WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Panggung diplomasi di ibu kota Amerika Serikat bersiap menyambut kehadiran penguasa monarki Inggris. Presiden Donald Trump secara resmi mengonfirmasi rencana pertemuan dengan Raja Charles guna membahas berbagai isu global yang mendesak pada pekan depan.
Dalam konteks ini, kunjungan tersebut memiliki nilai historis yang luar biasa bagi kedua bangsa. Oleh karena itu, Washington dan London berupaya menggunakan momentum peringatan kemerdekaan ini guna merajut kembali kerja sama strategis yang sempat retak di tahun 2026.
Agenda Luas: Dari Selat Hormuz hingga Pajak Digital
Dalam wawancara telepon dengan Reuters pada hari Jumat, Presiden Trump menyatakan kesiapannya guna berdialog secara terbuka dengan sang Raja. Trump melabeli Raja Charles sebagai sosok sahabat baik dan individu yang luar biasa.
“Saya akan membicarakan segalanya,” tegas Trump. Secara khusus, diskusi akan mencakup tiga pilar utama:
- Konflik Iran: Mencari titik temu terkait strategi blokade maritim di Teluk.
- Masa Depan NATO: Menyelaraskan visi pertahanan kolektif di tengah ancaman penarikan pasukan AS.
- Ekonomi: Menyelesaikan sengketa pajak layanan digital yang diterapkan oleh pemerintah Inggris.
Bayang-bayang Krisis Suez 1956
Raja Charles melakukan kunjungan empat hari ini di tengah suasana diplomatik yang sangat tegang. Para pengamat menilai hubungan AS-Inggris saat ini merupakan yang terburuk sejak Krisis Suez tahun 1956 silam.
Rentetan kritik terbuka Donald Trump terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memicu kondisi ini. Trump secara konsisten mengecam penolakan Starmer guna bergabung dalam serangan militer terhadap Iran. Bahkan, Trump sempat mengeluarkan komentar meremehkan terhadap kapabilitas tempur militer Inggris. Ketidakharmonisan antara kepala pemerintahan kedua negara membuat peran Raja Charles sebagai diplomat tertinggi Inggris menjadi sangat krusial guna menjaga kedaulatan hubungan bilateral.
Ancaman Tarif dan Kedaulatan Fiskal London
Di sektor ekonomi, isu pajak layanan digital menjadi duri dalam daging bagi hubungan perdagangan kedua negara. Trump menganggap kebijakan pajak London tersebut sebagai tindakan diskriminatif terhadap raksasa teknologi asal Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai hasilnya, Trump secara eksplisit mengancam akan mengenakan tarif hukuman terhadap produk-produk ekspor Inggris. Akibatnya, pelaku usaha di Inggris kini berada dalam kecemasan tinggi terhadap potensi perang dagang transatlantik. Pemerintah Inggris berharap Raja Charles mampu membawa nada perdamaian guna melunakkan sikap transaksional Washington sebelum kebijakan tarif tersebut resmi berlaku pada tahun 2026 ini.
Jadwal Kunjungan: Virginia, New York, dan Pidato di Kongres
Raja Charles akan memulai rangkaian turnya di Virginia sebelum menuju pusat keuangan dunia di New York. Puncak dari kunjungan ini adalah pertemuan pribadi dengan Presiden Trump di Gedung Putih.
Terlebih lagi, Raja Charles akan menyampaikan pidato bersejarah di hadapan Kongres Amerika Serikat. Langkah ini bertujuan murni guna menekankan nilai-nilai kebebasan dan demokrasi yang telah menyatukan kedua bangsa selama 250 tahun. Pada akhirnya, keberhasilan misi ini akan menjadi barometer apakah aliansi “Special Relationship” mampu bertahan melewati badai geopolitik paling hebat di abad ke-21.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















