WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Selama lebih dari satu abad, Amerika Serikat telah melakukan pengeboran minyak dan gas secara luas. Hingga tahun 1990-an, sebagian besar perusahaan mengandalkan sumur konvensional untuk memompa hidrokarbon ke permukaan.
Namun, penemuan teknik hydraulic fracturing atau “fracking” pada akhir 1940-an mulai mengubah peta energi nasional. Melalui penyempurnaan teknologi dalam beberapa dekade terakhir, proses ekstraksi gas dari batuan serpih kini menjadi sangat hemat biaya. Akibatnya, banyak perusahaan kini aktif mengebor sumur di berbagai wilayah Amerika Serikat.
Mekanisme Fracking dan Tantangan Teknis
Shale gas merupakan metana alami yang terperangkap jauh di dalam formasi batuan bawah tanah. Dahulu, ekstraksi gas ini hampir mustahil dilakukan sebelum adanya teknologi fracking dan pengeboran horizontal.
Dalam praktiknya, teknisi menggunakan tekanan tinggi untuk menyuntikkan cairan yang mengandung pasir (proppant) ke dalam lapisan batuan. Proses ini menciptakan retakan kecil yang kemudian tertahan oleh pasir agar hidrokarbon dapat mengalir keluar. Sayangnya, limbah cair dari proses ini sering kali bersifat toksik. Oleh karena itu, pengelola harus membuang limbah tersebut dengan sangat hati-hati agar tidak mencemari lingkungan atau menyebabkan penurunan permukaan tanah.
Dampak Masif terhadap Ekonomi Amerika
Pengembangan cadangan gas serpih ini membawa manfaat besar bagi perekonomian Amerika Serikat. Tahun depan, industri ini memperkirakan akan mempekerjakan sekitar 869.000 orang di seluruh negeri.
Selain menciptakan lapangan kerja, industri shale gas juga mengalokasikan pengeluaran modal sebesar $48 miliar. Selain itu, sektor ini menyumbang pajak federal dan negara bagian lebih dari $28 miliar tahun ini. Melalui pasokan gas serpih yang melimpah, Amerika Serikat berhasil mengurangi ketergantungan pada batu bara. Bahkan, biaya listrik nasional turun sekitar sepuluh persen karena melimpahnya energi domestik ini.
Sisi Gelap: Polutan dan Kurangnya Pengawasan
Meskipun memberikan keuntungan ekonomi, pengembangan sumber daya ini tetap menyimpan dampak negatif. Industri ini kerap menghasilkan polutan beracun yang memicu masalah lingkungan serius. Pemerintah federal dan negara bagian awalnya tidak siap menghadapi permasalahan yang muncul bersamaan dengan pesatnya industri ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kurangnya pengawasan regulasi di masa awal memungkinkan terjadinya kerusakan lingkungan yang sebenarnya bisa dicegah. Lokasi pengeboran biasanya mencakup area seluas dua hektar yang memicu polusi suara, cahaya, serta peningkatan lalu lintas kendaraan berat. Risiko terbesar berasal dari penggunaan bahan kimia berbahaya dalam cairan fracking. Meskipun 99,5 persen cairan tersebut terdiri dari air dan pasir, sisa 0,5 persen zat aditif kimia sering kali mengandung racun yang membahayakan kesehatan.
Masalah Kerahasiaan Bahan Kimia
Di bawah hukum federal AS, pemasok bahan kimia sering kali mendapatkan pengecualian untuk tidak melaporkan komposisi lengkap produk mereka. Mereka kerap menggunakan dalih “rahasia dagang” untuk menyembunyikan identitas zat kimia tertentu.
Laporan terbaru memperkirakan bahwa dua pertiga dari kasus pengeboran tidak mencantumkan komposisi kimia secara lengkap. Kerahasiaan ini menjadi masalah besar karena pekerja dan masyarakat tidak mengetahui risiko kesehatan yang mereka hadapi. Tanpa informasi yang tepat waktu, petugas tanggap darurat dan profesional medis akan kesulitan mengambil tindakan yang diperlukan saat terjadi kebocoran atau tumpahan kimia.
Menuju Pengelolaan yang Lebih Baik
Pengalaman Amerika Serikat dapat menjadi pelajaran berharga bagi negara lain yang ingin mengembangkan shale gas. Saat ini, banyak pihak mendesak penerapan praktik manajemen terbaik (BMP) yang bersifat wajib, bukan sekadar sukarela.
Tanpa adanya aturan yang mengikat di setiap tahap pengembangan, masyarakat tidak mendapatkan jaminan perlindungan yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah harus mewajibkan pengungkapan bahan berbahaya dan menetapkan dana jaminan untuk mengatasi kerusakan lingkungan di masa depan. Dengan regulasi yang lebih ketat, industri shale gas dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















