SILICON VALLEY, POSNEWS.CO.ID – Jika Auguste Comte hidup di tahun 2026, ia mungkin akan tersenyum melihat jajaran server raksasa yang mengolah triliunan data setiap detiknya. Dalam konteks ini, apa yang dulu ia sebut sebagai “Fisika Sosial” kini telah mewujud nyata dalam bentuk algoritma dan Machine Learning.
Langkah peradaban kita saat ini sedang mengarah pada pemujaan data yang absolut. Oleh karena itu, memahami kaitan antara Positivisme klasik dengan teknologi digital adalah kunci untuk melihat ke mana arah kedaulatan berpikir manusia di masa depan.
Kembalinya Semangat Positivisme: Munculnya Dataisme
Dataisme merupakan ideologi modern yang meyakini bahwa alam semesta terdiri dari aliran data. Bahkan, para penganutnya menganggap nilai setiap entitas atau aktivitas ditentukan oleh kontribusinya terhadap pemrosesan data. Ini adalah evolusi radikal dari Positivisme Comte.
Dalam hal ini, kita tidak lagi hanya mengandalkan observasi indrawi manusia yang terbatas. Sebaliknya, kita memercayakan sensor digital untuk menangkap realitas secara lebih presisi. Kepercayaan bahwa “Data tidak pernah bohong” telah menjadi dogma baru di ruang rapat korporasi dan pemerintahan. Sebagai hasilnya, objektivitas yang dulu diagungkan kaum positivis kini telah berpindah tangan ke dalam kode-kode pemrograman yang dingin.
Risiko Kebijakan Berbasis Angka Tanpa Konteks
Meskipun demikian, ketergantungan total pada angka menyimpan bahaya yang nyata. Pengambilan keputusan yang hanya berdasarkan statistik sering kali mengalami “kebutaan konteks”. Sebagai contoh, algoritma dapat memprediksi tingkat kriminalitas di suatu wilayah, namun ia gagal memahami penderitaan manusiawi atau ketidakadilan sistemik di balik angka tersebut.
Lebih lanjut, fenomena ini menciptakan apa yang disebut sebagai Tirani Metrik. Akibatnya, guru, dokter, hingga pejabat publik lebih fokus mengejar target angka daripada memberikan kualitas layanan yang bernyawa. Oleh sebab itu, pengambilan kebijakan yang murni algoritmik berisiko mendehumanisasi masyarakat. Manusia tidak boleh kita reduksi hanya menjadi sekumpulan variabel dalam baris kode, karena esensi kehidupan sering kali terletak pada hal-hal yang justru tidak dapat kita kuantifikasi.
Tahap Positif Kedua: AI sebagai Hakim Realitas
Dalam Hukum Tiga Tahap Comte, Tahap Positif adalah puncak evolusi intelektual. Namun, di tahun 2026, kita tampaknya sedang memasuki “Tahap Positif Kedua”. Pada fase ini, manusia tidak lagi hanya menemukan hukum alam, melainkan menyerahkan otoritas penemuan tersebut kepada AI.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara simultan, AI mampu menemukan korelasi tersembunyi yang melampaui logika linear manusia. AI bertindak sebagai mesin positivis yang sempurna: ia bekerja tanpa bias emosi (secara teoretis) dan hanya berdasarkan data empiris masif. Dengan demikian, kebenaran di era AI bukan lagi hasil perenungan filosofis, melainkan hasil komputasi. Fenomena ini memaksa kita untuk bertanya: jika kebenaran sepenuhnya ditentukan oleh algoritma yang tidak transparan (black box), masihkah ada ruang bagi kehendak bebas manusia?
Menyeimbangkan Data dengan Nurani
Masa depan peradaban digital bergantung pada kemampuan kita untuk menempatkan data pada tempatnya yang benar. Pada akhirnya, data adalah alat untuk memahami, bukan berhala untuk disembah.
Dengan demikian, dunia memerlukan pendekatan yang menggabungkan presisi data dengan kedalaman nilai-nilai humaniora. Di tahun 2026, kejujuran intelektual berarti mengakui bahwa meskipun algoritma sangat cerdas, mereka tetap tidak memiliki nurani. Kita harus memastikan bahwa di balik setiap kebijakan berbasis data, tetap ada tangan manusia yang mampu menafsirkan angka dengan rasa empati dan keadilan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















