Australia Dakwa Pria Pelaku Bom Protes Invasion Day

Kamis, 5 Februari 2026 - 20:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Penembakan massal di Afrika Selatan menewaskan sedikitnya 27 orang di Wedela dan Lwandle. Simak rincian kejadian dan tanggapan pemerintah. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Penembakan massal di Afrika Selatan menewaskan sedikitnya 27 orang di Wedela dan Lwandle. Simak rincian kejadian dan tanggapan pemerintah. Dok: Istimewa.

PERTH, POSNEWS.CO.ID – Otoritas Australia menetapkan upaya pengeboman terhadap massa pengunjuk rasa Hari Nasional sebagai insiden terorisme. Kasus ini mencatatkan sejarah sebagai penggunaan pasal terorisme pertama di negara bagian Australia Barat.

Kepolisian menangkap seorang pria berusia 31 tahun atas tuduhan melemparkan bom rakitan ke tengah kerumunan ribuan orang di kota Perth. Beruntung, bom tersebut tidak meledak sehingga tidak ada korban luka dalam insiden yang terjadi pada 26 Januari lalu.

Motif Ideologi Kebencian dan Supremasi Putih

Pemimpin negara bagian Australia Barat, Roger Cook, mengonfirmasi bahwa pelaku memegang teguh pandangan supremasi kulit putih. Serangan tersebut secara spesifik menyasar warga Aborigin, salah satu kelompok pribumi utama di Australia, yang tengah memperingati “Invasion Day”.

“Dakwaan ini menuduh bahwa serangan terhadap warga Aborigin dan pengunjuk rasa damai lainnya bermotif ideologi kebencian dan rasis,” ujar Cook dalam konferensi pers pada Kamis (5/2/2026). Jika terbukti bersalah di pengadilan, pelaku menghadapi ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.

Kontroversi “Australia Day” vs “Invasion Day”

Insiden ini terjadi di tengah ketegangan nasional terkait perayaan Australia Day. Tanggal 26 Januari merupakan hari libur publik untuk memperingati dimulainya kolonisasi Inggris di benua tersebut pada tahun 1788. Warga biasanya merayakan hari ini dengan piknik, barbekyu, dan upacara kewarganegaraan bagi warga baru.

Namun, komunitas pribumi dan aktivis hak asasi manusia memberikan kritik tajam terhadap perayaan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai “Invasion Day” atau Hari Invasi, yang menandai awal dari penindasan terhadap penduduk asli. Oleh karena itu, berbagai aksi unjuk rasa besar-besaran rutin terjadi di seluruh negeri setiap tahunnya. Meskipun sebagian besar warga menolak pemindahan tanggal hari libur tersebut, aksi protes terus menuntut pengakuan atas sejarah kelam masa lalu.

Baca Juga :  Putri Bajrakitiyabha Wafat pada Usia 47 Tahun

Penegakan Hukum dan Keamanan Nasional

Kepolisian kini memperketat pengawasan terhadap kelompok-kelompok ekstremis sayap kanan di wilayah tersebut. Otoritas menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi kekerasan yang berlandaskan ideologi rasis di ruang publik.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat mengenai ancaman terorisme domestik yang bersumber dari kebencian rasial. Penangkapan pelaku dan penerapan pasal terorisme menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam melindungi hak setiap warga negara untuk melakukan protes secara damai tanpa ancaman nyawa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati
Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Berita Terbaru