Gengsi di Balik Segelas Kopi

Kamis, 23 Oktober 2025 - 07:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari cangkir berlogo ikonik hingga unggahan Instagram, kopi mahal telah menjadi simbol status baru. Inilah bagaimana teori 'Conspicuous Consumption' Thorstein Veblen menjelaskan fenomena ini. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dari cangkir berlogo ikonik hingga unggahan Instagram, kopi mahal telah menjadi simbol status baru. Inilah bagaimana teori 'Conspicuous Consumption' Thorstein Veblen menjelaskan fenomena ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Pemandangan ini mungkin sudah tidak asing lagi: antrean panjang di gerai kopi bermerek internasional, orang-orang rela membayar lebih dari Rp50.000 untuk segelas minuman, dan dalam hitungan menit, cangkir dengan logo ikonik itu muncul di unggahan media sosial. Pertanyaannya, apakah rasa kopi itu benar-benar sepadan dengan harganya?

Bagi banyak orang, jawabannya mungkin tidak relevan. Fenomena ini bukanlah sekadar transaksi untuk mendapatkan kafein, melainkan sebuah pertunjukan sosial. Kita tidak hanya membeli kopi; kita membeli status yang menyertainya.

Ini adalah cerminan sempurna dari sebuah teori klasik berusia lebih dari seabad, gagasan dari ekonom dan sosiolog Thorstein Veblen: Conspicuous Consumption atau “Konsumsi Mencolok”.

Teori di Balik Gengsi

Pada tahun 1899, dalam bukunya The Theory of the Leisure Class, Veblen mengamati bahwa kelas atas (kaum kaya baru pada masanya) tidak membeli barang mewah semata-mata karena nilai guna atau kualitasnya. Sebaliknya, mereka membeli barang-barang tersebut justru karena harganya mahal.

Bagi Veblen, seseorang harus memamerkan kekayaan agar memiliki nilai sosial. Konsumsi mencolok adalah cara untuk mendemonstrasikan status sosial dan kekayaan seseorang secara publik. Membeli barang yang jelas-jelas mahal dan mungkin tidak praktis adalah sinyal kuat kepada masyarakat: “Saya mampu.”

Baca Juga :  Forum Boao 2026 Proyeksikan Asia Tumbuh 4,5 Persen

Analisis Segelas Kopi

Lalu, bagaimana secangkir kopi—sebuah komoditas yang relatif sederhana—bisa masuk ke dalam teori Veblen? Jawabannya terletak pada apa yang merek-merek kopi papan atas jual.

Pertama, Merek dan Logo sebagai Lencana Status. Saat Anda memegang cangkir dengan logo putri duyung hijau atau inisial minimalis dari kedai kopi specialty terkenal, Anda tidak hanya memegang kopi. Anda memegang sebuah simbol yang orang kenali secara instan. Logo tersebut berfungsi sebagai “lencana kehormatan” yang mengkomunikasikan selera, kemampuan finansial, dan keanggotaan Anda dalam kelompok sosial tertentu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua, Pengalaman sebagai Penanda Kelas. Merek-erek ini tidak hanya menjual minuman; mereka menjual “pengalaman”. Desain interior kafe yang chic dan ‘Instagrammable’, alunan musik yang telah mereka kurasi, dan suasana yang sibuk namun santai—mereka merancang semuanya untuk menciptakan lingkungan yang eksklusif.

Baca Juga :  BPBD DKI & TNI-AU Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Hingga 21 Agustus

Dalam analisis Veblen, ini bukan tentang minum kopi. Ini tentang terlihat minum kopi di tempat yang tepat. Media sosial kemudian bertindak sebagai akselerator, mengubah konsumsi pribadi menjadi pertunjukan publik global.

Perlombaan Status Digital

Di era digital, teori Veblen menjadi lebih relevan dari sebelumnya. Media sosial adalah panggung utama untuk konsumsi mencolok. Setiap unggahan adalah bentuk komunikasi sosial, sebuah upaya sadar atau tidak sadar untuk memposisikan diri dalam hierarki sosial.

Kita semua, pada tingkat tertentu, masuk dalam perangkap perlombaan status ini. Kopi mahal hanyalah salah satu dari sekian banyak properti panggung—bersama dengan sepatu kets edisi terbatas, gawai terbaru, dan liburan eksotis—yang kita gunakan untuk menceritakan siapa kita (atau siapa kita ingin terlihat).

Pada akhirnya, segelas kopi yang Anda beli mungkin memang enak. Namun, gengsi yang Anda rasakan saat membelinya, memegangnya, dan memamerkannya, seringkali merupakan kenikmatan utamanya. Seperti yang telah Veblen tunjukkan, terkadang apa yang kita konsumsi tidak sepenting apa yang konsumsi tersebut komunikasikan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Ini Hasil Hisab Rukyat Kemenag
Motor Dirampas Usai Kecelakaan, Polisi Selidiki Video Viral di Tambora
Pedagang Kurban Dilarang Pakai Trotoar di Jakarta, Satpol PP Perketat Patroli
Mengapa Terapi Gen Menjadi Pengobatan Masa Depan?
Viral Penculikan di Cakung, Korban Disekap di Showroom dan Dikeroyok, 2 Pelaku Dibekuk
Mengapa Beberapa Wilayah Memiliki Populasi Tertua di Dunia?
Adaptasi Genetik: Bisakah Spesies Bertahan dari Kepunahan?
Mengapa Teknologi mRNA Menjadi Revolusi Dunia Medis?

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 18:30 WIB

Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Ini Hasil Hisab Rukyat Kemenag

Minggu, 17 Mei 2026 - 18:07 WIB

Motor Dirampas Usai Kecelakaan, Polisi Selidiki Video Viral di Tambora

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:53 WIB

Pedagang Kurban Dilarang Pakai Trotoar di Jakarta, Satpol PP Perketat Patroli

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:28 WIB

Mengapa Terapi Gen Menjadi Pengobatan Masa Depan?

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:26 WIB

Viral Penculikan di Cakung, Korban Disekap di Showroom dan Dikeroyok, 2 Pelaku Dibekuk

Berita Terbaru

Ilustrasi, Menulis ulang kode kehidupan. Kemajuan dalam pemetaan genom dan teknologi penyuntingan CRISPR membawa harapan baru bagi penyembuhan penyakit bawaan, sembari memicu perdebatan etika terdalam dalam sejarah peradaban manusia. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Mengapa Terapi Gen Menjadi Pengobatan Masa Depan?

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:28 WIB