JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Hutan-hutan di pelosok nusantara kini tak lagi hijau dan asri. Suara mesin dongfeng menderu menggantikan kicau burung. Fenomena Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) telah menjamur bak cendawan di musim hujan.
Ribuan orang menggantungkan hidup pada lubang tikus yang sempit dan gelap. Mereka bertaruh nyawa setiap hari demi butiran logam mulia. Namun, di balik kilau emas itu, tersimpan ancaman mematikan yang siap meledak kapan saja.
Struktur Timpang: Cukong dan Bekingan
Sebenarnya, siapa pemain utama dalam bisnis haram ini? Struktur bisnis PETI sangatlah timpang. Di lapisan terbawah, ada penambang kecil yang nekat. Mereka bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan, melainkan sekadar menyambung hidup sehari-hari.
Di atas mereka, bercokol para pemodal atau yang sering kita sebut “cukong”. Mereka meminjamkan modal alat dan bahan kimia dengan bunga tinggi. Lantas, keuntungan terbesar mengalir ke kantong mereka tanpa perlu berkeringat dan kotor.
Parahnya lagi, praktik ini sulit aparat berantas tuntas. Dugaan adanya bekingan oknum aparat membuat mafia tambang ini kebal hukum. Mata rantai ini melanggengkan operasi ilegal meski kerusakan di depan mata sangat nyata.
Hantu Minamata dan Kerusakan Saraf
Bahaya terbesar justru tidak terlihat oleh mata telanjang. Penambang menggunakan merkuri atau air raksa secara bebas untuk memisahkan emas dari tanah. Padahal, zat ini adalah racun saraf yang sangat ganas.
Akibatnya, ancaman kesehatan jangka panjang mengintai warga sekitar. Paparan merkuri dapat memicu kerusakan saraf permanen, tremor, hingga kelumpuhan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kita harus belajar dari tragedi Teluk Minamata di Jepang. Jangan sampai generasi mendatang kita mengalami nasib serupa. Bayi-bayi terancam lahir dengan cacat bawaan mengerikan karena orang tua mereka terpapar logam berat ini terus-menerus.
Menggali Kuburan Sendiri
Selain merusak tubuh, PETI juga menghancurkan alam secara brutal. Penggalian tanah berlangsung serampangan tanpa memperhitungkan struktur geologi yang aman. Penambang mengeruk tebing dan sungai sesuka hati demi urat emas.
Seketika, alam membalas dendam. Bencana longsor dan banjir bandang menjadi tamu rutin di daerah tambang liar.
Lubang-lubang galian yang mereka tinggalkan begitu saja berubah menjadi danau beracun. Bahkan, lubang itu sering menjadi jebakan maut yang menelan korban jiwa saat hujan deras turun. Penambang seolah sedang menggali kuburan mereka sendiri.
Solusi Perut, Bukan Cuma Hukum
Pada akhirnya, menangkap penambang kecil bukanlah solusi tuntas. Penegakan hukum saja tidak cukup. Masalah PETI sejatinya adalah masalah perut dan kemiskinan.
Oleh karena itu, pemerintah harus hadir dengan solusi ekonomi alternatif. Rakyat membutuhkan lapangan kerja yang layak dan aman di luar lubang tambang.
Tanpa solusi kesejahteraan yang nyata, lingkaran setan kemiskinan, mafia, dan kerusakan lingkungan ini akan terus berputar tanpa henti. Kita harus menyelamatkan rakyat dari ilusi emas yang mematikan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















