Raja Charles Kunjungi Washington di Tengah Krisis Hubungan AS-Inggris

Minggu, 26 April 2026 - 16:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Langkah keterbukaan monarki Inggris. Raja Charles III memilih menetap pada Clarence House dan merilis rincian laporan pajak pribadi untuk pertama kali sejak naik takhta. Dok: Istimewa.

Langkah keterbukaan monarki Inggris. Raja Charles III memilih menetap pada Clarence House dan merilis rincian laporan pajak pribadi untuk pertama kali sejak naik takhta. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Panggung diplomasi di ibu kota Amerika Serikat bersiap menyambut kehadiran penguasa monarki Inggris. Presiden Donald Trump secara resmi mengonfirmasi rencana pertemuan dengan Raja Charles guna membahas berbagai isu global yang mendesak pada pekan depan.

Dalam konteks ini, kunjungan tersebut memiliki nilai historis yang luar biasa bagi kedua bangsa. Oleh karena itu, Washington dan London berupaya menggunakan momentum peringatan kemerdekaan ini guna merajut kembali kerja sama strategis yang sempat retak di tahun 2026.

Agenda Luas: Dari Selat Hormuz hingga Pajak Digital

Dalam wawancara telepon dengan Reuters pada hari Jumat, Presiden Trump menyatakan kesiapannya guna berdialog secara terbuka dengan sang Raja. Trump melabeli Raja Charles sebagai sosok sahabat baik dan individu yang luar biasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya akan membicarakan segalanya,” tegas Trump. Secara khusus, diskusi akan mencakup tiga pilar utama:

  1. Konflik Iran: Mencari titik temu terkait strategi blokade maritim di Teluk.
  2. Masa Depan NATO: Menyelaraskan visi pertahanan kolektif di tengah ancaman penarikan pasukan AS.
  3. Ekonomi: Menyelesaikan sengketa pajak layanan digital yang diterapkan oleh pemerintah Inggris.
Baca Juga :  Tolak Makan, Bocah di Bojonggede Tewas Dipukul Ibu Tiri Sejak Awal Oktober

Bayang-bayang Krisis Suez 1956

Raja Charles melakukan kunjungan empat hari ini di tengah suasana diplomatik yang sangat tegang. Para pengamat menilai hubungan AS-Inggris saat ini merupakan yang terburuk sejak Krisis Suez tahun 1956 silam.

Rentetan kritik terbuka Donald Trump terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memicu kondisi ini. Trump secara konsisten mengecam penolakan Starmer guna bergabung dalam serangan militer terhadap Iran. Bahkan, Trump sempat mengeluarkan komentar meremehkan terhadap kapabilitas tempur militer Inggris. Ketidakharmonisan antara kepala pemerintahan kedua negara membuat peran Raja Charles sebagai diplomat tertinggi Inggris menjadi sangat krusial guna menjaga kedaulatan hubungan bilateral.

Ancaman Tarif dan Kedaulatan Fiskal London

Di sektor ekonomi, isu pajak layanan digital menjadi duri dalam daging bagi hubungan perdagangan kedua negara. Trump menganggap kebijakan pajak London tersebut sebagai tindakan diskriminatif terhadap raksasa teknologi asal Amerika Serikat.

Baca Juga :  Aksi Teror Gagal, Satgas Damai Cartenz Tindak Cepat Percobaan Penembakan di Dekai

Sebagai hasilnya, Trump secara eksplisit mengancam akan mengenakan tarif hukuman terhadap produk-produk ekspor Inggris. Akibatnya, pelaku usaha di Inggris kini berada dalam kecemasan tinggi terhadap potensi perang dagang transatlantik. Pemerintah Inggris berharap Raja Charles mampu membawa nada perdamaian guna melunakkan sikap transaksional Washington sebelum kebijakan tarif tersebut resmi berlaku pada tahun 2026 ini.

Jadwal Kunjungan: Virginia, New York, dan Pidato di Kongres

Raja Charles akan memulai rangkaian turnya di Virginia sebelum menuju pusat keuangan dunia di New York. Puncak dari kunjungan ini adalah pertemuan pribadi dengan Presiden Trump di Gedung Putih.

Terlebih lagi, Raja Charles akan menyampaikan pidato bersejarah di hadapan Kongres Amerika Serikat. Langkah ini bertujuan murni guna menekankan nilai-nilai kebebasan dan demokrasi yang telah menyatukan kedua bangsa selama 250 tahun. Pada akhirnya, keberhasilan misi ini akan menjadi barometer apakah aliansi “Special Relationship” mampu bertahan melewati badai geopolitik paling hebat di abad ke-21.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:08 WIB

Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai

Berita Terbaru

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB