FRANKFURT, POSNEWS.CO.ID – Selama berabad-abad, sains dipuja sebagai cermin yang memantulkan realitas secara objektif tanpa cacat. Namun, di tahun 2026, sebuah kesadaran baru semakin menguat: ilmu pengetahuan bukanlah ruang hampa yang suci. Dalam konteks ini, Post-Positivisme dan Teori Kritis hadir untuk menelanjangi bias yang tersembunyi di balik jas putih laboratorium dan rumus matematika.
Langkah intelektual ini bertujuan untuk memanusiakan kembali ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, memahami kritik terhadap Positivisme adalah kunci untuk melihat mengapa “kebenaran” di era modern selalu bersifat politis dan sosial.
Kritik Mazhab Frankfurt: Sains sebagai Alat Dominasi
Pilar utama kritik terhadap Positivisme datang dari para pemikir Mazhab Frankfurt, seperti Max Horkheimer dan Theodor Adorno. Secara khusus, mereka memperkenalkan konsep “Teori Kritis” untuk melawan “Teori Tradisional” yang hanya fokus pada pengumpulan fakta.
Horkheimer berargumen bahwa Positivisme telah mengubah akal budi menjadi Rasio Instrumental. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan hanya peduli pada “bagaimana cara melakukan sesuatu” (efisiensi), namun mengabaikan pertanyaan moral tentang “mengapa kita melakukannya”. Akibatnya, masyarakat modern terjebak dalam sistem teknokrasi di mana manusia dikendalikan oleh data statistik. Bagi Teori Kritis, Positivisme bukan sekadar metode sains, melainkan ideologi yang melanggengkan status quo dan membungkam suara-suara marginal demi keteraturan yang semu.
Runtuhnya Mitos Objektivitas: Pengakuan Bebas Nilai
Salah satu poin paling radikal dari Post-Positivisme adalah penolakan terhadap konsep Value-Free Science atau sains bebas nilai. Bahkan, filsuf sains seperti Thomas Kuhn dan Paul Feyerabend membuktikan bahwa latar belakang budaya, bahasa, dan keyakinan peneliti memengaruhi hasil observasi mereka.
Fenomena ini dikenal sebagai Theory-Ladenness of Observation. Oleh sebab itu, seorang peneliti tidak pernah bisa menjadi pengamat netral yang berada di luar objek penelitiannya. Setiap data yang kita pilih untuk diukur mencerminkan nilai-nilai yang kita anggap penting. Di tahun 2026, pengakuan atas subjektivitas ini dianggap sebagai bentuk kejujuran intelektual. Kita mulai menyadari bahwa klaim “objektivitas murni” sering kali hanyalah tameng untuk menyembunyikan kepentingan politik tertentu di balik otoritas sains.
Kebangkitan Pendekatan Kualitatif: Mencari Makna di Balik Angka
Dominasi metode kuantitatif yang mengagungkan statistik kini mulai diimbangi oleh pendekatan kualitatif. Secara khusus, peneliti menyadari bahwa angka-angka sering kali gagal menangkap kompleksitas emosi dan pengalaman manusia yang unik. Sebagai hasilnya, studi etnografi, wawancara mendalam, dan analisis wacana kini menempati posisi sentral dalam ilmu sosial kontemporer.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pendekatan kualitatif tidak berusaha mencari hukum alam yang universal seperti Fisika. Sebaliknya, metode ini berupaya melakukan Verstehen atau pemahaman mendalam terhadap makna tindakan manusia. Terlebih lagi, di era Kecerdasan Buatan (AI) tahun 2026, kemampuan untuk menginterpretasikan konteks menjadi lebih berharga daripada sekadar kemampuan memproses data mentah. Angka bisa memberi tahu kita apa yang terjadi, namun hanya pendekatan kualitatif yang mampu menjelaskan mengapa hal itu berarti bagi kehidupan kita.
Menuju Sintesis Pengetahuan yang Emansipatoris
Masa depan ilmu pengetahuan bergantung pada kemampuan kita untuk mengintegrasikan presisi data dengan kedalaman kritik sosial. Pada akhirnya, melampaui Positivisme berarti kita berani mempertanyakan siapa yang diuntungkan oleh sebuah penemuan ilmiah.
Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak ilmuwan yang tidak hanya ahli dalam kalkulasi, tetapi juga peka terhadap isu ketidakadilan. Post-Positivisme mengajarkan kita bahwa pengetahuan sejati harus bersifat emansipatoris—membebaskan manusia dari penindasan, bukan justru membelenggunya dalam dinginnya angka. Di tahun 2026, kebenaran bukan lagi soal menangkap bayangan di dinding gua, melainkan soal keberanian untuk membongkar struktur kekuasaan yang membentuk cara kita melihat cahaya tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















