BEKASI, POSNEWS.CO.ID – Aksi penyiraman air keras yang mengerikan akhirnya terungkap.
Polres Metro Bekasi menangkap tiga pelaku berinisial PBU (29), MS (28), dan SR (23) terkait penyerangan terhadap korban TW (54) di kawasan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Kasus brutal ini terjadi saat korban hendak menunaikan salat subuh pada Senin (30/3/2026) dini hari di Perumahan Bumi Sani Permai, Desa Setia Mekar.
Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol Sumarni, mengungkapkan pelaku utama PBU menjadi dalang di balik aksi keji tersebut.
Ia menyusun rencana, menyiapkan air keras, hingga menyewa dua eksekutor dengan bayaran Rp9 juta.
“Tersangka PBU memberikan uang Rp9 juta kepada dua pelaku yang kemudian dibagi masing-masing Rp4,5 juta,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Uang Habis, Sisa Disita Polisi
Setelah menerima bayaran, pelaku MS langsung menghabiskan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara SR menggunakan uang untuk kebutuhan rumah tangga, dengan sisa Rp250 ribu yang kini disita polisi sebagai barang bukti.
Aksi sadis ini dipicu dendam pribadi yang telah lama membara. PBU mengaku sakit hati terhadap korban sejak 2018.
Saat itu, pelaku merasa direndahkan karena pekerjaannya sebagai ojek online. Konflik berlanjut pada 2019, ketika korban menutup bak sampah di depan rumah pelaku.
Puncaknya terjadi pada 2025. Pelaku mengaku tersinggung karena merasa dipandang sinis saat salat berjamaah di mushola.
“Motifnya sakit hati dan dendam yang sudah berlangsung lama,” tegas Sumarni.
Peran Masing-Masing Pelaku
Polisi juga mengungkap peran tiap pelaku dalam aksi brutal ini:
- PBU (29): Otak pelaku, perencana, dan penyedia alat
- MS (28): Eksekutor yang menyiram air keras ke korban
- SR (23): Joki yang mengendarai motor saat aksi
- Korban Diserang Saat Subuh
Peristiwa terjadi saat korban keluar rumah untuk salat subuh. Tanpa diduga, pelaku mendekat lalu menyiramkan air keras ke tubuh korban.
Serangan mendadak itu menyebabkan korban mengalami luka serius.
Saat ini, ketiga pelaku telah diamankan dan menjalani pemeriksaan intensif. Polisi masih mendalami kemungkinan adanya perencanaan lain serta asal-usul bahan kimia yang digunakan.
Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa konflik pribadi yang dibiarkan bisa berujung aksi kekerasan ekstrem. (red)
Editor : Hadwan



















