JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Jutaan pasang mata dulu terpaku pada layar televisi setiap musim penghargaan tiba. Keluarga berkumpul menanti pengumuman pemenang Oscars atau Grammys dengan antusias. Namun, pemandangan itu kini tinggal kenangan.
Data statistik menunjukkan fakta pahit. Rating penonton siaran langsung acara penghargaan tersebut terjun bebas dari tahun ke tahun. Generasi muda tampaknya tidak lagi peduli.
Seketika, muncul pertanyaan besar yang menggantung di udara. Apakah piala berlapis emas itu masih relevan di era digital ini? Atau, mereka hanya sisa-sisa kejayaan masa lalu yang sedang sekarat?
Krisis Kepercayaan dan Tagar #OscarsSoWhite
Masalah utamanya berakar pada hilangnya kepercayaan publik. Penonton mencium aroma ketidakadilan yang menyengat. Contohnya, tagar #OscarsSoWhite sempat mengguncang dunia karena minimnya nominasi untuk aktor kulit berwarna.
Selain itu, tuduhan korupsi dan politik di balik layar sering terdengar. Publik merasa juri atau voters tidak lagi terhubung dengan realitas.
Juri sering kali memenangkan film seni yang sepi penonton. Sebaliknya, mereka mengabaikan film populer yang dicintai masyarakat luas. Akibatnya, acara ini terasa elitis dan berjarak dari selera publik.
Drama Viral Lebih Penting dari Prestasi
Ironisnya, acara penghargaan kini bertahan hidup bukan karena prestasinya. Justru, mereka menjadi relevan kembali hanya karena drama di atas panggung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masih ingatkah Anda siapa pemenang Film Terbaik saat insiden Will Smith menampar Chris Rock? Kemungkinan besar Anda lupa. Faktanya, dunia lebih sibuk membicarakan tamparan itu daripada karya seni yang menang.
Penyelenggara tampaknya sadar akan hal ini. Lantas, mereka sering menciptakan momen-momen gimmick agar viral di media sosial. Prestasi seni menjadi nomor dua, sedangkan viralitas menjadi tujuan utama.
Seniman Tak Lagi Butuh Validasi Kuno
Perspektif seniman pun mulai bergeser. Dulu, memenangkan Grammy adalah jaminan kenaikan bayaran manggung. Kini, tolak ukur kesuksesan telah berubah.
Angka streaming di Spotify atau jumlah pengikut di Instagram sering kali lebih menentukan kesuksesan finansial. Seniman bisa membangun kerajaan bisnis mereka sendiri tanpa perlu pengakuan dari sekelompok juri tua di ruangan tertutup.
The Weeknd dan beberapa artis besar lainnya bahkan berani memboikot acara ini. Bagi mereka, validasi langsung dari penggemar jauh lebih nyata dan menguntungkan daripada sebuah piala besi.
Sekadar Pesta Kostum Mahal
Pada akhirnya, ajang penghargaan sedang mengalami transformasi identitas. Mereka bukan lagi standar emas penentu kualitas seni tertinggi.
Sebaliknya, acara ini perlahan berubah menjadi sekadar pesta selebritas eksklusif yang disiarkan televisi. Kita menontonnya hanya untuk melihat gaun mahal atau menunggu kejadian memalukan terjadi. Jika tidak segera berbenah, piala-piala itu hanya akan menjadi pajangan berdebu yang kehilangan kilaunya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















