Ancaman Diplomatik dan Gertakan Teluk
POSNEWS.CO.ID, TEHERAN — Iran melancarkan ancaman diplomatik tegas kepada negara-negara Teluk. Pemerintah Teheran bersiap menyerang kilang minyak, pembangkit listrik, dan jaringan air kawasan. Langkah ini bertujuan memaksa Presiden Donald Trump menghentikan serangan militer Amerika Serikat.
Oleh karena itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menghubungi para pejabat Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Araqchi meminta negara-negara Arab membujuk Trump agar memilih opsi diplomasi. Selain itu, Teheran menegaskan kesiapan penuh untuk menghancurkan aset-aset vital sekutu Amerika Serikat.
Lobi Arab Saudi dan Respons Trump
Di sisi lain, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman merespons cepat peringatan keras Iran. Pangeran Mohammed langsung menghubungi Donald Trump melalui sambungan telepon. Selanjutnya, Pemimpin Saudi tersebut mendesak Trump menunda serangan militer dan mempercepat gencatan senjata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, Trump membatalkan rencana serangan udara skala besar pada dua Agustus lalu. Namun, Trump menuntut kesepakatan damai terwujud dalam waktu singkat. Sementara itu, Arab Saudi menegaskan komitmen membela diri jika Iran melancarkan serangan balasan.
Risiko Eskalasi Kawasan dan Hambatan Perundingan
Namun, pemerintah Iran tetap menuntut penutupan pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk. Teheran juga meminta negara-negara Arab menghentikan pembagian data intelijen dengan Washington. Selain itu, para diplomat mengkhawatirkan ancaman serangan balasan yang menyerupai peristiwa Aramco.
Sebelumnya, serangan drone menghancurkan separuh produksi minyak Saudi pada tahun 2019. Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menghadapi hambatan dalam merumuskan kesepakatan damai. Washington tetap membutuhkan bukti kemenangan politik sebelum mengakhiri perang di kawasan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













