Aktivis Flotilla Gaza Ungkap Dugaan Kekerasan oleh Militer Israel

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Klaim penganiayaan di laut lepas. Para aktivis bantuan kemanusiaan melaporkan serangkaian tindak kekerasan fisik setelah militer Israel mencegat armada

Klaim penganiayaan di laut lepas. Para aktivis bantuan kemanusiaan melaporkan serangkaian tindak kekerasan fisik setelah militer Israel mencegat armada "Global Sumud Flotilla" yang berlayar menuju Gaza. Dok: (Cecilia Fabiano/LaPresse via AP)

YERUSALEM, POSNEWS.CO.ID – Kabar mengejutkan muncul dari para aktivis bantuan kemanusiaan pasca-penahanan mereka oleh militer Israel. Peserta misi Global Sumud Flotilla melaporkan adanya penganiayaan fisik saat mereka mencoba menembus blokade laut di Gaza.

Para aktivis membeberkan detail kejadian tersebut setelah otoritas Israel mendeportasi mereka ke Turki pada Kamis (7/5/2026). Mereka mengaku mendapatkan pukulan, tendangan, bahkan serangan dari anjing pelacak saat aparat memindahkan mereka ke kapal militer.

Pengalaman Pahit di Atas Kapal Tahanan

Sejumlah aktivis menceritakan pengalaman traumatis mereka kepada media. Dalam hal ini, salah satu saksi mata menyebutkan bahwa tentara menahan mereka di dalam kontainer tertutup segera setelah kapal dicegat. Selanjutnya, mereka mendengar jeritan rekan-rekan mereka yang mendapatkan serangan fisik di luar kontainer tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami menghadapi periode di mana kami tidak bisa berdiri,” ujar seorang aktivis. Selain itu, ia mengaku petugas menyeret mereka dengan menjambak rambut. Borgol besi pun meninggalkan bekas luka yang serius pada pergelangan tangan mereka.

Baca Juga :  Fotografi: Seni Murni atau Sekadar Dokumentasi Teknis?

Setelah tiba di Pelabuhan Ashdod, situasi justru memburuk. Otoritas menolak memberikan akses komunikasi bagi para aktivis kepada pengacara atau kedutaan besar negara asal. Oleh karena itu, petugas memaksa mereka menandatangani dokumen di bawah tekanan. Saat mereka menolak, petugas memperlakukan mereka layaknya tahanan kriminal kelas berat dengan pengawalan anjing pelacak yang agresif.

Bantahan Keras dari Otoritas Israel

Israel menolak semua tuduhan tersebut secara tegas. Juru bicara Layanan Penjara Israel, Zivan Freidin, menyatakan bahwa seluruh laporan penganiayaan tersebut tidak benar. “Tuduhan ini palsu dan sama sekali tidak memiliki dasar fakta,” tegas Freidin dalam sebuah pernyataan.

Militer Israel mengeklaim mereka hanya menggunakan metode non-letal sebagai peringatan. Mereka pun membantah penggunaan peluru tajam dalam operasi intersepsi tersebut. Namun, penyelenggara Global Sumud Flotilla tetap bersikeras bahwa prajurit melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal bantuan mereka di perairan internasional.

Respon Diplomatik dan Kecaman Internasional

Insiden ini memicu kemarahan di berbagai ibu kota negara. Presiden Turki, Tayyip Erdogan, mengutuk keras intervensi militer Israel terhadap para “peziarah harapan” tersebut. Oleh karena itu, ia mendesak komunitas global agar mengambil tindakan tegas terhadap kebijakan blokade Israel.

Baca Juga :  Trump Tolak Proposal Iran Saat Harga Minyak Dunia Melonjak

Selain itu, pemerintah negara lain juga mengambil langkah serupa:

  • Italia: Memanggil duta besar Israel di Roma sebagai bentuk protes resmi.
  • Kanada: Kementerian Luar Negeri memanggil duta besar Israel untuk menuntut penjelasan.
  • Turki dan Yunani: Melayangkan nota protes diplomatik atas perlakukan kasar terhadap warga negara mereka.

Diplomasi di Tengah Krisis Kemanusiaan

Tragedi penahanan massal ini mencerminkan rumitnya akses kemanusiaan di zona konflik tahun 2026. Singkatnya, setiap upaya pengiriman bantuan mandiri selalu berisiko tinggi menghadapi tindakan militer yang brutal.

Dengan demikian, masyarakat internasional kini menanti langkah lanjutan guna membuka koridor bantuan yang aman. Selama aksi blokade dan penindasan terhadap petugas kemanusiaan masih berlangsung, krisis di Gaza akan terus menelan korban jiwa di tengah ketidakmampuan diplomasi dunia dalam meredam konflik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati
Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali
Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan
Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan
Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global
Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran
Pelajar dan Guru Turun ke Jalanan Athena Menuntut Hunian Murah

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:19 WIB

Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:14 WIB

Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan

Berita Terbaru