Di Balik Medali Emas: Krisis Kesehatan Mental Atlet Elite

Selasa, 18 November 2025 - 13:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kita memuji mereka sebagai pahlawan di podium. Namun, di balik medali emas, atlet elite seperti Simone Biles dan Naomi Osaka melawan krisis kesehatan mental yang serius. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kita memuji mereka sebagai pahlawan di podium. Namun, di balik medali emas, atlet elite seperti Simone Biles dan Naomi Osaka melawan krisis kesehatan mental yang serius. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita sering melihat atlet elite sebagai pahlawan super modern. Mereka adalah simbol kekuatan fisik dan mental yang tak terpatahkan. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, narasi “tak terkalahkan” ini mulai retak.

Secara spesifik, dua atlet wanita terkemuka membuat langkah berani. Pertama, bintang tenis Naomi Osaka mundur dari French Open untuk melindungi kesehatan mentalnya dari media. Kemudian, pemeran senam GOAT (Greatest of All Time), Simone Biles, mundur dari beberapa final Olimpiade Tokyo. Ia mengatakan bahwa ia harus memprioritaskan keselamatan mental dan fisiknya.

Tindakan mereka membuka mata dunia terhadap kebenaran yang sering terabaikan: di balik medali emas, ada krisis kesehatan mental yang serius dan nyata.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ekspektasi, Media Sosial, dan Identitas

Bagi atlet biasa, tekanan sudah berat. Namun, bagi atlet elite, tekanannya bersifat eksponensial dan datang dari tiga arah:

  1. Ekspektasi Publik: Pertama, ada ekspektasi publik yang tidak masuk akal. Media dan penggemar menuntut kemenangan di setiap kompetisi. Satu kekalahan saja bisa memicu gelombang kritik nasional.
  2. Cyberbullying: Kedua, era digital membawa cyberbullying. Setiap atlet kini memiliki akses langsung ke ribuan pesan kebencian di media sosial tepat setelah mereka mengalami performa buruk.
  3. Identitas Diri: Terakhir, dan mungkin yang paling merusak, adalah masalah identitas. Sistem melatih mereka sejak kecil bahwa nilai mereka sebagai manusia hanya terikat pada prestasi. Mereka berpikir, “Saya menang, maka saya berharga.” Akibatnya, ketika mereka gagal (atau meraih perak, bukan emas), mereka merasa sebagai individu yang gagal total.
Baca Juga :  Skandal Berkas Epstein: Misteri Redaksi Nama Besar

Pelatih Kasar dan Trauma yang Diabaikan

Sayangnya, tekanan eksternal ini seringkali diperburuk oleh budaya internal olahraga itu sendiri. Banyak cabang olahraga masih menganut budaya kepelatihan “gaya lama” yang toksik.

Misalnya, pelatih yang kasar secara verbal (atau bahkan fisik) masih orang anggap wajar sebagai “cara membangun mental juara”. Selain itu, para atlet ini seringkali memulai latihan intensif sejak usia sangat dini (usia 5 atau 6 tahun). Mereka secara efektif mengorbankan masa kecil mereka demi medali.

Oleh karena itu, sistem sering mengabaikan trauma. Sistem mengajarkan atlet untuk “diam dan terus berlatih” (shut up and train) bukannya mengatasi rasa sakit fisik atau emosional. Kita melihat ini dengan jelas dalam kasus pelecehan sistemik di senam AS yang para pelatih tutupi selama bertahun-tahun.

Baca Juga :  Densus 88 Soroti Ancaman Digital terhadap Anak, Literasi dan Deteksi Dini Diperkuat

Kehampaan Setelah Pensiun

Bahkan jika seorang atlet bertahan dari semua tekanan itu dan pensiun dengan sukses, krisis seringkali baru saja dimulai. Fenomena “depresi pasca-karier” sangat nyata.

Bayangkan, Anda mendedikasikan seluruh hidup Anda sejak usia 5 tahun untuk satu tujuan: Olimpiade. Kemudian, pada usia 30 tahun, semuanya selesai.

Para mantan atlet ini tiba-tiba kehilangan struktur harian mereka, kehilangan adrenalin kompetisi, dan yang terpenting, kehilangan identitas serta tujuan hidup mereka. Transisi ke “kehidupan normal” ini bisa sangat brutal secara psikologis.

Psikologi Setara dengan Fisik

Pada akhirnya, tindakan berani Simone Biles dan Naomi Osaka memberi kita pelajaran penting. Kita tidak bisa lagi memperlakukan atlet seperti robot gladiator yang kita rancang hanya untuk hiburan kita.

Kita telah menginvestasikan miliaran dolar untuk mendukung kesehatan fisik mereka—pelatih nutrisi, fisioterapis, dan dokter bedah terbaik. Akan tetapi, kita gagal total dalam mendukung kesehatan mental mereka.

Maka, sudah saatnya setiap organisasi olahraga menyediakan sistem pendukung psikologis yang setara dengan dukungan fisik. Kita harus menyediakan psikolog olahraga sebagai bagian standar dari tim. Sebab, tidak ada artinya memiliki tubuh terkuat di dunia jika pikiran yang mengendalikannya hancur.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Hancurkan Kamboja 5-1, Mitchell Baker Cetak Hattrick di Piala AFF 2026
Lionel Messi Tiba di Rosario Pasca-Kekalahan Final Piala Dunia
Spanyol Tekuk Argentina 1-0, La Roja Juara Dunia 2026
Madonna, BTS, dan Shakira Guncang Halftime Show Piala Dunia
Inggris Tekuk Prancis 6-4 Rebut Tempat Ketiga
Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Pramono Anung Dukung Argentina Juara Piala Dunia 2026, Siap Nobar di JIS

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 23:03 WIB

Indonesia Hancurkan Kamboja 5-1, Mitchell Baker Cetak Hattrick di Piala AFF 2026

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:58 WIB

Lionel Messi Tiba di Rosario Pasca-Kekalahan Final Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 06:34 WIB

Spanyol Tekuk Argentina 1-0, La Roja Juara Dunia 2026

Senin, 20 Juli 2026 - 05:28 WIB

Madonna, BTS, dan Shakira Guncang Halftime Show Piala Dunia

Minggu, 19 Juli 2026 - 21:25 WIB

Inggris Tekuk Prancis 6-4 Rebut Tempat Ketiga

Berita Terbaru

Serangan drone massal Ukraina menghantam sejumlah wilayah Rusia, merusak fasilitas gudang Wildberries, dan menewaskan sedikitnya delapan orang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Drone Ukraina Hantam Wilayah Rusia: 8 Orang Tewas

Selasa, 4 Agu 2026 - 15:08 WIB

Perusahaan Habita Inc. meminta maaf usai menyuruh dua karyawannya kembali ke dalam Mal Aeon Kashima pasca gempa Kumamoto hingga tewas akibat ledakan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang

Selasa, 4 Agu 2026 - 14:40 WIB

Pemerintah Australia memperingatkan potensi lonjakan penyebaran wabah flu burung H5N1 setelah menemukan kasus kematian massal pertama. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

Selasa, 4 Agu 2026 - 13:24 WIB