Pindah Rumah Ternyata Lebih Berbahaya bagi Mental

Sabtu, 31 Januari 2026 - 16:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pindah ke kota baru terdengar mengasyikkan, namun statistik medis berkata lain. Sakit misterius, kecelakaan kecil, hingga perceraian sering kali mengikuti kotak-kotak kardus pindahan. Dok: Unsplash/Alicia Christin Gerald.

Ilustrasi, Pindah ke kota baru terdengar mengasyikkan, namun statistik medis berkata lain. Sakit misterius, kecelakaan kecil, hingga perceraian sering kali mengikuti kotak-kotak kardus pindahan. Dok: Unsplash/Alicia Christin Gerald.

CAPE TOWN, POSNEWS.CO.ID – Kita sering mendengar pepatah “rumput tetangga lebih hijau”. Keyakinan inilah yang mendorong jutaan orang setiap tahunnya mengemas barang-barang mereka ke dalam kardus, menyewa truk, dan pindah ke rumah atau kota baru demi kehidupan yang lebih baik.

Namun, Dr. Jill Molveldt, seorang psikoterapis di Durban, Afrika Selatan, membunyikan alarm peringatan. Ia menyebut fenomena ini sebagai Relocation Stress Syndrome (RSS) atau Sindrom Stres Pindah Rumah.

Dr. Molveldt bukan sekadar pengamat; ia adalah “korban” pertama dari studi kasusnya sendiri. Awalnya seorang dokter medis yang beralih ke terapi, Molveldt memindahkan praktik dan keluarganya dari kota kecil Pietermaritzburg ke kota pantai kosmopolitan Durban.

Segera setelah kepindahan itu, ia jatuh sakit. Gejalanya kabur namun menyiksa: sakit kepala, ruam kulit, dan insomnia. Tes medis tidak menemukan penyebab fisik apa pun.

Pencerahan datang secara kebetulan pada musim panas 2010. Molveldt bertemu tetangga lamanya yang juga baru pindah ke Durban. Wanita itu tampak depresi berat, mengalami perubahan suasana hati ekstrem, dan kenaikan berat badan. Saat tetangga itu menceritakan kisah pindahannya yang rumit, Molveldt sadar: mereka berdua menderita penyakit yang sama, RSS.

Data Berbicara: UGD Penuh Orang Pindahan

Karena literatur medis tentang RSS sangat minim, Molveldt turun ke lapangan. Selama empat tahun, ia mengumpulkan data pasien dari praktik dokter umum (GP) dan Unit Gawat Darurat (UGD) di Durban dan Cape Town.

Baca Juga :  Kombes Edy Suranta Jabat Dirkrimsus Polda Metro, Fokus Perkuat Penegakan Hukum

Hasilnya mengejutkan. Dalam populasi umum, hanya 1% orang yang pindah dalam sebulan terakhir. Namun, di ruang tunggu dokter, angka pasien yang baru pindah melonjak menjadi 3%. Untuk rentang enam bulan, angkanya naik menjadi 9% dibandingkan rata-rata populasi 5%.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pola yang sama muncul pada korban kecelakaan ringan. Banyak dari mereka ternyata baru saja pindah rumah, bahkan ada yang berpindah alamat lebih dari dua kali dalam setahun. Stres akibat dislokasi tampaknya mengganggu fokus dan koordinasi tubuh.

Bahkan dalam kasus kecelakaan serius, meskipun alkohol sering berperan, wawancara mendalam mengungkap bahwa banyak korban minum alkohol sebagai respons terhadap keadaan hidup—salah satunya adalah tekanan pindah rumah.

Lebih Stres daripada Ujian Kedokteran?

Di mana posisi “pindah rumah” dalam skala stres kehidupan manusia?

Dr. Molveldt menempatkannya di posisi yang tinggi. Menurutnya, stres pindah rumah berada di atas ujian akademis (termasuk ujian sekolah kedokteran yang terkenal brutal), dan berada di antara stres menikah baru dan melahirkan anak.

Baca Juga :  Taktik Menghadapi Inflasi Musiman Saat Belanja Kebutuhan Pokok

Menariknya, subjek penelitian sering kali meremehkan dampak ini. Mereka menilai pindah rumah “hanya” setara dengan ujian sulit. Padahal, tubuh mereka bereaksi lebih keras, mengirim mereka ke ruang dokter lebih sering daripada yang seharusnya secara statistik.

Mitos “Lembaran Baru” bagi Pasangan

Temuan Molveldt juga menyinggung isu sensitif: hubungan asmara. Data menunjukkan lonjakan putus hubungan atau perceraian di sekitar waktu kepindahan.

Namun, Molveldt melihat hubungan yang berbeda di sini. Bukan kepindahan yang menyebabkan perpisahan, melainkan pasangan yang sudah bermasalah sering menggunakan “pindah rumah” sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan hubungan (resuscitating relationship).

Sayangnya, strategi ini jarang berhasil. Justru anak-anak yang paling menderita dalam skenario ini. Mereka harus beradaptasi dengan rumah baru, kehilangan teman sekolah lama, dan sekaligus menghadapi kenyataan pahit perpisahan orang tua mereka di lingkungan yang asing.

Jadi, sebelum Anda tergiur dengan brosur apartemen baru atau kota lain, berpikirlah dua kali. Pindah rumah mungkin memberikan pemandangan baru, tetapi tagihan yang Anda bayar mungkin bukan hanya ke jasa angkut, melainkan juga ke dokter Anda.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Melampaui Positivisme: Mengenal Post-Positivisme dan Kritik Teori Kritis
Pindah Jalur, Ojol Tewas di Jalan Raya Sulawesi Usai Diseruduk Dump Truck
Positivisme di Era Big Data: Ketika Algoritma Menjadi Penentu Kebenaran Tunggal
Nenek Dibunuh Cucu di Siak, Leher Digorok dan Harta Dibawa Kabur
Positivisme Hukum: Mengapa Hukum Harus Terpisah dari Moralitas?
Meruntuhkan Kesombongan Induksi: Kritik Karl Popper terhadap Positivisme Logis
Agama Kemanusiaan: Upaya Terakhir Comte Menyatukan Masyarakat Tanpa Tuhan
Lebaran Betawi 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Ini Rangkaian Acara dan Jadwalnya

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 20:43 WIB

Melampaui Positivisme: Mengenal Post-Positivisme dan Kritik Teori Kritis

Jumat, 3 April 2026 - 19:30 WIB

Pindah Jalur, Ojol Tewas di Jalan Raya Sulawesi Usai Diseruduk Dump Truck

Jumat, 3 April 2026 - 19:25 WIB

Positivisme di Era Big Data: Ketika Algoritma Menjadi Penentu Kebenaran Tunggal

Jumat, 3 April 2026 - 19:18 WIB

Nenek Dibunuh Cucu di Siak, Leher Digorok dan Harta Dibawa Kabur

Jumat, 3 April 2026 - 18:43 WIB

Positivisme Hukum: Mengapa Hukum Harus Terpisah dari Moralitas?

Berita Terbaru

Kedaulatan aturan di atas nilai. Positivisme hukum menawarkan kejernihan yuridis dengan menegaskan bahwa validitas hukum bergantung pada sumber otoritasnya, bukan pada standar moralitas yang subjektif. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Positivisme Hukum: Mengapa Hukum Harus Terpisah dari Moralitas?

Jumat, 3 Apr 2026 - 18:43 WIB