara Terluka

Pasukan AS juga menangkap Istri Maduro, Cilia Flores, dalam serangan fajar hari Sabtu yang menewaskan sedikitnya 40 orang. Pengacaranya, Mark Donnelly, mengungkapkan bahwa Flores menderita “cedera signifikan selama penculikan”. Ia memerlukan pemeriksaan medis untuk memar parah di tulang rusuknya.

Baca Juga :  Jawab Tuduhan Trump, Zelenskyy Siap Gelar Pemilu Perang dalam 90 Hari: Bantu Kami Amankan TPS!

Tampil dengan plester besar di pelipis dan dahinya, Flores juga menyatakan dirinya “sepenuhnya tidak bersalah”. Aparat menahan pasangan ini di bawah pengamanan ketat di pusat penahanan Metropolitan di Brooklyn. Penjara ini pernah menampung tokoh-tokoh kontroversial seperti El Chapo dan Sean ‘Diddy’ Combs.

Gejolak Regional Meluas

Sementara itu, dampak operasi militer ini terus menjalar liar. Di Caracas, Delcy Rodríguez, pengganti Maduro yang baru saja mengambil sumpah jabatan, tampaknya mulai melunak. Awalnya menantang, ia kini mengisyaratkan kesediaan bekerja sama dengan AS setelah Trump mengancamnya akan “membayar harga yang sangat mahal”.

Ketegangan juga merembet ke negara tetangga. Presiden Kolombia Gustavo Petro memperingatkan bahwa negaranya akan “mengangkat senjata” jika Trump merealisasikan ancaman aksi militer di sana.

Di PBB, Sekretaris Jenderal António Guterres melalui perwakilannya menyatakan keprihatinan mendalam. Ia menyebut operasi ini berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi hubungan antarnegara. Ia juga menegaskan bahwa Washington “belum menghormati aturan hukum internasional.”

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sidang Panas DHS: Markwayne Mullin Berdebat dengan Rand Paul dan Ubah Visi ICE
Kiamat Energi Teluk: Serangan Lapangan Gas Pars dan Rudal Iran ke Qatar-Saudi
Samoa dan Tonga Minta Bantuan Darurat Selandia Baru
Israel Hancurkan Jembatan Sungai Litani dan Ratakan Pusat Kota Beirut
Sengketa Taiwan di KTT Washington: Jepang Bantah Adanya Pergeseran Besar Kebijakan Militer
Takaichi Temui Trump di Washington di Tengah Pusaran Perang Iran
Posisi Hilal di Indonesia Belum Memenuhi Syarat MABIMS, Ini Penjelasan Kemenag
Arus Mudik Memuncak, Pelabuhan Merak Dipadati 19 Ribu Kendaraan dan 593 Ribu Penumpang

Berita Terkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:30 WIB

Sidang Panas DHS: Markwayne Mullin Berdebat dengan Rand Paul dan Ubah Visi ICE

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:00 WIB

Kiamat Energi Teluk: Serangan Lapangan Gas Pars dan Rudal Iran ke Qatar-Saudi

Kamis, 19 Maret 2026 - 16:30 WIB

Samoa dan Tonga Minta Bantuan Darurat Selandia Baru

Kamis, 19 Maret 2026 - 16:00 WIB

Israel Hancurkan Jembatan Sungai Litani dan Ratakan Pusat Kota Beirut

Kamis, 19 Maret 2026 - 15:30 WIB

Sengketa Taiwan di KTT Washington: Jepang Bantah Adanya Pergeseran Besar Kebijakan Militer

Berita Terbaru

Misi kemanusiaan di zona merah. Badan pelayaran PBB mengusulkan pembentukan koridor maritim aman guna mengevakuasi 20.000 pelaut dan ratusan kapal yang terjebak blokade Iran di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Samoa dan Tonga Minta Bantuan Darurat Selandia Baru

Kamis, 19 Mar 2026 - 16:30 WIB