KYIV, POSNEWS.CO.ID – Awan gelap menggantung di atas Kyiv, bukan hanya karena musim dingin yang mendekat, tetapi juga karena tekanan politik yang mencekik. Presiden Volodymyr Zelenskyy tengah menghadapi salah satu momen paling sulit dalam sejarah Ukraina.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja menjatuhkan bom diplomatik. Secara mengejutkan, ia menuntut Kyiv untuk menerima “rencana perdamaian” yang didukung AS dalam hitungan hari.
Trump menetapkan Kamis depan (27/11/2025), yang bertepatan dengan hari Thanksgiving di AS, sebagai tenggat waktu terakhir. Jika Zelenskyy menolak, Ukraina terancam kehilangan segalanya.
Pilihan Mustahil: Martabat atau Kelangsungan Hidup?
Dalam pidato suram berdurasi 10 menit di luar istana kepresidenan, Zelenskyy tampak tertekan. Ia menyebut negaranya sedang menghadapi pilihan yang mustahil.
Di satu sisi, Ukraina ingin menjaga martabat nasional dan konstitusinya. Di sisi lain, mereka berisiko kehilangan mitra utama jika menolak keinginan pemerintahan AS.
“Sekarang tekanan terhadap Ukraina adalah salah satu yang terberat,” ujar Zelenskyy dengan nada berat.
Opsinya sangat terbatas. Ia bisa menyetujui proposal 28 poin Trump atau menghadapi “musim dingin yang sangat sulit”. Pasalnya, Rusia telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur energi negara itu. Jutaan rakyat kini hidup tanpa pemanas dalam kegelapan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Menyetujui rencana ini bisa membuat Ukraina kehilangan kebebasan, martabat, dan keadilan,” tambahnya. Meski begitu, ia menegaskan tidak akan mengkhianati kepentingan Ukraina.
Isi Proposal: Penyerahan Wilayah dan Pelucutan Senjata
Rincian rencana 28 poin tersebut memicu kemarahan di kalangan pejabat Eropa dan Ukraina. Singkatnya, proposal itu memaksa Ukraina menyerahkan wilayah Donbas timur, termasuk area yang saat ini masih mereka kuasai.
Tak hanya itu, Ukraina harus mengurangi ukuran angkatan bersenjatanya secara drastis. Bahkan, rencana itu menutup pintu bagi pengerahan pasukan penjaga perdamaian Eropa dan melarang Ukraina bergabung dengan NATO.
Pejabat Eropa menyebut proposal ini sebagai bentuk “kapitulasi” atau menyerah tanpa syarat. Akan tetapi, Trump bersikeras bahwa ini adalah jalan terbaik.
“Kami pikir Kamis adalah waktu yang tepat,” kata Trump kepada Fox News Radio. “Ukraina akan kalah dalam waktu singkat jika terus berperang.”
Ancaman Pemutusan Intelijen
Gedung Putih tampaknya serius dengan “garis waktu agresif” ini. Laporan menyebutkan bahwa Trump siap menggunakan kartu as-nya. Ia mengancam akan memutus pembagian intelijen vital dan pasokan senjata jika Kyiv gagal menyepakati kesepakatan.
Sebelumnya, taktik serupa pernah terjadi pada Februari lalu. Trump sempat menangguhkan pembagian intelijen pasca-perdebatan panas di Ruang Oval. Akibatnya, unit garis depan Ukraina sempat buta informasi di medan perang.
Seorang pejabat AS menegaskan posisi Washington. “Sudah sangat tersirat kepada Ukraina bahwa Amerika Serikat mengharapkan mereka menyetujui kesepakatan damai,” ujarnya.
Reaksi Beragam: Putin Senang, Eropa Meradang
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyambut positif perkembangan ini. Ia mengonfirmasi bahwa Moskow telah menerima salinan rencana tersebut.
“Saya percaya ini bisa meletakkan dasar bagi penyelesaian perdamaian akhir,” kata Putin. Namun, Kremlin tetap meminta jaminan hukum bahwa NATO tidak akan berekspansi ke timur.
Sebaliknya, sekutu Barat bereaksi keras. Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan PM Inggris Keir Starmer langsung menghubungi Zelenskyy. Mereka menegaskan solidaritas penuh.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, memperingatkan bahaya jangka panjang. Menurutnya, kesepakatan damai yang memberi hadiah pada agresi akan menjadi preseden global yang sangat berbahaya.
“Jika Anda menyerah pada agresi, maka Anda mengundang lebih banyak agresi,” tegas Kallas.
Kini, Zelenskyy berpacu dengan waktu. Ia berencana mengajukan alternatif untuk merevisi rencana AS tersebut. Namun, dengan posisi Trump yang keras, nasib Ukraina benar-benar berada di ujung tanduk menjelang Thanksgiving nanti.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency





















