Mencuri Bintang: Bahaya Polusi Cahaya yang Terlupakan

Rabu, 5 November 2025 - 06:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Cahaya kota telah merenggut Bima Sakti dari langit kita. Ini bukan sekadar masalah rindu bintang, ini adalah krisis ekologi dan kesehatan yang tersembunyi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Cahaya kota telah merenggut Bima Sakti dari langit kita. Ini bukan sekadar masalah rindu bintang, ini adalah krisis ekologi dan kesehatan yang tersembunyi. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Coba jeda sejenak dan ingat-ingat: Kapan terakhir kali Anda berdiri di kota Anda, menengadah ke langit malam, dan bisa melihat hamparan galaksi Bima Sakti dengan mata telanjang?

Bagi jutaan orang yang tinggal di perkotaan, jawabannya adalah “tidak pernah”. Langit malam yang dulu penuh bintang kini tergantikan oleh kabut oranye yang permanen. Kita telah kehilangan koneksi visual dengan alam semesta, dan pelakunya adalah sesuatu yang kita anggap sepele: Polusi Cahaya.

Apa Sebenarnya Polusi Cahaya?

Polusi cahaya adalah penggunaan cahaya buatan yang berlebihan, salah arah, dan tidak perlu di malam hari. Lampu taman yang menyorot ke atas, papan reklame yang lebih terang dari matahari, dan gedung-gedung perkantoran yang lampunya menyala sepanjang malam—semua berkontribusi pada “pencurian” kegelapan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, ini bukan sekadar masalah sepele bagi para astronom atau pengamat bintang. Cahaya buatan yang berlebihan telah menjadi polutan lingkungan yang serius dengan dampak yang nyata.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrem 29–30 November, BMKG: Puluhan Wilayah Masuk Level Waspada hingga Siaga

Dampak Ekologis: Saat Malam Tak Lagi Gelap

Bagi alam liar, malam yang gelap sama pentingnya dengan siang yang terang. Polusi cahaya mengacaukan siklus alami yang telah berevolusi selama miliaran tahun.

  • Navigasi Burung: Jutaan burung yang bermigrasi di malam hari menggunakan bintang dan bulan sebagai kompas. Cahaya kota yang terang membingungkan mereka, menarik mereka keluar dari rute, dan menyebabkan mereka menabrak gedung-gedung tinggi.
  • Reproduksi Penyu: Tukik (anak penyu) yang baru menetas di pantai diprogram untuk bergerak menuju cakrawala yang paling terang—yang seharusnya adalah lautan. Namun, cahaya dari hotel dan jalan raya di pesisir membuat mereka bingung dan bergerak ke arah yang salah, di mana mereka mati karena dehidrasi atau predator.
  • Polinator Malam: Banyak serangga, seperti ngengat, adalah polinator penting yang bekerja di malam hari. Cahaya buatan menarik dan menjebak mereka, mengurangi populasi dan mengancam ekosistem.

Dampak Manusia: Mengacaukan Ritme Tubuh

Kita pun tidak kebal. Manusia berevolusi untuk tidur saat gelap dan bangun saat terang. Polusi cahaya, terutama cahaya biru dari layar dan lampu LED, secara langsung mengganggu ritme sirkadian kita.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Berbuka Puasa Bersama Tokoh Islam, Diskusi Lebaran dan Isu Global

Paparan cahaya di malam hari menekan produksi melatonin, hormon utama yang memberi sinyal pada tubuh kita untuk tidur. Kurang tidur kronis akibat polusi cahaya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko insomnia, depresi, kecemasan, dan bahkan masalah kesehatan yang lebih serius. Selain itu, semua cahaya yang terbuang ke langit adalah pemborosan energi dan uang yang masif.

Solusi Sederhana yang Terlupakan

Berita baiknya, polusi cahaya adalah salah satu polusi termudah untuk diatasi. Solusinya bukan mematikan semua lampu, tapi menggunakannya dengan lebih cerdas:

  1. Gunakan Penutup: Pastikan lampu luar ruangan (seperti lampu jalan) memiliki penutup dan mengarah lurus ke bawah, hanya menerangi area yang perlu, bukan ke langit.
  2. Warna Hangat: Gunakan lampu berwarna hangat (kuning/oranye) alih-alih cahaya putih/biru yang keras.
  3. Sensor Gerak: Gunakan sensor gerak agar lampu hanya menyala saat dibutuhkan.

Langit malam yang gelap adalah warisan alam yang sama pentingnya dengan hutan dan lautan. Mengembalikannya bukan hanya untuk keindahan, tapi untuk kesehatan planet dan diri kita sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB