Tambang Ilegal: Lingkaran Setan Kemiskinan, Mafia, dan Racun Merkuri

Kamis, 18 Desember 2025 - 07:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kilau emas berujung maut. Tambang ilegal menjamur, menyisakan kerusakan saraf dan alam. Simak fakta kelam PETI yang jarang terungkap. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kilau emas berujung maut. Tambang ilegal menjamur, menyisakan kerusakan saraf dan alam. Simak fakta kelam PETI yang jarang terungkap. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Hutan-hutan di pelosok nusantara kini tak lagi hijau dan asri. Suara mesin dongfeng menderu menggantikan kicau burung. Fenomena Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) telah menjamur bak cendawan di musim hujan.

Ribuan orang menggantungkan hidup pada lubang tikus yang sempit dan gelap. Mereka bertaruh nyawa setiap hari demi butiran logam mulia. Namun, di balik kilau emas itu, tersimpan ancaman mematikan yang siap meledak kapan saja.

Struktur Timpang: Cukong dan Bekingan

Sebenarnya, siapa pemain utama dalam bisnis haram ini? Struktur bisnis PETI sangatlah timpang. Di lapisan terbawah, ada penambang kecil yang nekat. Mereka bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan, melainkan sekadar menyambung hidup sehari-hari.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di atas mereka, bercokol para pemodal atau yang sering kita sebut “cukong”. Mereka meminjamkan modal alat dan bahan kimia dengan bunga tinggi. Lantas, keuntungan terbesar mengalir ke kantong mereka tanpa perlu berkeringat dan kotor.

Baca Juga :  Swedia Resmi Larang Ponsel di Sekolah Mulai 2026

Parahnya lagi, praktik ini sulit aparat berantas tuntas. Dugaan adanya bekingan oknum aparat membuat mafia tambang ini kebal hukum. Mata rantai ini melanggengkan operasi ilegal meski kerusakan di depan mata sangat nyata.

Hantu Minamata dan Kerusakan Saraf

Bahaya terbesar justru tidak terlihat oleh mata telanjang. Penambang menggunakan merkuri atau air raksa secara bebas untuk memisahkan emas dari tanah. Padahal, zat ini adalah racun saraf yang sangat ganas.

Akibatnya, ancaman kesehatan jangka panjang mengintai warga sekitar. Paparan merkuri dapat memicu kerusakan saraf permanen, tremor, hingga kelumpuhan.

Kita harus belajar dari tragedi Teluk Minamata di Jepang. Jangan sampai generasi mendatang kita mengalami nasib serupa. Bayi-bayi terancam lahir dengan cacat bawaan mengerikan karena orang tua mereka terpapar logam berat ini terus-menerus.

Menggali Kuburan Sendiri

Selain merusak tubuh, PETI juga menghancurkan alam secara brutal. Penggalian tanah berlangsung serampangan tanpa memperhitungkan struktur geologi yang aman. Penambang mengeruk tebing dan sungai sesuka hati demi urat emas.

Baca Juga :  Tim SAR Evakuasi 17 Pendaki dari Gunung Dukono, 2 WNA dan 1 WNI Belum Ditemukan

Seketika, alam membalas dendam. Bencana longsor dan banjir bandang menjadi tamu rutin di daerah tambang liar.

Lubang-lubang galian yang mereka tinggalkan begitu saja berubah menjadi danau beracun. Bahkan, lubang itu sering menjadi jebakan maut yang menelan korban jiwa saat hujan deras turun. Penambang seolah sedang menggali kuburan mereka sendiri.

Solusi Perut, Bukan Cuma Hukum

Pada akhirnya, menangkap penambang kecil bukanlah solusi tuntas. Penegakan hukum saja tidak cukup. Masalah PETI sejatinya adalah masalah perut dan kemiskinan.

Oleh karena itu, pemerintah harus hadir dengan solusi ekonomi alternatif. Rakyat membutuhkan lapangan kerja yang layak dan aman di luar lubang tambang.

Tanpa solusi kesejahteraan yang nyata, lingkaran setan kemiskinan, mafia, dan kerusakan lingkungan ini akan terus berputar tanpa henti. Kita harus menyelamatkan rakyat dari ilusi emas yang mematikan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk
DPRD DKI Usul CCTV dan Patroli Rutin untuk Redam Kriminalitas

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:37 WIB

Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna

Berita Terbaru

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ilustrasi, Jamaah haji Indonesia di Makkah.  (Posnews/Ist)

NASIONAL

Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:37 WIB