Fotografi: Seni Murni atau Sekadar Dokumentasi Teknis?

Rabu, 24 Desember 2025 - 13:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Iluistrasi, Lebih dari sekadar jepretan kamera! Perdebatan panjang soal status fotografi sebagai seni pernah memanas di abad ke-19. Simak evolusi

Iluistrasi, Lebih dari sekadar jepretan kamera! Perdebatan panjang soal status fotografi sebagai seni pernah memanas di abad ke-19. Simak evolusi "pelukis cahaya" ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kamera adalah penemuan yang mengubah cara kita melihat dunia. Namun, pada pertengahan abad ke-19, kehadirannya memicu perdebatan panas yang mungkin terdengar asing bagi kita hari ini.

Apakah fotografi itu seni? Atau, ia hanyalah produk mesin yang dingin dan kaku?

Banyak orang saat itu merayakan kemampuan kamera untuk merekam realitas secara akurat. Sebaliknya, para kritikus justru menggunakan argumen yang sama untuk menjatuhkannya. Mereka menilai “perekaman tanpa perasaan” itu tidak menyisakan ruang bagi kreativitas komposisi seniman.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kegilaan Industri” Menurut Baudelaire

Penyair Prancis ternama, Charles Baudelaire, adalah salah satu kritikus paling vokal. Ia menyebut fotografi sebagai “kegilaan industri” (industrial madness).

Menurut Baudelaire, fotografi seharusnya hanya menjadi pelayan bagi sains dan intelektualitas, bukan pengganti seni. Ia khawatir jika fotografi diizinkan mewakili seni, ia akan segera merusak atau menggantikan seni itu sendiri sepenuhnya.

Baca Juga :  Revolusi Hidrogen: Menyelamatkan Hutan Lewat Knalpot Mobil

Banyak orang sepakat dengannya. Mereka melihat akurasi material sebagai ciri khas fotografi. Oleh karena itu, mereka lebih menekankan fungsinya sebagai metode dokumentasi naturalistik belaka, bukan bentuk seni yang ekspresif.

Fotografer Melawan Balik: Piktorialisme

Fotografer tidak tinggal diam menghadapi kritik tersebut. Mereka merespons dengan dua cara. Pertama, sebagian menerima perbedaan itu dan mencoba menggali sifat intrinsik medium tersebut.

Kedua, kelompok lain berusaha keras membuktikan bahwa fotografi lebih dari sekadar mesin pencetak gambar. Mereka memanipulasi hasil foto agar menyerupai lukisan.

Gerakan ini melahirkan aliran “Piktorialisme” sejak 1850-an. Fotografer piktorialis sengaja membuat gambar menjadi kabur (blurred). Bahkan, mereka menggores cetakan foto dengan proses gum bichromate agar terlihat seperti kanvas lukisan tangan. Mereka memotret adegan religius atau alegoris untuk meniru gaya pelukis klasik.

Demokratisasi Potret Wajah

Di Inggris dan Prancis, fotografi awalnya dipuja karena kemampuan teknisnya. Namun, keterlibatan seniman terlatih mulai mengubah peta permainan pada akhir 1850-an. Margaret Harker mencatat pergeseran dari sekadar “mengambil gambar” (picture-taking) menjadi “membuat gambar” (picture-making).

Baca Juga :  Rekrutmen Damkar Jakarta 2025: 24 Ribu Pelamar, Hanya 17 Persen Lolos Administrasi

Dampak sosialnya pun luar biasa. Fotografi mulai merambah genre lukisan potret. Dulu, hanya kaum bangsawan kaya yang mampu membayar pelukis untuk duduk berjam-jam melukis wajah mereka.

Kini, studio foto menawarkan layanan serupa dengan harga jauh lebih murah dan cepat. Potret wajah menjadi demokratis. Rakyat biasa akhirnya bisa memiliki kemewahan untuk melihat wajah mereka sendiri terabadikan dalam bingkai.

Simbiosis dengan Lukisan

Lebih jauh lagi, kehadiran fotografi justru memprovokasi pelukis untuk bereksperimen. Karena kamera sudah sangat jago merekam realitas (likeness), pelukis merasa bebas dari beban harus melukis secara realistis.

Hal ini mendorong lahirnya aliran Impresionisme. Pelukis mulai menangkap “rasa” dari momen dan cahaya, bukan sekadar bentuk fisik yang kaku.

Pada akhirnya, fotografi juga memperluas jangkauan seni itu sendiri. Orang tidak perlu lagi pergi jauh ke Florence atau Mesir untuk melihat karya seni asli. Reproduksi foto memungkinkan siapa saja menikmati keindahan arsitektur dan lukisan dunia dari mana saja.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Adaptasi Game Raksasa: A24 Selesaikan Syuting Film Elden Ring
Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop
Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off
Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan
Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2
Novel Baru Dragonlance War Wizard Rilis Agustus
Adaptasi Film The Odyssey Tuai Kritik Keras dari Penerjemah
Avengers: Doomsday Pamerkan Robert Downey Jr. Sebagai Doctor Doom

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Adaptasi Game Raksasa: A24 Selesaikan Syuting Film Elden Ring

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:22 WIB

Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop

Jumat, 24 Juli 2026 - 06:30 WIB

Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off

Selasa, 21 Juli 2026 - 12:32 WIB

Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:30 WIB

Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2

Berita Terbaru

Rampungnya proses syuting Elden Ring. Sutradara Alex Garland dan studio A24 menyelesaikan tahapan pengambilan gambar film adaptasi game bernilai 100 juta dolar AS. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Adaptasi Game Raksasa: A24 Selesaikan Syuting Film Elden Ring

Sabtu, 1 Agu 2026 - 13:24 WIB