TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyepakati penguatan kerja sama sektor energi dan keamanan maritim. Sebab, Jepang sangat membutuhkan diversifikasi pasokan energi di tengah berkecamuknya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Kedua pemimpin menyampaikan komitmen tersebut secara langsung setelah menyelesaikan pembicaraan tingkat tinggi di Tokyo pada hari Rabu. Oleh karena itu, penandatanganan dokumen kerja sama penjaga pantai menjadi langkah nyata untuk menjamin kelancaran pelayaran regional. Sementara itu, Takaichi menegaskan visi bersama untuk mewujudkan kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Langkah ini sekaligus mengimbangi perluasan pengaruh militer Tiongkok yang kian agresif di Asia Tenggara.
Jaminan Energi di Tengah Krisis Selat Hormuz
Pertemuan penting ini berlangsung di akhir kunjungan kenegaraan tiga hari Perdana Menteri Anwar Ibrahim ke Jepang. Selain itu, momentum ini berjalan menjelang perayaan hari jadi ke-70 hubungan diplomatik kedua negara pada tahun depan. Penutupan Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu kekhawatiran besar bagi industri Jepang. Dengan demikian, Malaysia berkomitmen menjaga stabilitas pasokan gas alam cair (LNG) dan nafta ke pabrik-pabrik Jepang secara konsisten.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Malaysia saat ini memegang peran sangat vital karena menyumbang sekitar 15 persen pasokan LNG bagi Jepang. Namun, jalur pelayaran minyak mentah menuju Jepang juga harus melewati Selat Malaka yang berada di bawah pengawasan Malaysia. Oleh sebab itu, kedua negara sepakat untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis guna mendukung industri manufaktur masa depan. Mereka juga meluncurkan Platform Kecerdasan Buatan (AI) Jepang-Malaysia untuk menyokong pertumbuhan perusahaan teknologi lokal secara berkelanjutan.
Ekspansi Kerja Sama Pertahanan dan Militer
Di sektor pertahanan, Anwar Ibrahim menyambut hangat perubahan kebijakan ekspor peralatan militer Jepang yang berlaku sejak April lalu. Sebab, aturan baru tersebut memungkinkan Jepang mengirimkan teknologi pertahanan berkemampuan mematikan kepada beberapa negara mitra strategis. Di sisi lain, Jepang terus melanjutkan program Bantuan Keamanan Resmi (OSA) dengan menyalurkan kapal penyelamat serta drone pengawas. Pada akhirnya, Takaichi berharap kolaborasi erat ini mampu meningkatkan kemandirian dan daya tahan keamanan nasional kedua belah pihak.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












