WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – – Ambisi Tony Blair untuk kembali ke panggung utama diplomasi Timur Tengah harus kandas. Mantan Perdana Menteri Inggris itu tidak akan menduduki posisi kunci dalam “Dewan Perdamaian” Gaza bentukan Donald Trump.
Kabar ini mencuat setelah adanya gelombang penolakan dari dunia Islam. Menurut laporan Financial Times, tim Trump telah mencoret nama Blair secara diam-diam dari pertimbangan.
Awalnya, Trump berencana menempatkan Blair sebagai figur sentral dalam pemerintahan transisi Gaza. Rencana ini disusun bersama menantu Trump, Jared Kushner. Namun, realitas politik di lapangan berkata lain. Trump kini menyatakan akan memimpin dewan tersebut seorang diri.
Hantu Invasi Irak 2003
Penolakan terhadap Blair bukanlah kejutan besar. Pasalnya, reputasinya di dunia Arab sudah lama hancur. Masyarakat Timur Tengah memandangnya dengan skeptis dan penuh permusuhan.
Penyebab utamanya adalah peran Blair dalam invasi Irak tahun 2003 yang dipimpin Amerika Serikat. Kala itu, kebijakan tersebut memicu bencana kemanusiaan dan ketidakstabilan regional yang berkepanjangan.
Selain itu, rekam jejak Blair sebagai utusan Kuartet Timur Tengah (PBB, Uni Eropa, AS, Rusia) juga dinilai mengecewakan. Kritikus menyoroti minimnya prestasi Blair dalam memediasi perdamaian selama menjabat posisi tersebut.
Trump: “Saya Suka Tony, Tapi…”
Presiden Trump sebenarnya menaruh hormat pada Blair. Ia sempat memujinya sebagai “orang yang sangat baik” saat meluncurkan rencana perdamaian 20 poin pada September lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akan tetapi, Trump harus bersikap pragmatisme. Ia menyadari bahwa Blair tetaplah figur yang kontroversial.
“Saya selalu menyukai Tony, tapi saya ingin mencari tahu apakah dia pilihan yang bisa diterima oleh semua orang,” aku Trump pada Oktober lalu.
Meskipun Blair dikabarkan sempat bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara rahasia, pintu tampaknya sudah tertutup. Sumber internal menyebut Blair mungkin hanya akan memainkan peran kecil di kapasitas yang berbeda, bukan di kursi eksekutif utama.
Kekacauan Rencana Gaza
Pada akhirnya, batalnya penunjukan ini menambah daftar kekacauan dalam rencana Trump untuk Gaza. Gedung Putih masih kesulitan merekrut negara-negara yang bersedia mengirim pasukan penjaga perdamaian.
Sementara itu, serangan mematikan Israel terus berlanjut di jalur pantai tersebut. Absennya figur yang bisa diterima semua pihak membuat masa depan pemerintahan transisi Gaza semakin tidak menentu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















