Imigrasi Bogor Bongkar Sindikat Scam Online 13 WN Jepang di Sentul City

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas Imigrasi Bogor menunjukkan barang bukti sindikat scam online WN Jepang di Sentul City berupa seragam polisi palsu dan perangkat elektronik. (Posnews/Ist)

Petugas Imigrasi Bogor menunjukkan barang bukti sindikat scam online WN Jepang di Sentul City berupa seragam polisi palsu dan perangkat elektronik. (Posnews/Ist)

BOGOR, POSNEWS.CO.ID – Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor membongkar sindikat penipuan online (scam online) yang melibatkan 13 warga negara (WN) Jepang di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor.

Para pelaku diduga menjalankan aksi penipuan lintas negara dengan menyasar korban sesama warga Jepang.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor, Ritus Ramadhana, menjelaskan pengungkapan kasus ini bermula dari laporan warga terkait aktivitas mencurigakan orang asing di kawasan hunian tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menindaklanjuti informasi itu, tim Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Inteldakim) langsung melakukan pengawasan intensif selama beberapa hari.

“Awalnya kami menerima laporan dari warga terkait pergerakan orang asing yang mencurigakan,” ujar Ritus, Rabu (4/3/2026).

Digerebek di Tiga Rumah, 13 WN Jepang Diamankan

Setelah mengantongi bukti awal, petugas menggerebek tiga rumah berbeda di Sentul City pada Senin (2/3/2026) malam. Hasilnya, 13 pria WN Jepang langsung diamankan.

Saat pemeriksaan, satu orang di antaranya tidak dapat menunjukkan paspor.

Baca Juga :  Jelang Ramadan 2026, Pemerintah Rilis Paket Stimulus Ekonomi dengan Diskon Transportasi

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan awal, seluruh WN Jepang tersebut diduga menjalankan praktik scam online dengan menyamar sebagai aparat di Jepang.

Plt. Direktur Jenderal Imigrasi, Brigjen Yuldi Yusman, mengungkapkan para pelaku berpura-pura sebagai anggota kepolisian Jepang.

Mereka menghubungi korban dan menuduh menggunakan alat ilegal, identitas palsu, atau kontrak fiktif untuk menakut-nakuti korban agar mentransfer uang.

“Mereka melakukan penipuan online dari Indonesia dengan menyamar sebagai polisi Jepang. Korbannya warga Jepang,” tegas Yuldi.

Selain itu, sebagian pelaku juga menyamar sebagai petugas provider telekomunikasi di Jepang. Aksi ini diketahui telah berlangsung sekitar satu bulan. Hingga kini, jumlah korban dan total kerugian masih didalami.

Sita Seragam Polisi Palsu dan Perangkat Canggih

Dalam penggerebekan tersebut, petugas menyita sejumlah barang bukti, antara lain atribut menyerupai seragam dan tanda pengenal kepolisian Jepang, puluhan telepon genggam, komputer, perangkat penguat (booster) dan pengacak sinyal, serta peralatan elektronik pendukung lainnya.

Baca Juga :  Pemprov DKI Cairkan Bansos Rp300 Ribu untuk Lansia, Anak, dan Disabilitas

“Barang bukti itu digunakan untuk menjalankan aksi scam online secara sistematis,” jelas Ritus.

Saat ini, ke-13 WN Jepang masih menjalani pemeriksaan intensif di Kantor Imigrasi Bogor. Pihak Imigrasi memastikan para pelaku akan dideportasi ke Jepang setelah proses administrasi selesai.

“Deportasinya ke Jepang. Di sana sudah menunggu kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut,” ujar Yuldi.

Imigrasi juga telah berkoordinasi dengan Konsulat Jepang di Jakarta terkait kasus ini. Pihak konsulat disebut terus memantau perkembangan penyelidikan.

Kasus ini menjadi peringatan bahwa Indonesia kerap dijadikan lokasi operasi sindikat scam internasional karena kemudahan akses teknologi.

Masyarakat diimbau tidak mudah percaya pada panggilan telepon yang mengatasnamakan aparat atau lembaga resmi, terutama jika disertai ancaman dan permintaan transfer uang.

Jika menerima panggilan mencurigakan, segera verifikasi ke lembaga resmi terkait dan laporkan ke pihak berwenang. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Suami Bunuh Istri di Kamar Kos Grogol, Polisi Sita Palu Berdarah
Modus Ganjal ATM Digagalkan di Pamulang, 3 Pelaku Ditangkap Warga
Pegawai KPK Jadi Tersangka, Diduga Bocorkan Kasus Bupati Pemalang
Survei IDM: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 81,5 Persen, Penegakan Hukum Jadi Faktor Terkuat
Hindari Amukan Massa, Polisi Evakuasi Sopir Kontainer Diduga Teler Tramadol
Polisi Bongkar Gudang Obat Keras di Tanah Abang, Tangkap 5 Orang
Sopir Kontainer Diduga Mabuk Tabrak 2 Mobil dan Motor di Plumpang
Budaya Evaluasi Jadi Kunci Reformasi DPD RI

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 15:03 WIB

Suami Bunuh Istri di Kamar Kos Grogol, Polisi Sita Palu Berdarah

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:44 WIB

Modus Ganjal ATM Digagalkan di Pamulang, 3 Pelaku Ditangkap Warga

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:20 WIB

Pegawai KPK Jadi Tersangka, Diduga Bocorkan Kasus Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:46 WIB

Survei IDM: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 81,5 Persen, Penegakan Hukum Jadi Faktor Terkuat

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:56 WIB

Hindari Amukan Massa, Polisi Evakuasi Sopir Kontainer Diduga Teler Tramadol

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB