BANDUNG, POSNEWS.CO.ID – Jumlah korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat terus meningkat, mencapai 1.333 orang.
Meski sebagian pasien sudah diperbolehkan pulang, beberapa kembali menunjukkan gejala berulang di rumah, membuat kondisi semakin miris dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat, Lia N. Sukandar, menegaskan, “Semalam kami mendapati 4 pasien KLB keracunan datang lagi, padahal sebelumnya sudah dinyatakan membaik. Karena saya ikut menangani langsung, saya hapal betul wajah mereka,” ujar Lia, Jumat (26/9/2025).
Setelah mendapatkan perawatan, petugas melakukan anamnesa untuk mengetahui penyebab gejala berulang. Ternyata, perilaku pasien dan keluarga menjadi faktor utama.
Banyak pasien kembali sakit akibat mengonsumsi makanan atau minuman tidak higienis di rumah, seperti jeruk atau ayam goreng yang belum terjamin kebersihannya.
“Setelah ditanya, sebagian pasien diberi makanan sembarangan di rumah. Ada yang membeli ayam goreng, ada yang dimasak sendiri tanpa memperhatikan kebersihan. Hal ini memicu gejala berulang,” jelas Lia.
Untuk mencegah kondisi memburuk, Lia menginstruksikan seluruh petugas di posko GOR Kecamatan Cipongkor dan lokasi penanganan pasien KLB lain agar memberikan edukasi intensif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasien dan keluarga harus memahami aturan konsumsi makanan setelah dinyatakan membaik.
“Saya sudah wanti-wanti kepada petugas: pasien yang pulang wajib makan bubur yang dimasak sendiri dan menghindari makanan sembarangan. Jangan sampai mereka kembali jatuh sakit,” tegas Lia.
Hingga kini, posko GOR Kecamatan Cipongkor menampung 12 pasien keracunan massal, siap menerima pasien baru maupun mereka yang mengalami gejala berulang.
Situasi ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih memperhatikan higienitas MBG serta edukasi pascapulih pasien.
Hingga 26 September 2025, korban keracunan MBG di KBB mencapai 1.333 orang. Beberapa pasien kembali mengalami gejala di rumah akibat pola makan yang salah dan kurangnya edukasi keluarga mengenai konsumsi makanan aman. (red)





















