Model Beijing: Kapitalisme Otoriter Penantang Demokrasi Liberal

Jumat, 7 November 2025 - 16:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Tiongkok membuktikan Anda bisa kaya tanpa demokrasi.

Ilustrasi, Tiongkok membuktikan Anda bisa kaya tanpa demokrasi. "Model Beijing" (kapitalisme otoriter) kini menantang langsung model demokrasi liberal yang dipimpin Barat. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID Selama setengah abad terakhir, dunia hidup di bawah satu asumsi dominan, terutama setelah runtuhnya Uni Soviet. Asumsi itu adalah: jika sebuah negara ingin makmur, ia harus mengadopsi paket Demokrasi Liberal ala Barat. Kapitalisme dan demokrasi publik anggap sebagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.

Lalu, Tiongkok datang dan menghancurkan asumsi tersebut.

Dalam tiga dekade, Tiongkok bertransformasi dari negara agraris yang terisolasi menjadi raksasa ekonomi global. Mereka mengeluarkan ratusan juta orang dari kemiskinan dengan kecepatan yang luar biasa. Namun, Tiongkok tidak menjadi lebih demokratis seiring kekayaannya bertambah, seperti yang Barat prediksi. Sebaliknya, Tiongkok justru menyempurnakan sistem kontrol politik otoriter satu partai.

Inilah fenomena yang paling mendefinisikan tatanan dunia saat ini: kebangkitan “Model Beijing”.

Beijing Consensus: Kapitalisme di Bawah Kendali

Para analis politik-ekonomi global menjuluki resep pembangunan Tiongkok ini sebagai “Beijing Consensus”. Ini adalah sebuah model hibrida. Model ini memadukan dua hal yang sebelumnya publik anggap bertentangan:

  1. Kapitalisme Pasar Agresif: Di satu sisi, Tiongkok merangkul elemen pasar bebas. Mereka mendorong manufaktur, perdagangan global, kompetisi internal, dan inovasi teknologi secara sangat agresif.
  2. Kontrol Politik Otoriter: Di sisi lain, semua aktivitas ekonomi ini berada di bawah kendali ketat Partai Komunis Tiongkok (PKT). Negara mengarahkan investasi besar-besaran (lewat BUMN raksasa) dan mengontrol sistem perbankan. Yang terpenting, mereka membungkam semua oposisi politik dan kebebasan sipil yang mengancam stabilitas.
Baca Juga :  The Guardian Sebut IKN Jadi Kota Hantu, DPR Ngamuk “Buktikan Dengan Progres Nyata”

Singkatnya: Anda boleh kaya, tapi jangan pernah menantang kekuasaan Partai.

Kontras dengan Washington Consensus

Model Beijing ini adalah antitesis sekaligus penantang langsung dari “Washington Consensus”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Washington Consensus” adalah resep standar yang Barat (terutama AS, IMF, dan Bank Dunia) promosikan selama puluhan tahun kepada negara-negara berkembang. Resep ini selalu berupa satu paket: privatisasi aset negara, deregulasi pasar penuh, dan adopsi demokrasi liberal sebagai syarat pinjaman atau investasi.

Baca Juga :  Pengukuhan Mojtaba Khamenei: Trump Prediksi Perang Usai di Tengah Gejolak Minyak Dunia

Tiongkok membuktikan kepada dunia bahwa ada alternatif lain, terutama bagi negara berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Model Beijing menawarkan “jalan pintas”. Negara-negara bisa mencapai kemakmuran ekonomi tanpa harus repot dengan syarat demokrasi, HAM, atau kebebasan pers ala Barat.

Persaingan Dua Model Abad Ke-21

Inilah pertarungan geopolitik sesungguhnya di abad ke-21. Ini bukan lagi sekadar perang dagang tarif. Ini adalah pertarungan ideologi fundamental tentang cara terbaik mengelola sebuah negara.

Di satu sudut, ada model Kapitalisme Demokrasi (AS/Eropa). Model ini menjanjikan kebebasan individu, namun sering terlihat lambat dan terpecah belah. Di sudut lain, ada model Kapitalisme Otoriter (Tiongkok/Rusia). Model ini mengorbankan kebebasan, namun menawarkan ilusi efisiensi, stabilitas, dan pembangunan cepat.

Hasil akhir persaingan dua model ekonomi politik ini akan menentukan tatanan dunia yang akan kita tinggali.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Operasi Ketupat 2026 Hari ke-11: 251 Kecelakaan, 17 Tewas – Arus Balik Mulai Meningkat
Bom Waktu 48 Jam: Trump Ancam Ratakan Listrik Iran, Teheran Targetkan Fasilitas Air Teluk
Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026
Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem
Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari
Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026
Arus Balik Lebaran 2026: Ribuan Motor Padati Pelabuhan Bakauheni, Antrean Mengular
Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 19:10 WIB

Operasi Ketupat 2026 Hari ke-11: 251 Kecelakaan, 17 Tewas – Arus Balik Mulai Meningkat

Senin, 23 Maret 2026 - 18:30 WIB

Bom Waktu 48 Jam: Trump Ancam Ratakan Listrik Iran, Teheran Targetkan Fasilitas Air Teluk

Senin, 23 Maret 2026 - 17:14 WIB

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Maret 2026 - 16:57 WIB

Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem

Senin, 23 Maret 2026 - 16:30 WIB

Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari

Berita Terbaru

Ilustrasi, Perebutan garis depan terakhir. Mencairnya es di Kutub Utara membuka jalur perdagangan baru dan akses energi yang memicu persaingan militer antara Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Mar 2026 - 17:14 WIB