YERUSALEM, POSNEWS.CO.ID – Kabar mengejutkan muncul dari para aktivis bantuan kemanusiaan pasca-penahanan mereka oleh militer Israel. Peserta misi Global Sumud Flotilla melaporkan adanya penganiayaan fisik saat mereka mencoba menembus blokade laut di Gaza.
Para aktivis membeberkan detail kejadian tersebut setelah otoritas Israel mendeportasi mereka ke Turki pada Kamis (7/5/2026). Mereka mengaku mendapatkan pukulan, tendangan, bahkan serangan dari anjing pelacak saat aparat memindahkan mereka ke kapal militer.
Pengalaman Pahit di Atas Kapal Tahanan
Sejumlah aktivis menceritakan pengalaman traumatis mereka kepada media. Dalam hal ini, salah satu saksi mata menyebutkan bahwa tentara menahan mereka di dalam kontainer tertutup segera setelah kapal dicegat. Selanjutnya, mereka mendengar jeritan rekan-rekan mereka yang mendapatkan serangan fisik di luar kontainer tersebut.
“Kami menghadapi periode di mana kami tidak bisa berdiri,” ujar seorang aktivis. Selain itu, ia mengaku petugas menyeret mereka dengan menjambak rambut. Borgol besi pun meninggalkan bekas luka yang serius pada pergelangan tangan mereka.
Setelah tiba di Pelabuhan Ashdod, situasi justru memburuk. Otoritas menolak memberikan akses komunikasi bagi para aktivis kepada pengacara atau kedutaan besar negara asal. Oleh karena itu, petugas memaksa mereka menandatangani dokumen di bawah tekanan. Saat mereka menolak, petugas memperlakukan mereka layaknya tahanan kriminal kelas berat dengan pengawalan anjing pelacak yang agresif.
Bantahan Keras dari Otoritas Israel
Israel menolak semua tuduhan tersebut secara tegas. Juru bicara Layanan Penjara Israel, Zivan Freidin, menyatakan bahwa seluruh laporan penganiayaan tersebut tidak benar. “Tuduhan ini palsu dan sama sekali tidak memiliki dasar fakta,” tegas Freidin dalam sebuah pernyataan.
Militer Israel mengeklaim mereka hanya menggunakan metode non-letal sebagai peringatan. Mereka pun membantah penggunaan peluru tajam dalam operasi intersepsi tersebut. Namun, penyelenggara Global Sumud Flotilla tetap bersikeras bahwa prajurit melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal bantuan mereka di perairan internasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Respon Diplomatik dan Kecaman Internasional
Insiden ini memicu kemarahan di berbagai ibu kota negara. Presiden Turki, Tayyip Erdogan, mengutuk keras intervensi militer Israel terhadap para “peziarah harapan” tersebut. Oleh karena itu, ia mendesak komunitas global agar mengambil tindakan tegas terhadap kebijakan blokade Israel.
Selain itu, pemerintah negara lain juga mengambil langkah serupa:
- Italia: Memanggil duta besar Israel di Roma sebagai bentuk protes resmi.
- Kanada: Kementerian Luar Negeri memanggil duta besar Israel untuk menuntut penjelasan.
- Turki dan Yunani: Melayangkan nota protes diplomatik atas perlakukan kasar terhadap warga negara mereka.
Diplomasi di Tengah Krisis Kemanusiaan
Tragedi penahanan massal ini mencerminkan rumitnya akses kemanusiaan di zona konflik tahun 2026. Singkatnya, setiap upaya pengiriman bantuan mandiri selalu berisiko tinggi menghadapi tindakan militer yang brutal.
Dengan demikian, masyarakat internasional kini menanti langkah lanjutan guna membuka koridor bantuan yang aman. Selama aksi blokade dan penindasan terhadap petugas kemanusiaan masih berlangsung, krisis di Gaza akan terus menelan korban jiwa di tengah ketidakmampuan diplomasi dunia dalam meredam konflik.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












