LONDON, POSNEWS.CO.ID – Pintu Eropa kembali terbuka lebar bagi pelajar Inggris. Setelah terisolasi akibat Brexit, pemerintah Inggris akhirnya mengambil langkah strategis untuk bergabung kembali dengan skema Erasmus+ Uni Eropa (EU).
Kesepakatan ini menelan biaya sekitar £570 juta (sekitar Rp11,4 triliun). Rencananya, program ini akan mulai beroperasi kembali pada tahun 2027.
Langkah ini menjadi pemenuhan janji manifesto pemilu Partai Buruh di bawah Perdana Menteri Keir Starmer. Tujuannya jelas, pemerintah ingin memulihkan hubungan yang sempat retak dengan Brussels.
100.000 Pelajar Siap Terbang
Pemerintah Inggris memperkirakan dampak positif yang masif. Setidaknya, 100.000 orang dari segala usia bisa mendapatkan manfaat pada tahun pertama.
Program ini tidak hanya untuk mahasiswa universitas. Sebaliknya, Erasmus+ juga mencakup peluang pendidikan, pelatihan, budaya, dan olahraga bagi peserta magang, siswa pendidikan lanjutan, hingga pelajar dewasa.
Menteri Keterampilan, Jacqui Smith, menyambut antusias kesepakatan ini. “Ini adalah tentang meruntuhkan hambatan peluang,” ujarnya. Menurutnya, pengalaman internasional akan memberikan keterampilan dan kepercayaan diri yang sangat dihargai oleh pemberi kerja.
Diskon 30% dan Hibah Biaya Hidup
Kesepakatan ini diklaim menguntungkan pembayar pajak Inggris. Pemerintah menyebut telah mendapatkan diskon 30 persen dibandingkan persyaratan standar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Persyaratan ini mencapai keseimbangan yang adil antara kontribusi kami dan manfaat yang ditawarkan program,” tulis pernyataan resmi pemerintah.
Bagi mahasiswa, ini adalah berita yang sangat melegakan. Mereka bisa menghabiskan waktu hingga satu tahun belajar di universitas Eropa tanpa membayar biaya tambahan.
Bahkan, mereka berhak mendapatkan hibah untuk membantu biaya hidup di luar negeri. Hal ini berlaku juga bagi mereka yang menempuh penempatan kerja (work placement).
Menggantikan Skema Turing yang Gagal?
Keputusan ini sekaligus menjadi kritik tersirat terhadap kebijakan era Boris Johnson. Dulu, Johnson membawa Inggris keluar dari Erasmus dengan alasan “tidak sepadan secara nilai”.
Sebagai gantinya, pemerintah Konservatif saat itu membuat skema Turing yang lebih terbatas. Namun, Alex Stanley dari National Union of Students menyebut jumlah pelajar Inggris di Eropa anjlok drastis sejak saat itu.
“Sekarang, generasi pelajar berikutnya dari Inggris akan dapat mengalami semuanya lagi,” kata Stanley optimis. Di sisi lain, nasib skema Turing kini menjadi tanda tanya besar karena belum ada pengumuman resmi mengenai masa depannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















