Dokter Iran Bongkar Kedok Pembantaian 30.000 Jiwa

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peluang damai dari Doha. Amerika Serikat dan Iran menyepakati perundingan darurat di Qatar guna meredakan ketegangan perang pasca-sains aksi saling serang di Teluk Arab. Dok: Istimewa.

Peluang damai dari Doha. Amerika Serikat dan Iran menyepakati perundingan darurat di Qatar guna meredakan ketegangan perang pasca-sains aksi saling serang di Teluk Arab. Dok: Istimewa.

TEHERAN/LONDON, POSNEWS.CO.ID – Pada Kamis, 8 Januari, ponsel Dr. Ahmadi (nama samaran) mulai bergetar di sebuah kota menengah di Iran. Pesan-pesan panik masuk dari rekan-rekannya di unit gawat darurat.

Awalnya, polisi menghadapi demonstran dengan pentungan dan senapan pelet. Luka-lukanya masih bisa tertangani. Namun, situasi berubah drastis dalam semalam.

Keesokan harinya, gelombang pasien datang dengan luka tembak jarak dekat dan tusukan parah. Targetnya spesifik dan brutal: dada, mata, dan alat kelamin. Akibatnya, banyak korban yang tidak selamat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah pemadaman internet total yang rezim terapkan, Ahmadi menyadari bahwa tidak ada yang tahu gambaran nasional yang sebenarnya. Oleh karena itu, ia mengambil risiko besar dengan membentuk jaringan rahasia berisi lebih dari 80 profesional medis di 12 provinsi.

Data yang mereka kumpulkan menyingkap sebuah horor yang tak terbayangkan: skala kekerasan negara ini jauh melampaui apa yang dunia ketahui.

Estimasi Mengerikan: 30.000 Nyawa Melayang

Selanjutnya, Ahmadi dan rekan-rekannya sepakat pada satu kesimpulan: angka kematian resmi adalah “peremehan yang parah”.

Setelah membandingkan data lapangan dengan baseline rumah sakit, mereka memperkirakan jumlah korban tewas bisa melebihi 30.000 orang. Angka ini jauh di atas klaim pemerintah (3.000) atau bahkan estimasi kelompok hak asasi manusia HRANA (22.000).

Baca Juga :  Bareskrim Tahan AKP Deky Jonathan Sasiang, Kasus Narkoba Kutai Barat Terus Dikembangkan

“Kematian yang terdaftar secara resmi kemungkinan mewakili kurang dari 10% dari jumlah kematian yang sebenarnya,” simpul jaringan dokter tersebut.

Seorang dokter di Teheran menggambarkan trauma yang ia alami kepada The Guardian: “Saya berada di ambang kehancuran psikologis. Mereka telah melakukan pembunuhan massal terhadap orang-orang. Tidak ada yang bisa membayangkan… Saya hanya melihat darah, darah, dan darah.”

Truk Es Krim dan Kuburan Massal

Sementara itu, aparat melakukan upaya penyembunyian mayat secara sistematis dan mengerikan. Kesaksian dari staf kamar mayat dan penggali kubur mengungkap kekacauan logistik akibat banyaknya jenazah.

Di satu kamar mayat, staf menghadapi beberapa truk yang penuh sesak dengan mayat. Jumlah tersebut jauh melebihi kapasitas pendingin. Ketika pekerja mencoba melacak ke mana mayat-mayat itu pergi setelah penolakan, mereka menemukan bahwa jenazah-jenazah itu lenyap. Jejaknya mengarah pada satu dugaan kuat: dafn-e dast-e jam’i atau penguburan massal.

Saksi mata di pemakaman Behesht-e Sakineh, Karaj, memberikan laporan yang senada.

“Pada 10 dan 11 Januari, mereka membawa ratusan mayat yang dikatakan tidak diklaim dan tidak teridentifikasi,” ungkap Reza, seorang saksi mata.

Petugas mengangkut jenazah-jenazah ini menggunakan truk pikap kecil, truk daging, bahkan mobil van es krim untuk menghindari kecurigaan. Reza menggambarkan pemandangan horor di mana mayat-mayat tersebut “saling menempel begitu erat hingga butuh tenaga untuk memisahkannya,” dengan darah yang masih segar.

Baca Juga :  Danau Cincin Disulap Jadi Ruang Publik, Gubernur DKI Dorong Museum Persija

Bahkan, staf pemakaman mengaku menerima perintah untuk mengubur mayat-mayat ini di lubang massal. “Saya takut melakukannya… orang-orang pada akhirnya akan datang mencari anggota keluarga mereka yang hilang,” ujar seorang staf yang ketakutan.

Eksekusi di Ranjang Rumah Sakit

Lebih jauh lagi, kekejaman tidak berhenti di jalanan. Laporan medis mengungkap indikasi kuat eksekusi di luar hukum yang terjadi di fasilitas kesehatan.

Petugas medis di dua kota berbeda menerima mayat dengan luka tembak jarak dekat di kepala. Yang mengejutkan, kateter, selang nasogastrik, atau selang endotrakeal masih menempel pada mayat-mayat ini.

“Ini sangat mencurigakan,” kata Dr. Ahmadi. “Biasanya, perawat melepas instrumen medis setelah kematian. Keberadaan alat-alat ini menunjukkan bahwa individu-individu ini meninggal saat masih dalam perawatan medis aktif.”

Analisis foto jenazah yang mengenakan baju rumah sakit dengan kateter terpasang dan lubang peluru di dahi menguatkan dugaan bahwa aparat menembak mati pasien yang sedang dirawat.

Menghapus Memori

Akhirnya, Dr. Ahmadi menyimpulkan bahwa semua ini bukan sekadar tindakan keras acak. Sebaliknya, ini adalah operasi terencana.

Mekanismenya mencakup menakut-nakuti pasien agar tidak ke rumah sakit, menghilangkan jenazah dari jalur forensik standar, dan membatasi kemampuan staf medis mencatat penyebab kematian.

“Mereka membentuk sistem yang mereka rancang bukan hanya untuk menekan protes,” pungkas Ahmadi, “tetapi untuk menekan ingatan.”

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Otoritas Bangkok Tetapkan Status Bencana di 50 Distrik
Polisi Afrika Selatan Temukan Jenazah Wanita Ke-10 di Ekurhuleni
Warga Madrid Gelar Demonstrasi Tuntut Reformasi Perumahan
Ledakan Gas Ambrukkan Bangunan di Athena, Tewaskan 6 Orang
Kolombia Ekstradisi Gembong Narkoba Geovany Andres Rojas
Donald Trump Tolak Iran Terkait Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Paus Leo XIV Pimpin Misa Terbuka di Champs-Élysées Paris
Penembakan Massal di Afrika Selatan Menewaskan 27 Orang

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 23:00 WIB

Otoritas Bangkok Tetapkan Status Bencana di 50 Distrik

Minggu, 27 September 2026 - 22:00 WIB

Polisi Afrika Selatan Temukan Jenazah Wanita Ke-10 di Ekurhuleni

Minggu, 27 September 2026 - 21:30 WIB

Warga Madrid Gelar Demonstrasi Tuntut Reformasi Perumahan

Minggu, 27 September 2026 - 21:00 WIB

Ledakan Gas Ambrukkan Bangunan di Athena, Tewaskan 6 Orang

Minggu, 27 September 2026 - 20:30 WIB

Kolombia Ekstradisi Gembong Narkoba Geovany Andres Rojas

Berita Terbaru

Ilustrasi, cuaca Jabodetabek berawan pada Senin 14 September 2026. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Jabodetabek 29 September, Bogor hingga Tangsel Waspada Hujan

Selasa, 29 Sep 2026 - 05:44 WIB