Matinya Museum, Kebangkitan Seni Imersif dan Instagrammable

Rabu, 17 Desember 2025 - 06:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Museum sunyi sudah ketinggalan zaman? Gen Z kini menyerbu pameran seni digital yang

Ilustrasi, Museum sunyi sudah ketinggalan zaman? Gen Z kini menyerbu pameran seni digital yang "Instagrammable". Simak debat antara pendangkalan seni dan demokratisasi budaya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bayangan kita tentang museum biasanya seragam. Lorong-lorong sunyi, benda-benda kuno di balik kaca tebal, dan tanda “Dilarang Menyentuh” di mana-mana. Namun, gambaran kaku itu kini perlahan runtuh.

Dunia seni sedang mengalami revolusi visual. Pameran seni digital yang imersif meledak di seluruh dunia. Contohnya, pameran TeamLab dari Jepang atau Van Gogh Alive yang memukau jutaan mata.

Pengunjung tidak lagi sekadar melihat lukisan mati di dinding. Sebaliknya, mereka masuk ke dalam lukisan itu sendiri. Cahaya, suara, dan teknologi proyeksi menyatu, menciptakan pengalaman yang hidup dan bergerak di sekeliling mereka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Generasi Visual dan Latar Foto

Mengapa tren ini begitu meledak? Jawabannya terletak pada demografi pengunjung. Generasi Z dan Milenial adalah generasi visual yang hidup di media sosial.

Bagi mereka, pengalaman seni belum lengkap jika tidak bisa mereka bagikan di Instagram atau TikTok. Oleh karena itu, nilai sebuah pameran sering kali bergantung pada seberapa “Instagrammable” tempat tersebut.

Baca Juga :  Jejak Kuno Sepak Bola: Evolusi dari Tradisi Tiongkok Tsu’chu Menuju Kelahiran Football Association

Seni imersif memenuhi dahaga ini dengan sempurna. Cahaya warna-warni dan ruang interaktif menjadi latar foto yang estetik. Lantas, pengunjung rela antre berjam-jam bukan untuk merenungi makna filosofis karya, melainkan untuk mendapatkan angle foto terbaik demi konten.

Pendangkalan atau Demokratisasi?

Fenomena ini memicu perdebatan sengit di kalangan kritikus seni. Kaum puritan menuduh tren ini sebagai pendangkalan seni (shallow art).

Mereka menilai karya seni telah terdegradasi fungsinya. Dulu, seni adalah objek kontemplasi jiwa. Kini, seni hanya menjadi wallpaper atau latar belakang selfie semata.

Akan tetapi, pandangan lain menawarkan perspektif positif. Seni imersif dianggap sebagai bentuk demokratisasi. Pameran jenis ini meruntuhkan tembok elitisme galeri seni yang sering kali mengintimidasi orang awam.

Seni menjadi lebih mudah diakses, menyenangkan, dan tidak berjarak. Akibatnya, orang yang tidak pernah ke museum pun kini mau datang dan menikmati keindahan visual, meskipun motivasinya berbeda.

Baca Juga :  Bom Molotov di Koja Berhasil Diungkap, Polisi Dalami Peran 2 Pelaku

Museum Sejarah Melawan Balik dengan VR

Institusi museum sejarah yang “kuno” menyadari ancaman ini. Mereka tahu bahwa benda mati di etalase kaca tidak lagi cukup untuk menarik minat anak muda. Maka, mereka mulai beradaptasi.

Museum-museum besar mulai mengadopsi teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR). Pengunjung bisa melihat kerangka dinosaurus “hidup” kembali lewat layar ponsel. Atau, mereka bisa berjalan-jalan di kota Romawi kuno menggunakan kacamata VR.

Teknologi ini menjembatani jurang antara edukasi dan hiburan. Dengan begitu, sejarah tidak lagi terasa membosankan, tetapi menjadi petualangan interaktif yang seru.

Keseimbangan Edukasi dan Hiburan

Pada akhirnya, museum harus berevolusi agar tidak mati ditinggalkan zaman. Matinya museum kuno bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari babak baru.

Tantangan utamanya adalah mencari keseimbangan. Pengelola harus memadukan unsur hiburan visual yang menarik mata dengan edukasi mendalam yang mengisi otak. Ingatlah, museum yang baik adalah museum yang mampu membuat pengunjungnya pulang membawa pengetahuan baru, bukan sekadar memori ponsel yang penuh foto.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop
Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off
Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan
Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2
Novel Baru Dragonlance War Wizard Rilis Agustus
Adaptasi Film The Odyssey Tuai Kritik Keras dari Penerjemah
Avengers: Doomsday Pamerkan Robert Downey Jr. Sebagai Doctor Doom
Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:22 WIB

Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop

Jumat, 24 Juli 2026 - 06:30 WIB

Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off

Selasa, 21 Juli 2026 - 12:32 WIB

Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:30 WIB

Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:30 WIB

Novel Baru Dragonlance War Wizard Rilis Agustus

Berita Terbaru

Langkah baru pengembangan game Soulslike. Sutradara Xia Siyuan mendirikan studio Chengdu Indolphinity guna menggarap sekuel Wuchang: Fallen Feathers bersama 505 Games. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Penerbit 505 Games Resmi Mengumumkan Sekuel Wuchang

Jumat, 31 Jul 2026 - 06:03 WIB

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB