Trump Tolak Proposal Iran Saat Harga Minyak Dunia Melonjak

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat perselisihan tajam mengenai program nuklir. Kedua negara gagal mencapai titik temu dalam negosiasi yang berlangsung hingga hari Kamis. Oleh karena itu, harapan untuk segera mengakhiri perang kini kembali meredup.

Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah proposal terbaru yang Teheran ajukan. Sebelumnya, Washington mengharapkan Iran segera menghentikan program nuklirnya. Namun, proposal Iran justru menunda pembahasan isu nuklir hingga konflik berakhir dan perselisihan pelayaran selesai.

Posisi Tegas Washington: Tidak Ada Nuklir bagi Iran

Trump menegaskan komitmennya untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Ia menolak memberikan konsesi tanpa adanya jaminan keamanan yang nyata. “Kami akan merebut stok uranium mereka. Kami tidak menginginkannya, kami akan memusnahkannya,” ujar Trump di Gedung Putih.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Senada dengan hal tersebut, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memperingatkan bahwa solusi diplomatik tidak akan tercapai jika Teheran tetap bersikeras menerapkan sistem pungutan biaya (tolling) di Selat Hormuz. Meski begitu, Rubio mengakui terdapat “beberapa tanda positif” dalam komunikasi awal dengan Iran. Oleh sebab itu, ia meminta publik untuk menunggu perkembangan negosiasi dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga :  Trump Ancam Tindakan Keras dan Intelijen Rudal Israel

Guncangan Pasar: Minyak Brent Tembus USD 100

Ketidakpastian ini memicu volatilitas hebat di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat anjlok ke bawah USD 100, namun segera bangkit kembali saat prospek perdamaian tampak menjauh.

Pelumpuhan lalu lintas di Selat Hormuz menjadi pemicu utama. Sebagai data perbandingan, biasanya 125 hingga 140 kapal melintasi selat ini setiap hari. Namun, saat ini hanya segelintir kapal yang berani melintas. Selain itu, pemerintah Iran secara resmi menyatakan akan menerapkan mekanisme pengawasan baru di wilayah tersebut. Langkah ini semakin mempersulit rantai pasok global yang sudah rapuh sejak Februari lalu.

Mediasi Pakistan dan Jalur Diplomasi

Di sisi lain, upaya perdamaian tetap berjalan meski tidak ada pertemuan tatap muka. Tiga sumber diplomatik mengonfirmasi bahwa Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, bertolak ke Teheran pada Kamis. Ia membawa pesan dari Washington guna mempercepat ritme komunikasi antara kedua belah pihak.

Baca Juga :  Lonjakan Harga Dunia Picu Kerusakan Hutan dan Krisis Merkuri

“Kami terus berkomunikasi dengan berbagai kelompok di Iran untuk mempercepat proses,” ujar salah satu sumber yang memahami detail negosiasi. Meskipun begitu, tuntutan Iran—seperti pencabutan sanksi dan pelepasan aset yang dibekukan—masih menjadi tantangan besar bagi tim negosiasi yang dipimpin oleh Jared Kushner dan Steve Witkoff.

Dampak Politik Domestik bagi Trump

Trump menghadapi tekanan politik yang berat di dalam negeri. Kenaikan harga bensin yang drastis mulai menyulut ketidakpuasan pemilih. Hal ini tercermin dari tingkat kepuasan publik yang mencapai titik terendah dalam masa jabatannya.

Dengan demikian, kegagalan mengakhiri perang ini akan menjadi batu sandungan bagi Partai Republik dalam pemilihan kongres bulan November mendatang. Masyarakat Amerika menuntut penjelasan yang lebih transparan mengenai alasan keterlibatan negara dalam perang Iran yang telah menelan biaya fantastis.

Menanti Keputusan Teheran

Masyarakat internasional kini menanti langkah teknis selanjutnya dari Teheran. Singkatnya, keberhasilan mediasi Pakistan akan menjadi kunci dalam mencegah krisis energi yang lebih luas.

Maka dari itu, dunia tetap waspada terhadap potensi eskalasi militer baru. Jika negosiasi terus menemui jalan buntu, kedaulatan Selat Hormuz akan tetap menjadi medan tempur paling berbahaya di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya
Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial
Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop
Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris
AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker
Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki
Korban Gempa Venezuela Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan
Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:48 WIB

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:04 WIB

Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:56 WIB

Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:38 WIB

AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:31 WIB

Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki

Berita Terbaru

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Jul 2026 - 18:48 WIB