CAPE TOWN, POSNEWS.CO.ID – Kita sering mendengar pepatah “rumput tetangga lebih hijau”. Keyakinan inilah yang mendorong jutaan orang setiap tahunnya mengemas barang-barang mereka ke dalam kardus, menyewa truk, dan pindah ke rumah atau kota baru demi kehidupan yang lebih baik.
Namun, Dr. Jill Molveldt, seorang psikoterapis di Durban, Afrika Selatan, membunyikan alarm peringatan. Ia menyebut fenomena ini sebagai Relocation Stress Syndrome (RSS) atau Sindrom Stres Pindah Rumah.
Dr. Molveldt bukan sekadar pengamat; ia adalah “korban” pertama dari studi kasusnya sendiri. Awalnya seorang dokter medis yang beralih ke terapi, Molveldt memindahkan praktik dan keluarganya dari kota kecil Pietermaritzburg ke kota pantai kosmopolitan Durban.
Segera setelah kepindahan itu, ia jatuh sakit. Gejalanya kabur namun menyiksa: sakit kepala, ruam kulit, dan insomnia. Tes medis tidak menemukan penyebab fisik apa pun.
Pencerahan datang secara kebetulan pada musim panas 2010. Molveldt bertemu tetangga lamanya yang juga baru pindah ke Durban. Wanita itu tampak depresi berat, mengalami perubahan suasana hati ekstrem, dan kenaikan berat badan. Saat tetangga itu menceritakan kisah pindahannya yang rumit, Molveldt sadar: mereka berdua menderita penyakit yang sama, RSS.
Data Berbicara: UGD Penuh Orang Pindahan
Karena literatur medis tentang RSS sangat minim, Molveldt turun ke lapangan. Selama empat tahun, ia mengumpulkan data pasien dari praktik dokter umum (GP) dan Unit Gawat Darurat (UGD) di Durban dan Cape Town.
Hasilnya mengejutkan. Dalam populasi umum, hanya 1% orang yang pindah dalam sebulan terakhir. Namun, di ruang tunggu dokter, angka pasien yang baru pindah melonjak menjadi 3%. Untuk rentang enam bulan, angkanya naik menjadi 9% dibandingkan rata-rata populasi 5%.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pola yang sama muncul pada korban kecelakaan ringan. Banyak dari mereka ternyata baru saja pindah rumah, bahkan ada yang berpindah alamat lebih dari dua kali dalam setahun. Stres akibat dislokasi tampaknya mengganggu fokus dan koordinasi tubuh.
Bahkan dalam kasus kecelakaan serius, meskipun alkohol sering berperan, wawancara mendalam mengungkap bahwa banyak korban minum alkohol sebagai respons terhadap keadaan hidup—salah satunya adalah tekanan pindah rumah.
Lebih Stres daripada Ujian Kedokteran?
Di mana posisi “pindah rumah” dalam skala stres kehidupan manusia?
Dr. Molveldt menempatkannya di posisi yang tinggi. Menurutnya, stres pindah rumah berada di atas ujian akademis (termasuk ujian sekolah kedokteran yang terkenal brutal), dan berada di antara stres menikah baru dan melahirkan anak.
Menariknya, subjek penelitian sering kali meremehkan dampak ini. Mereka menilai pindah rumah “hanya” setara dengan ujian sulit. Padahal, tubuh mereka bereaksi lebih keras, mengirim mereka ke ruang dokter lebih sering daripada yang seharusnya secara statistik.
Mitos “Lembaran Baru” bagi Pasangan
Temuan Molveldt juga menyinggung isu sensitif: hubungan asmara. Data menunjukkan lonjakan putus hubungan atau perceraian di sekitar waktu kepindahan.
Namun, Molveldt melihat hubungan yang berbeda di sini. Bukan kepindahan yang menyebabkan perpisahan, melainkan pasangan yang sudah bermasalah sering menggunakan “pindah rumah” sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan hubungan (resuscitating relationship).
Sayangnya, strategi ini jarang berhasil. Justru anak-anak yang paling menderita dalam skenario ini. Mereka harus beradaptasi dengan rumah baru, kehilangan teman sekolah lama, dan sekaligus menghadapi kenyataan pahit perpisahan orang tua mereka di lingkungan yang asing.
Jadi, sebelum Anda tergiur dengan brosur apartemen baru atau kota lain, berpikirlah dua kali. Pindah rumah mungkin memberikan pemandangan baru, tetapi tagihan yang Anda bayar mungkin bukan hanya ke jasa angkut, melainkan juga ke dokter Anda.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















