Negara vs. Pasar: Pertarungan Abadi di Balik Harga BBM dan Cabai

Kamis, 6 November 2025 - 16:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Harga cabai dibiarkan

Ilustrasi, Harga cabai dibiarkan "liar", harga BBM dijaga ketat. Mengapa? Ini pertarungan ideologi abadi antara 'Pasar Bebas' dan 'Intervensi Negara'. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Kita sering melihat dua realitas ekonomi yang kontradiktif setiap hari. Di satu sisi, ketika harga cabai rawit meroket tiga kali lipat menjelang hari raya, kita sering mendengar jawaban bahwa itu adalah “mekanisme pasar” yang wajar. Pemerintah mungkin melakukan operasi pasar, tapi jarang menetapkan harga patokan.

Namun di sisi lain, ketika harga minyak dunia naik, pemerintah—siapa pun yang sedang berkuasa—akan berjuang mati-matian menahan harga BBM bersubsidi atau tarif listrik, meskipun itu berarti membengkakkan utang negara.

Mengapa ada komoditas yang “dilepas” ke pasar, sementara komoditas lain harus “diatur” oleh negara? Jawabannya terletak pada pertarungan ideologi ekonomi tertua di dunia: pertarungan antara Negara dan Pasar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keyakinan Tangan Tak Terlihat

Kubu pertama adalah mereka yang percaya pada efisiensi pasar bebas. Bapak ekonomi modern, Adam Smith, mempopulerkan pandangan ini. Bagi mereka, harga adalah sinyal informasi yang paling murni.

Baca Juga :  Jenazah Santri Ponpes Al Khoziny Rusak, DVI Polda Jatim Berjuang Maksimal

Dalam pandangan ini, “Tangan Tak Terlihat” (Invisible Hand) pasar adalah alokator sumber daya yang paling efisien. Jika cabai mahal, itu adalah sinyal bagi petani untuk menanam lebih banyak cabai (karena untung besar) dan sinyal bagi konsumen untuk hemat (karena mahal). Pasar akan menyeimbangkan dirinya sendiri.

Bagi kubu ini, intervensi negara—seperti subsidi BBM atau penetapan harga—justru akan menciptakan distorsi. Subsidi membuat harga menjadi “bohong”. Konsumen menjadi boros karena harga BBM murah, sementara produsen (petani) enggan berinovasi. Mereka menganggap intervensi sebagai sumber inefisiensi.

Hantu Kegagalan Pasar

Kubu kedua adalah pandangan intervensionis, yang berakar dari pemikiran ekonom seperti John Maynard Keynes atau bahkan Karl Marx. Mereka tidak percaya pasar selalu benar. Sebaliknya, mereka percaya pasar bisa “gagal” (market failure).

Bagi mereka, komoditas seperti BBM, listrik, atau beras bukanlah sekadar barang dagangan seperti cabai. Ini adalah barang yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan stabilitas nasional.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Turunkan 2.511 Personel Amankan Reuni Akbar 212 di Monas

Jika pasar murni menentukan harga BBM saat harga dunia melonjak, biaya transportasi dan logistik akan meledak. Inflasi akan meroket, daya beli rakyat miskin hancur, dan risiko kekacauan sosial-politik meningkat. Di sinilah negara harus “turun tangan”—baik lewat subsidi, kontrol harga, atau BUMN—untuk melindungi rakyat dan menjaga stabilitas.

Ideologi di Dompet Anda

Pada akhirnya, harga yang Anda bayar di pasar atau di pom bensin bukanlah murni angka ekonomi. Itu adalah cerminan dari pertarungan ideologi politik yang sedang berlangsung.

Setiap kebijakan—keputusan untuk menyubsidi Pertalite, membebaskan impor bawang putih, atau memberi pajak tinggi pada rokok—adalah pilihan politik. Keputusan itu mencerminkan jawaban sebuah negara atas pertanyaan fundamental: seberapa besar peran ideal negara dalam mengatur kehidupan ekonomi warganya?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar
Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:59 WIB

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Berita Terbaru